Bahwa matahari tak seperkasa yang ku kira

Matahari,,
Panasmu, membakar jiwa – jiwa yang kering nan tandus,
Cahayamu, menerangi gelapnya partikel – partikel penyusun kehidupan,,
Energimu, mengalirkan darah merah yang seringkali memucat di ujung lelahnya langkah.

Matahari,
Panasmu, sebagai pengering baju di jemuran tak beratap,
Cahayamu, sebagai lampu untuk melihat rupa dunia
Energimu, sebagai penggerak segala reaksi hidup.

Matahari,
Hebat nian keberadaanmu di muka bumi,
Sirnalah segala rasa takut dan suram dalam hati,
Bahkan di dalam dasar lautan,
Kau menyentuh semua komponen kehidupan dengan sebegitu gagahnya..

Bumiku yang hijau,
Langitku yang biru,
Air tawar yang jernih,
Gerakan ikan yang lincah,
Nampak begitu hidup dengan kehadiranmu, matahari.

Matahari, sekarang engkapun masih ada, berdiri gagah di atas sana,
Namun apa yang terjadi, wajah – wajah hidup menjadi tak berseri lagi,
Langit biruku yang mulai berkabut abu – abu..
Bumi hijauku yang mulai berabu,,
Air jernih menjadi keruh
Ikan – ikan lincah berangsur punah..

Ah, rupanya kau tak seperkasa yang aku pikir,
Hanya dengan hadangan kekeruhan, kau tak bisa selamatkan ikan,
Hanya dengan hadangan kabut, kau tak bisa selamatkan bumi,

Satu harapan, punah dengan kepinteran.
Selamat, manusia.
Telah kalahkan gagahnya matahari.

Satu ungkapan kesedihan atas matahari yang mulai terkalahkan, aku hanya ingin meminta pada kita “manusia”
Selamatkan bumi, dan sisakan langit biru untuk anak cucu”








Leave a Reply