Merindu Rembulan Terbenam di langit keraguan



Memecah sepi seramai kelinglungan di tengah keramaian
Bergerak,, selaras pergerakan yang stagnan
Menepi jarak di tengah jalan

            Seperti kedipan mata yang takjub akan ketidakmengertian
            Mempesonakan diri dalam ranah keremang – remangan pandangan
            Berhenti, kemudian terbang bersama kehampaan

Ketika sudah saatnya mulai merasa
Dan tumpukan tuntutan mulai memberat
Ah, semakin menjadi saja

            Sok tak peduli, terus saja berjalan
            Walau sebenarnya hati masih sanksi dan gengsi

Ketika sudah saatnya menjadi terbiasa..
Bak lakon dalam sinetron
Hanya merupai, tak pernah menjadi utuh
Akhirnya, tertutup oleh keabu – abuan ketidaktahuan

            Jadilah ia lari dalam indahnya kata – kata
            Tak berani untuk bersuara
            Buktinya, tak satupun yang terwujud

Tiba..
Hampir di penghujung jalan lebih dari 2/3 perjalanan
Masih tetap berani dalam rangkaian kata

            Apatah lagi,
            Tak mungkin berhenti menulis
            Hanya.. Ah seandainya malam selalu seindah dan setegar rembulan
            Bukan sekedar bayangan dalam khayalan maupun cerita indah dalam dongeng

Tapi dia benar – benar ada,,
Di sana..
Di lurus telunjuk ini
Di lurus mata ini memandang

            Ah, merindu rembulan terbenam di langit keraguan
            Berharap secercah kehangatannya menyilaukan segala kekacauan akibat ketidakberanian
            Menyinarinya hingga tak berbekas lagi
            Kemudian menghapusnya menjadi pergerakan konkrit yang pasti

Meranalah jalan panjang ini, jika hidup hanya sekedar indah dalam kata
Seperti apa menembusnya? Entahlah..

Leave a Reply