sketsa kasar: dialog senja



Saat senja menyapa, saat kau mulai terlihat dan tersinari olehnya..
Saat senja menyapa, saat aku mulai melihatmu lewat sinarnya..
Aku,, berlian.. dan kau… karang..

Berlian: Hari ini aku ingin menulis banyak hal. Tapi berpikir untuk menulis membuatku kehilangan energy yang sangat dan teramat banyak. Membicarakan banyak hal tentang diri sendiri, bener – bener menguras energi. Jika tak ingin, maka apapun yang dilakukan tak akan pernah maksimal. Magnet yang terlalu besar, aku banyak tak mengerti, dan kutahu ini tak baik. Kalau kau tak mengerti juga, tetap saja di situ dan anggap apa yang pernah terlihat oleh inderamu sama sekali tak pernah ada. Hidup selalu punya banyak pilihan, tapi kau telah menekanku untuk hanya memiliki satu pilihan, jadi aku tak akan biarkan kau pusing dengan banyak pilihan yang malah membuatmu menjadi tawar dan beku. Biar ku tawarkan satu pilihan, pilihan yang akan membuat kita sama – sama bebasnya, dan sama – sama tidak enaknya. Kalau kau tetap tk bergeming, maka aku tak akan pernah beranjak. Sampai kapanpun.

Karang: maaf, walau ini terlalu mudah untukku jawab. Masih aku pikirkan cara untuk tetap membuatmu merasa nyaman, tak bermaksud membuatmu tersiksa dengan hantaman pertanyaan di hatimu, aku sudah menjawabnya berlian.. tapi aku tak cukup berani untuk mendatangimu, aku tak cukup tega untuk melihat kekecewaan di wajahmu. Lalu bagaimana? Akupun bingung. Hidup dengan semua pilihannya, terlalu tawar untuk kurasakan. Yah.. aku sekarang sadar,, tak bisa ku bilang ini mudah, nyatanya aku tak pernah berani bersuara di depanmu. Aku hanya dapat berharap suatu saat kau akan mengerti dan mulai lelah untuk tetap tinggal. Maaf kalau aku membuatmu menggigil di tepi pantai. Kemudian lewat ombak.. ku mencoba untuk mengusirmu. Pergilah,,,, dan jangan menoleh!. Jejakmu akan segera terhapus oleh ombak kecil nanti.. setelah itu ku berharap kau akan jauh lebih tegar. Mengenai pilihan yang kau tawarkan, sudah aku jawab.. iya dan tidak.. jangan paksa aku untuk membuat satu jawaban. Biarkan aku sedikit berbangga dengan dialog yang sering kau lakukan bersamaku, walaupun kau tak pernah bisa mengerti dengan diamku.

Berlian: karang, aku tak lelah, aku tak gemetar, aku tak beku dengan ombak di pantai ini. Aku tak akan beranjak karang, sampai kau bersuara. Jangan paksa aku untuk menebak, apa yang tersirat dari diammu. Aku cukup sakit untuk membuat kesimpulan yang bernalar, aku cukup sakit untuk membuat kesimpulan yang cukup mencekikku. Atau kau ingin membunuhku bersama dalam buih – buih yang tak berarti. Tidakkah ini terlalu kejam? Telingaku tak cukup hebat untuk mendengarkan suara diam-mu. Ntah bagaimana caranya, aku cukup bebal dengan ombak di ujung kakiku. Ya tuhan.. ini bener – bener suatu kebodohan. Di luar nalar, bagaimana kau bisa tetap diam begitu angkuh? Prasangka.. aku sudah muak dengan prasangka. Karang berkatalah… kau tahu kenapa mataku tak pernah sedikitpun berhenti melihat ke arahmu? Aku takut karang, lautan ini akan menculikmu dari depanku. Jadi karang.. aku mohon berkatalah.

Karang: cobalah untuk berpikir rasioanal, pikirkan yang terbaik buat kamu. Jangan mengandalkan waktu untuk menunggu jawaban dariku. Ombak besar di malam hari telah banyak mengambil suaraku hingga tak tersisa untukmu, bagaimana aku tahu bahwa kau tak sedikitpun memindahkan pandanganmu dariku? Aku tak pernah tahu..maaf, aku tak pernah bisa menoleh ke arahmu. Ombak di depan memang telah menculik roh dari jasadku. Tak bisa kupungkiri, aku memang sedang menomorduakan kehadiranmu. Siapa yang salah? Lebih bijak dengan menganggap kita sama – sama salahnya, kau tak bisa mengendalikan ombak di hatimu. Dan akuuu… aku sudah cukup sibuk dengan ombak di depanku. Begini.. membuatku jadi serba salah.


saat senja menyapa.. saat wajahmu mulai terihat oleh mataku..
saat aku mulai tertegun... di batas sapaan ombak sore ini,

"aku tak akan beranjak... karang.." 

tis.. tis.. berlian menangis.. berusaha memegangi hatinya.. sesak, 

Leave a Reply