surat Afika


Afika adalah gadis kecil manis yang sedang berada di bangku kelas 1 SD. Anggap saja dia adalah murid ngajiku. Dan aku adalah gurunya “guru privat”. Kau tau apa yang dia lakukan setiap proses belajar mengaji berlangsung? Memotong setiap kalimat alqur’an dengan bercerita, bertanya hal2 yang tidak penting seperti “mbak firoh sudah nikah?”, pergi ke kamar mandi,tidak menerima teguran, mencoret – coret alqur’an, makan, bermain dengan inan, menulis di dinding bahkan di tanganku, mengajak bermain tebak2an, bikin perahu kertas, dan melakukan beberapa tindakan kekerasan seperti memukul dan mencubit.
Okeh! anggap saja aku adalah guru ngaji privat yang paling tidak sabaran di dunia. Bisa kau bayangkan betapa mangkelnya hati saat menghadapi keusilan2 itu?
Terlebih ketika disuruh berdo’a dia nyelonong ngaji, pas tak biarin ngaji dan terpaksa aku semak eih dia kembali ke do’a. disuruh ngaji dia nggak mau dan memintaku mengaji terlebih dahulu dengan konsekwensi dia mendengarkan dan memperhatikan bacaan agar dia lebih mudah membaca, pas aku ngaji eh dia malah balapan ikutan ngaji. Nyebelin nggak tuh anak? Ketika ku tegur karena panjang pendeknya salah, eih dia malah jawab “yang penting hepi” dan tetap meneruskan bacaan tanpa memperbaikinya. ????!!
Sempat ku katakan: “afika, mbak nggak mau ngajar ngaji kamu lagi, silahkan cari guru ngaji lagi”
Jawabannya: Geje, alias aku tidak didengerin. (eih?????!!)
Sepertinya kata2 ini sangatlah tidak ampuh. Kupikir dia butuh realisasi. Dengan agak serius, ku bilang
afika besok mbak beneran nggak mau ngajar ngaji kamu lagi, mbak mau pulang ke probolinggo”.
Jawabannya:: yes yes yes… asyiiiiiiiiiiiiik nggak ngajiiiiiiiiiiiiiiiiiii.. afika bisa main pasiiiiiiiiiiiiiiiir… !!!
Me: eih???? Gedubraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!! Cukup sudaaaaaaaaaaah.
Okeh, Rasa PD-ku sekarang bener2 sudah diujung sakaratul maut. Terimakasih afika.
Beberapa hari kemudian, ku perkuat langkah, dan sebisa mungkin aku tersenyum untuk kembali mengajar afika… kali ini dia bener2 memotong bacaan do’anya dengan menulis sederetan kata pada selembar kertas dan kemudian menyodorkannya padaku, “buat mbak firoh” dengan wajah malu – malu.. ada apa dengan afika? Mimpi apa dia semalam? Kau tau apa yang dia tulis?
mbak firoh, jangan pulang ke probolinggo lagi yaa? Ngaji di sini sama afika”
Me:: eihhh?
Dia: sebenarnya, afika sudah bikin surat dari kemaren2nya mbak firooh, sudah tak taruk di amplop dan mau tak kasi’kan ke mbak firoh hari senin. Tapi dirusakin sama si inan. Trus malam2nya lagi , afika bikin lagi, tak taruk di amplop lagi, eih.. di buat mainan lagi sama si inan.. trus afika bikin lagi,, trus dirusakin lagi.. sampek akhirnya afika nggak punya waktu untuk bikin surat lagi. jadi tak tulis di buku ini aja.. mbak firoh jangan pulang lagi ya,, ngaji di sini sama afika, kalo mbak firoh pulang, trus afika mau ngaji sama siapa?
So sweeet.. jadi terharu.
And then.. dia kembali menulis di bukunya: “mbak firoh janji ya nggak akan pulang lagi?
Kubalas dengan menulis: “tsapi afika janji yaa nggak akan nakal lagi?
Kembali dia tulis: “tapi mbak firoh juga janji ya, akan masuk terus, ngajar afika ngaji hari senin, rabu, sabtu dan minggu?
Me:: eihhhh????????! Lanjut ngaji dulu ya afika..
Subhanallah,, dia bener2 nurut.. dia tuntaskan ngajinya tanpa main potong2an lagi, sampek tuntas, sampek doa dengan khusyu’. Kau tau? Indah rasanya setiap menunggu dia menyelesaikan membaca alqur’an dg suara patah2 dalam satu ayat.. rasanya seperti kita sedang melatih bayi belajar berjalan dan merasa dag dig dug saat dia bertahan dalam langkahnya yang masih gemetar dan terus berjalan meraih tangan kita”
Ada satu pelajaran yang aku ambil dari peristiwa ini “afika hanyalah anak kecil
Kadang2 kita sebagai pengurus pesantren, pendidik di lembaga sekolah, orang tua di rumah selalu ingin mendidik anak yang baik – baik saja, penurut dan cerdas. Tak jarang kita marah dengan anak didik yang nakal dan bodoh. Parahnya, tak jarang pendidik di lembaga2 pendidikan selalu tak betah dengan anak2 yang seperti itu, dan keburu – buru untuk mendepak mereka keluar dari daerah didikan mereka. Menganggap mereka ulat bulu yang menjijikkan dan hanya bisa menularkan rasa gatal pada yang lain, mudahnya “menganggap mereka sebagai anak – anak gagal dengan masa depan suram dan hanya bisa menularkan keburukan bagi anak didik yang lain”
Afika nakal? Baru kusadari itu wajar. dia hanya anak kecil yang tak mengerti apa itu nakal yang kemudian akan kembali bersikap baik dengan tanpa merasa bersalah. Karena pada dasarnya dia hanyalah anak kecil yang dg normal menjalani hidupnya sesuai dg pikiran uniknya. Aku tak bisa menuntutnya bersikap manis sesuai dg aturan orang dewasa. Adalah tugasku untuk mengarahkan pikiran- pikiran uniknya ke arah yang lurus. Kalo aku pergi, dan semua guru pergi meninggalkan afika yang usil,, maka bener2 tidak akan ada yang meluruskannya. Dan itu sama saja aku telah berpartisipasi dalam penyuraman masa depannya.

Because every child is special (Amir Khan production), setiap mereka memiliki bakat unik tersendiri dan kita tidak bisa menilainya hanya dengan satu indikator saja. Anak2 kecil yang nakal bisa saja di hari esok menjadi orang2 kuat yang berani mempertahankan kebenaran. karena pada dasarnya kenakalan adalah bentuk pemberontakan atas aturan – aturan kaku yang abstrak, anak2 kecil yang kita anggap idiot dan sangat tidak penurut, tapi lihatlah si Albert Einstein berhasil menjadi scintist kedua terhebat di dunia setelah Muhammad SAW. Anak2 kecil yang cacat dalam hal menulis dan membaca, tapi lihatlah si leonardo da vinci berhasil menjadi artis penemuan hebat dg sketsa helicopternya. Awalnya mereka dianggap sebagai anak – anak yang tidak sempurna, tapi akhirnya dengan keunikan cara berpikir mereka yang tidak semua orang bisa mengerti, dapat menggubrak dunia dengan prestasi – prestasi mereka, dan kemudian keluar sebagai pemenang.
Bolehlah mereka sempat menjadi ulat bulu yang menjijikkan, tapi kita lihat sendiri.. mereka berubah menjadi kupu – kupu indah yang hinggap di taman2 bunga, menyejukkan setiap mata yang melihatnya.
Spesial untuk aku, kau, kalian dan kita semua.. setiap anak kecil adalah istimewa, mereka terlahir dengan bakat dan keunikan yang berbeda. yuk bersabar – sabar ria mengubah ulat bulu yang menjijikkan menjadi kupu – kupu indah yang menyenangkan!

Semangat mengajar dan mendidik!
Terimakasih pada afika “murid ternakal-ku” dan Amir Khan dalam pilm-nya “taare zameen par”
Special tengkyu to someone yang telah menyarankan aku untuk menulis note tentang “surat afika”
Walau tidak bermutu dan garing, tapi semoga bermanfaat!

Leave a Reply