Perbuatan itu adalah biji yang akan berbuah.

Mungkin sudah seringkali kita mendengar pesan dari banyak orang mengenai kesuksesan “berusaha dan berdo’a”, mungkin juga kita sudah mendengar “man jadda wajada” atau “barang siapa yang bersungguh – sungguh maka jadilah”. Namun sayangnya tak banyak orang yang bisa melakukannya dikarenakan mereka tak “benar – benar mengerti” apa maksud dari kedua pesan tersebut.
Ada beberapa jenis orang dalam menanggapi kesuksesan dan kegagalan hidup.
  1. Malas dan suka mencari alasan
Malas, melakukan usaha sekenanya dan berdo’a sebanyak – banyaknya. Setelah melakukan kedua hal tersebut dia akan bilang “aku sudah berusaha, dan kuserahkan semuanya pada Allah, kalo nggak berhasil, berarti takdirku memang begitu, aku nggak mau terlalu menforsir diri dalam mencapai sesuatu, kemampuanku segitu, hidup kan bukan Cuma untuk itu”.
  1. Malas dan aneh
Usaha tidak, berdo’apun juga tidak. Katanya “biar aku mengikuti air yang mengalir, hidup harus dinikmati bukan dibikin susah” Gedubrak.
  1. Terlalu Logis
Logis, segala sesuatunya didasarkan pada akal. Berpikir bahwa sukses harus diraih dengan usaha terbaik. Kerja membabi buta lalu menjadi lalai dalam sholat dan enggan mengaji dan mengkaji agama. Merasa bahwa kegiatan agama akan mengambil banyak waktunya untuk belajar atau mengerjakan tugas kuliah. Tapi untuk hal makan, mandi dan tidur tak pernah lupa, katanya itu untuk menunjang kegiatan belajar lewat stamina tubuh.
  1. Ideal
Ideal, adalah orang yang tak hanya berpikir lurus pada satu hal, disamping berusaha, di situ juga ada do’a. melakukan usaha terbaik namun tak terlalu focus disitu. Tak melulu belajar, tapi ada waktu untuk hak – hak hidup yang lain, tubuh untuk diistirahatkan dan dijaga kebersihan dan kesehatannya, serta kebutuhan ruhiyah yang dipenuhi. Berpikir bahwa berdo’a bukan sekedar “meminta”, namun juga harus disertai dengan “iman dan takwa”, menghindarkan diri dari maksiat, melakukan segala perintahNYA, dan melakukan hal – hal baik dengan tulus. Biasanya orang tipe ideal ini, hidupnya akan lebih tentram dan damai. Kalopun tak berhasil dalam meraih satu mimpinya, maka dia akan bisa mengambil hikmahnya dan bersabar. Ketika berhasil, banyak ucapan syukur yang keluar dari lisan dan perbuatannya.


Bahwa perbuatan itu adalah biji yang akan berbuah (Abdullah, 2012), apa maksudnya? Perbuatan itu linier dengan hasil akan dicapai (Mintadi, 2012). Apaan lagi neh? Hihiii..

Maksudnya, ketika “perbuatan” kita baik, maka InsyaAllah akan baik pula hasil yang kita peroleh. Perbuatan itu adalah biji yang akan berbuah, ntah buah itu nantinya akan seperti apa. Dan karena perbuatan itu linear dengan hasil, maka ketika biji itu baik, maka biji yang baik itu akan terus berkembang menjadi suatu buah yang baik pula. Begitu juga sebaliknya, ketika biji itu buruk, maka buah yang akan diperoleh juga buruk.


Lalu, apa yang ingin aku sampaikan? Aku hanya ingin share, agar kita tidak terlalu hawatir dengan hasil yang akan kita peroleh, hasil bisa kita rencanakan sendiri, karena hasil akan mengikuti perbuatan kita.

man jadda wajada”
Barang siapa yang bersungguh – sungguh, maka jadilah”

copast inti tausiah Ustad RK “lakukan yang terbaik, selebihnya itu urusan Allah”

Khusus kudedikasikan pada diriku yang sangat takut dengan”kegagalan”, juga untuk pelajar yang sangat hawatir dengan “nilai” suatu matakuliah, melakukan banyak cara untuk memperoleh nilai yang tinggi dengan menjatuhkan “kepercayaan” pada diri sendiri.

Terimakasih untuk orang – orang yang “menginspirasi”:
Ibuku (Muslimah), Bapakku (Abdullah), dosenku (Drs. Mukh. Mintadi M.Sc), dan pangeran (RK)

** note: Perbuatan = usaha dan do’a.
Hasil yg baik = keadaan terbaik.

Leave a Reply