Satu (hanya) mimpi
Suara kereta api di stasiun depan kontrakan
Mengajak naluriku untuk ikut bepergian
Menikmati hijaunya tanaman padi dari tempat duduk yang
terasa ikut berjalan
Memperhatikan wajah orang – orang yang ketiduran
Ah, ini hanyalah suatu penggambaran
Jika aku
kemudian tersadar,
Maka aku
akan melihat kertas – kertas yang berantahkan
Penuh dengan
coretan – coretan tawar
Seperti rangkaian
ekspresi yang mengenaskan
Bagaimana kemudian alurnya
Seperti kumpulan gulungan kabel yang tak rapi
Berkali – kali terjebak di satu sisi yang sama
Sepertinya lelah, sepertinya tak yakin dengan diri
Kini aku berada di satu titik
Tersesat dengan
gerimis di pertengahan hari
Menutup mata,
rasanya ingin menyerah saja
Ah, rupanya untuk menyerahpun aku tak tahu caranya
Payah!
Payah!
Tempat ini mungkin sudah begitu jauh
Jauh, jauh, jauh, sangat jauh
Jauh dari diriku
Jauh dari kertas – kertasku
Ah,
ntahlah
Apa yang
terjadi?
aku masih
terus berjalan dengan kedua tangan terentang
dan tentu saja dengan mata
tertutup
Gerimis ini menjadi begitu romantis
Bahkan anginpun menyapa pipiku dengan sangat dramatis
Menyisakan pelangi yang mungkin begitu manis
Di sudut hati yang terasa statis
Aku tidak
tahu
Aku tidak
tahu
Aku sungguh
tidak tahu
Dan kupikir senja telah datang
Kicauan burungpun juga sudah mulai merendah
Tinggal aku yang masih berdiri di bawah langit
Mengikuti arah suara kereta api
Hingga dingin
malam mulai menyapa
Aku rasa sudah berada tepat di stasiun pemberhentian terakhir
Dan baru
aku tahu, rupanya aku hanya ingin duduk
Duduk di salah
satu kursi stasiun ini.
(hmmm, foto ini diambil dari om google, lupa alamatnye, :))

