Satu (hanya) mimpi part 1



Satu (hanya) mimpi
Suara kereta api di stasiun depan kontrakan
Mengajak naluriku untuk ikut bepergian
Menikmati hijaunya tanaman padi dari tempat duduk yang terasa ikut berjalan
Memperhatikan wajah orang – orang yang ketiduran
Ah, ini hanyalah suatu penggambaran

       Jika aku kemudian tersadar,
       Maka aku akan melihat kertas – kertas yang berantahkan
       Penuh dengan coretan – coretan tawar
       Seperti rangkaian ekspresi yang mengenaskan

Bagaimana kemudian alurnya
Seperti kumpulan gulungan kabel yang tak rapi
Berkali – kali terjebak di satu sisi yang sama
Sepertinya lelah, sepertinya tak yakin dengan diri

       Kini aku berada di satu titik
       Tersesat dengan gerimis di pertengahan hari
       Menutup mata, rasanya ingin menyerah saja
Ah, rupanya untuk menyerahpun aku tak tahu caranya
 Payah!

Tempat ini mungkin sudah begitu jauh
Jauh, jauh, jauh, sangat jauh
Jauh dari diriku
Jauh dari kertas – kertasku

       Ah, ntahlah
       Apa yang terjadi?
       aku masih terus berjalan dengan kedua tangan terentang
dan tentu saja dengan mata tertutup

Gerimis ini menjadi begitu romantis
Bahkan anginpun menyapa pipiku dengan sangat dramatis
Menyisakan pelangi yang mungkin begitu manis
Di sudut hati yang terasa statis

       Aku tidak tahu
       Aku tidak tahu
       Aku sungguh tidak tahu

Dan kupikir senja telah datang
Kicauan burungpun juga sudah mulai merendah
Tinggal aku yang masih berdiri di bawah langit
Mengikuti arah suara kereta api

       Hingga dingin malam mulai menyapa
Aku rasa sudah berada tepat di stasiun pemberhentian terakhir
       Dan baru aku tahu, rupanya aku hanya ingin duduk
       Duduk di salah satu kursi stasiun ini.
      

(hmmm, foto ini diambil dari om google, lupa alamatnye, :))
      




Leave a Reply