Tak seharusnya hidup hanya dinilai dari jumlah prestasi yang kita raih secara kasat mata, dari banyaknya piala dan piagam yang kita punya. Kepinteran, ketangkasan, kecerdikan, dan kreatifitas dalam bidang tertentu juga tak seharusnya menjadi tolok ukur keberhasilan dari seseorang. Karena keberhasilan yang sebenarnya adalah keberhasilan mendapat ridho dari tuhan sang pencipta alam semesta.
Bahkan dalam hadist nabi disebutkan bahwa orang yang istimewa yang masuk syurga adalah dia yang sama sekali tidak dikenal oleh dunia, namun dia sangat dikenal oleh Allah dan penghuni langit atas do’anya untuk saudara2nya, ibadahnya serta kebaikan2 tulus yang dia lakukan. Karena sebenarnya tujuan terakhir kita adalah akhirat, dunia hanyalah suatu media yang dilewati manusia untuk memperoleh uang saku yang sebanyak2nya sebagai bekal di akhirat nanti. Keberhasilan di dunia belum tentu akan membawa keberhasilan di akhirat. Kata lainnya, tujuan utama kita hidup berada di akhirat bukan di dunia.
Piala, piagam dan lain sebagainya hanyalah keberhasilan dari segi pandang manusia yang sangat bersifat relatif dalam menilai sesuatu. Fokus manusia, yang menganggap prestasi2 seperti itu sangat penting menyebabkan kebanyakan mereka lalai dari tujuan utama. Bahkan tak banyak yang mengalami sakit mental hanya karena mengejar segala atribut keberhasilan di dunia. Fokus mengejar prestasi2 tersebut juga terkadang seringkali menimbulkan beberapa penyakit hati seperti sombong dan riya’ bagi sang peraih prestasi, rasa iri dan dengki bagi yang kalah. Sakit mental yang ditimbulkan bisa bermula dari rasa pesimis dan rendah diri karena tak pernah meraih prestasi, karena tak pernah bisa mengumpulkan piala di rumah, karena tak bisa mengoleksi piagam2 penghargaan untuk melamar pekerjaan. Hal tersebut membuat mereka merasa berada dikelompok orang yang biasa2 saja alias low profile. Padahal prestasi yang sebenarnya berada di dalam hati yang dapat memberikan dampak manis kepada orang lain. Bukan sekedar penilaian seberapa cerdas kita menyelesaikan rumus2 matematika, bukan dari seberapa hebat kita merancang suatu proposal penelitian, bukan dari seberapa tangkas kita menjawab pertanyaan2 dalam suatu perlombaan. Sekali lagi, itu hanya ukuran kuantitatif manusia yang bisa saja tidak kualitatif (anggap saja tidak berkualitas). Banyak sekali orang yang berprestasi dengan nilai kepinteran yang sudah tak terukur malah menyumbangkan kehancuran pada bumi kita. banyak sekali orang2 cerdas yang malah menimbulkan beberapa penyakit aneh pada kita, banyak sekali orang cerdik yang malah menimbulkan kerusakan di dunia.
Sekarang, bagi kalian yang belum pernah meraih prestasi di sekolah atau dimanapun. Jangan berkecil hati, karena itu bukanlah suatu ukuran untuk keberhasilan yang sebenarnya. Kalian masih bisa bahagia walau dengan tanpa satu piagam-pun ditangan kalian. Dan kalian masih bisa mengenggam dunia walau tanpa satu piala-pun di rumah. Hidup tidak sekedar pengoleksian piala dan piagam. Tapi hidup adalah bagaimana cara kita memberikan manfaat yang sebesar2nya kepada orang lain, tapi bagaimana kita bisa mencapai tujuan utama hidup kita yaitu di akhirat, tapi bagaimana kita bisa memperoleh keridhoaan dari Allah. Itulah sebenar2nya keberhasilan!
Tapi kawand, bukan berarti kita harus menjadi lemah dan kemudian menjauh dari melakukan yang terbaik di dunia, bukan berarti kita harus menjauh dari segala komponen keberhasilan hidup di dunia, jangan jadikan tujuan utama hidup di akhirat sebagai alasan untuk lemah dalam meraih prestasi di dunia. Karena hidup akan jauh lebih indah kalau kita bisa berhasil di dua tempat “dunia&akhirat”. Jangan jadikan kemungkinan2 buruk dari prestasi di dunia membuatmu mengerut tak berdaya yang kemudian memilih untuk berhenti berusaha dan diam menenggelamkan diri dari ukuran – ukuran dunia. Tidak begitu kawand.. walau prestasi di dunia bukanlah satu2nya tolok ukur keberhasilan yang hakiki, walau prestasi di dunia tidak menjadi syarat bagi kita untuk masuk syurga, tapi tetaplah bersemangat untuk meraih prestasi di dunia sebagai pelengkap cerita hidup..… Raihlah prestasi di dunia semata – mata untuk menjadi penyemangat bagi orang lain, semata – mata sebagai teladan bagi orang lain. Raihlah prestasi di dunia untuk bisa berkonstribusi dalam memakmurkan kehidupan. Carilah prestasi di dunia semata – mata hanya karena tuhanmu.. karena Allah sendiri juga melarang kita melupakan dunia untuk akhirat kita.. hanya saja, tetaplah, jadikan keberhasilan di akhirat sebagai keberhasilan utamamu.
Jangan lemah kawand! Raihlah kesempurnaan hidup dengan prestasi2mu di dunia yang bisa membawamu kepada kesuksesan di akhirat!
