aku hidup dalam secercah cahaya,
secercah cahaya dalam keabu-abuan kabut siang
aku hidup dalam ramainya “sederhana”
ramainya “sederhana” kekumuhan nalar yang cukup menantang
bila malam menghampiri,
akan kusiapkan satu lipat saputangan,
sebagai ‘serbet’ rasa iri,
dan kemudian tidur bersama temaram rembulan,
adalah aku,,
terbang mengepakkan sayap kekerdilan,
berjalan dengan liuknya ketakutan,
berlari sekencang kengerian,
kemudian berhenti dengan kehampaan,,
namun, bila malam lagi-lagi menyapa,
akan aku siapkan secercah cahaya dari hidupku,
sebagai pembelah kesuraman yang tak kasat mata,
kemudian menggerakkan kanvas mengusir kelu,
adalah aku,,
tertegun dengan indahnya bintang malam,
melompat – lompat men-sejajar-kan jari jemari,
menatap kuat dan menerobos tingginya langit kelam,
kemudian tetap terjaga dengan lemahnya daun yang melambai
ah, kali ini aku benar-benar ngeri,
bila malam lagi-lagi menghampiri
dengan kekosongan yang bisa ku beri,
kekeluan kembali menyelimuti
adalah aku,,
yang tak terlihat dengan secercah cahaya yang telah pergi,
yang bergemetar dengan partikel – partikel gelap mengelilingi,
yang duduk mengerut memperkecil diri,
yang kemudian terdiam dengan kunang – kunang indah di pagi hari.
Ah, aku tak mengerti,
Sampai kapan harus aku akhiri,
Pertemuan sedetik tak bertepi,
Di ujung lincahnya kaki,
Adalah siapa?
Aku dengan seonggok badan berbaju robek,
Menyusuri bisingnya suara angkot,
Menyapa tubuh –tubuh yang berbalut sutra,
Dan kemudian duduk tersenyum tanpa risih bersama mereka,
Ah, aku bertanya,
Ah, haruskah aku juga yang menjawab?
Gila!
Hari ini, dengan sandal jepit yang sudah usang,
Aku duduk sendiri, bersama deru ombak pasang,
Menggertak naluri, menghentak angan melayang,
Ah, aku bertanya!
Aku berteriak!
Adakah aku seorang diri?
Kalau begitu, biarlah aku menyapa badai angin hari ini,
Kalau begitu, biarlah aku menyapa hujan hari ini,
Kalau begitu, biarlah aku menyapa terik matahari hari ini,
Kalau begitu, biarlah aku menyapa lembut embun pagi hari ini,
Kalau begitu, biarlah aku tetap berjalan dengan baju robek hari ini,
Sampai akhirnya kamu menyerah diri
Sampai akhirnya aku harus kembali
