Tentang
apa yang sebenarnya terjadi
Ini
membuatku sesak
Kenapa
harus tanpa penyelesaian
Tak
tahukah kau, bahwa ini telah sangat melukaiku
Meneteskan
air mata di antara bisingnya kendaraan yang berlalu lalang
Tanpa
sempat kau bertanya, mengapa aku begini
Atau
sebennarnya memang tak ingin menyempatkan diri.
Aku
mulai terlanjur sering melakukan kebodohan
Kebodohan
atas rasa tidak menerima
Kebodohan
atas kekecewaan yang teramat tawar
Bahkan,
sedikitpun kau tak ingin membahasnya
Kenapa
harus suka melempar batu dan kemudian sembunyi tangan
Kenapa
selalu tak mengerti bahwa aku ingin kau membahasnya
Agar
kering luka ini, agar sudah sedih ini
Kau
membuatku berlari terlalu kencang
Tanpa
arah yang pasti
Lari
seolah – olah sedang ketakutan
Sambil
menutup mata, memegang dada, dan meremukkan kepalan tangan
Menerobos
udara tanpa ingin berhenti
Tak
tahukah kau, betapa lelahnya aku?
Dan
kau mulai tertawa dan berpikir bahwa betapa bodohnya aku
Perih
saat setetes air mataku mulai jatuh
Mempermainkan
diri ndiri karena orang lain yang sepantasnya dianggap tidak ada
Tak
tahukah kau, betapa sadis ini semua untukku
Berlari
setiap hari dari kenangan – kenangan yang terlalu nyata di depan mata
Dan
kau terus menganggapnya sebagai suatu kebodohan.
Kalau
ini memang kebodohan, aku berharap kebodohan ini yang akan membawaku pada
sesuatu yang tidak rasional
Sesuatu
yang tak akan pernah terpikirkan oleh siapapun, bahkan oleh diriku ndiri.
Ntah
kenapa aku sama sekali tak ikhlas kau menjadikanku sebagai perantara, ntah
kenapa hatiku menjadi sangat tidak ikhlas dengan melakukan ini, membuatku
menjadi orang bodoh yang menyedihkan dengan kau tersenyum tanpa beban.
Jika
ini memang kebodohan, aku tidak bisa berharap apa – apa.
Dan
pada saatnya kau akan mengerti arti dari “takut berharap”
Itu
jauh lebih menyakitkan dari sekedar rasa atas fakta yg kau perlihatkan.
Kau..
harus mengerti tentang arti dari rasa takut itu.
