nikah itu, 1+1 tidak melulu sama dengan 2



Perlu diperhatikan, ini hanya sekedar teori, teori menurut aku yang bersinergi dengan teori seseorang yang aku lupa siapa dia (eiih?). Kalau ada yang salah monggo diluruskan. Kalau ada yang tidak terima, monggo bikin blog tandingan (emosi, hehe).
 
Nah, kenapa judulnya sekarang tiba-tiba tentang pernikahan? Padahal yang nulis belum nikah, nggak meyakinkan! Yee,, makanya aku juga bilangnya SEKEDAR TEORI! Udah ah lupakan statusku yang belum menikah itu. Biarpun aku belum menikah,  setidaknya aku punya banyak temen yang udah pada menikah (hup! Keselek)

Apa sih maksud dari judul ini? apa pula hubungannya menikah dengan tambahan matematika? Ada-ada aja nih yang nulis. Yaelah,, sabarin dikit napa sih? Iya iya ini aku jelasin. Okeh ayuuuk fokuuuus!

Langsung-langsungan aja nih ya! Ada 4 hal kan yang bisa dijadikan pertimbangan seseorang untuk memilih pasangannya, dari kecantikannya, hartanya, nasab, dan agamanya. Harusnya yang perlu diutamakan adalah agamanya. Kenyataannya, banyak orang yang lebih menomorsatukan harta dengan anggapan, semakin banyak hartanya, jaminan sejahtera untuk hidup setelah menikah semakin besar.  wajar sih berpikir begitu, logikanya emang begitu.

Tapi guys, beberapa tahun yang lalu, seseorang mengatakan padaku bahwa nikah itu 1+1 tidak sama dengan 2. Alamak!! beberapa tahun yang lalu? Nulisnya baru sekarang?!! Helloww. Iya iya,, namanya juga baru inget! Manusia kan tempatnya lupa. Kebetulan noh diingetin sama kasus temenku yang nikahnya dipersulit karena pertimbangan kerjaan si cowok. Begitu.

Melanjutkan penjelasan seseorang itu, dia bilang begini

“Kalau yang laki punya 1 hektar sawah, terus yang perempuan juga bawa 1 hektar sawah, setelah menikah belum tentu jadi 2 hektar sawah. Tergantung orangnya, kalau yang laki pandai mengolah sawah, kerja keras, dan istrinya nggak boros, bisa jadi tuh sawah jadi berhektar-hektar banyaknya. Tapi kalau suaminya malas kerja, malah Cuma ngabisin uang, bisa-bisa setelah nikah sawahnya dijual, jadi nol deh!”

Penjelasannya gaulnya (versi aku soalnya, haha) seperti ini guys, masa lah kesejahteraan harta setelah menikah itu tergantung orang yang menjalani. Dia pekerja keras atau tidak. jadi bukan masalah seberapa banyak harta yang dibawa sebelum menikah, tetapi lebih kepada karakter dan sikap orangnya. Berarti kalau mau sejahtera hidupnya setelah menikah, ya cari aja laki-laki yang pekerja keras, tidak pantang menyerah, dan bukan seorang pemalas. Nah, teori ini logis nggak? Ya logis dung, yang berperan kan orangnya bukan hartanya. Hartanya mah diem, mau digandakan atau mau dihanguskan kan tergantung orangnya. Iya nggak iya nggak? Hehe. Dan yang paling penting tentunya kita sudah tau, rejeki itu juga tergantung takdir. Kalau takdirnya seupil ya nggak akan jadi sebukit, kalau takdirnya selautan ya nggak akan jadi seember. Karena berhubung kita tidak tahu takdir kita, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah berusaha! Iya nggak? Masalah takdir mah itu keputusan Allah kan? Lagian kaya atau nggak katanya sih tergantung kita sendiri ngerasainnya gimana. biarpun punya banyak uang kalau belum ngerasa cukup ya bukan kaya namanya. Biarpun Cuma bisa makan doang, kalau hati merasa cukup dan bersyukur ya sudah bisa dikatakan kaya. Kaya kan artinya cukup. Ini katanya lho ya, kalau nggak setuju, protes saja sama yang bilang, tapi aku juga udah lupa siapa yang bilang. Hihi 

Jadi seperti itulah ceritanya guys. Intinya boleh melihat harta, tapi kalau kata ustadku, jangan sampai karena alasan itu, kita jadi menunda pernikahan gara-gara nolak-nolak terus bagi keluarga perempuan dan nunda melamar gara-gara belum punya pekerjaan bagi si cowok. 

Ya tapi bagi yang cowok, jangan jadikan ini alasan untuk malas nyari pekerjaan ya. hihi

Bismillah, Allah sudah menjamin rejeki kita kalau kita menikah dan terus berusaha.
Bismillah, kalaupun begitu sulit untuk diyakini karena realita hidup begitu keras, kita tetap mau kan percaya sama janji Allah? Kalau kita tidak percaya padaNYA, ya susah..

Leave a Reply