Beautiful memory of love, laugh,and hug


Yang tersayang
Mbaaaak,, hahaha,, lihat.. wek wek wek.. (badan meniru tengkorak)
Adek!!! Jijik tau?!

Hahahaha, 

     Mbak, mesti adek begitu, selalu iri padaku
     Mbak, aku ingin kepiting
     Mbak, aku tidak mau kalo kepitingnya dibelikan sama nenek
     Mbak, katanya SMANJ labnya lengkap? Seharusnya sudah bisa bikin sesuatu

Mbak, pulkam kok sering mendekam di rumah,
Sudah sehat tapi gag manfaatin
Coba kalo fisikku memungkinkan,
Aku pasti sudah kemana2 cari pengalaman
Selama ini, aku hanya bisa cari pengalaman lewat Tipi

     Mbak, sekali aku diajari dasarnya dan mengerti
     Maka soal sesulit apapun pasti bisa ku kerjakan
     Aku suka matematika dan Fisika
     Bagiku, bhs Indonesia adalah soal tergampang
     Jawabannya pasti disediakan di paragraph

8x4 berapa nak?
30
Abbegh,, yakin?
Iya yakin.

     Lul, 8x4 berapa nak?
     32
     30!
     32 mbak
     Uufth (sebel)

Ckckckk, sebel banget sama adekku yang satu itu, selalu aku kalah dalam hal matematika, padahal aku ya lebih dulu diajari, kelasnya kan lebih tinggi aku. Tapi ya tetap aja yang kalah.

Hmmmnn Hasan Saiful Ulum, sebuah nama yang akan selalu aku lihat setiap ingin menyerah, setiap kali aku mengeluh, setiap aku sembarangan meletakkan barang. Adekku yang paling cakep. Paling pinter, paling teliti, dan paling kurus. Apatah lagi yang ingin dikata, saat masih belum ada adek – adek yang lain, teman bermainku di dalam rumah hanya dia, ibu, dan bapak. Setiap belajar, aku akan ditemani bapak, dan dia akan ditemani ibu tapi tetap dalam satu waktu dan satu ruangan. Seringkali aku dongkol tingkat ekstrim saat dia bisa menjawab pertanyaan PR-ku yang tidak bisa aku jawab. Jaim lah, masa’ iya mbak kalah sama adek. Saat dia dengan puas bisa menjawab, dia akan masang tampang takut (hehehe), ibu senyum – senyum dan bapak akan semakin ngece.. “kok bisa kamu kalah sama adeknya nak?? Yang teliti lah, jangan terburu – buru” dibarengi dengan ketawa yang semakin bikin aku dongkol setengah idup (dasar bapak!,usil)

Tapi bagaimanapun, itu adalah kenangan yang sangat manis,, sangat manis.  Bapakku akan memelukku dan mengusap – usap kepalaku sambil berkata “hoooo,, nggak boleh marah nak, nanti belajar lagi, fir itu bukan gak bisa, hanya saja tadi terburu – buru jawabnya, makanya salah”, adekku akan bersikap tidak enak padaku,dia sangat menghargaiku, dan ibuku tidak akan menjadikan itu sebagai masalah.

Saat keluar rumah, aku akan bermain sodor, petak umpet, karet, settengan, kasti dan lain – lain. Dia Cuma diem dan mensupportku setiap aku melakukan gerakan, ibuku akan ketawa saat aku melakukan keluguan dalam bermain. Dan ketika malam tiba, ibuku akan menceritakan aktivitas lucuku siang tadi.

Subhanallah,, kangen masa – masa itu ya Allah.. walau ku tetap bersyukur, Kau gantikan dia dengan adek bungsu yang super duper nggemesin,, adek – adekku yang lain semuanya menyenangkan, ibu – bapakku masih selalu ada untuk menemani belajar kami,ibu masih suka bercerita pada bapak tentang aktivitas kami, bapak masih selalu membesarkan memotivasi kami, aku bersyukur ya Allah, tapi sungguh kadang aku masih ingin menangisinya, masih rindu.
Ya Allah, semoga hidupnya di “sana” jauh lebih baik daripada di dunia yang mana dia selalu memanggung sakit, sakit yang dirasakan akibat “lemah jantung”. 

Dia adekku, Alm. Hasan saiful ulum, yang meninggal pada usia baru memasuki usia baligh.


Leave a Reply