Saat kekhawatiran itu
mulai semakin menyesaki sempitnya hati
Apa lagi yang bisa ku
lakukan?
Saat kekhawatiran itu
berbuah harapan
Bagaimana aku bisa
menghapusnya?
Aku mengkhawatirkanmu
di saat aku juga mengkhawatirkan diriku sendiri
Aku hampir rapuh memikirkannya
Khawatir seakan – akan
kau memanglah arjuna yang dikirimkan tuhan untukku
Aku bahkan tahu, bahwa
semut merah itupun ikut mengejek persepsi ini
Aku mengkhawatirkanmu
di saat aku hanya bisa menebak tanpa jawaban yang sudah pasti benar
Aku hampir kosong
dengan sibuknya hatiku
Aku khawatir seakan –
akan kau memang pantas dikhawatirkan
Aku juga bahkan
melihat sinisnya malam saat melirikku dengan tebakan ini
Aku mengkhawatirkanmu
dalam ketidakmengertianku akan keadaanmu
Aku hampir lelah
mencoba mencari tahu tanpa satupun petunjuk
Aku khawatir seakan –
akan aku adalah milik satu – satumu di dunia
Bahkan dengan sangat
jelas aku melihat mentari memalingkan sinarnya dariku dengan kebodohan ini.
Aku mengerti catatan
hatiku, aku mengerti petunjuk di hatiku,
Tapi aku tetap saja
mengkhawatirkanmu.
Hampir rapuh, hampir
kosong, hampir lelah..
Namun itu tak pernah
sampai ke ujung rasanya.
Selalu ada jarak yang
memisahkan aku dengan ujung kerapuhan, dengan ujung kekosongan, juga dengan
ujung kelelahan…
Jarak itu benar –
benar padat diisi oleh sibuknya hatiku melihat senyumanmu
Itu kenapa, khawatir
ini tak pernah berujung.
Khawatir akan kamu,
Kekhawatiran untukmu,
Tak peduli, seberapa
banyak aku mengerti..
