Pasal Penghinaan Bukan Jalan Pendidikan Demokrasi Yang Tepat



Beberapa malam yang lalu, tak sengaja menonton acara Apa Kabar Indonesia Malam yang membicarakan tentang RUU pasal penghinaan presiden. Tidak seperti biasanya, saya yang mudah panas dengan isu-isu tersebut, memilih mendengarkan kedua pembicara yang bersebrangan pendapat meskipun saya sebenarnya sudah langsung cenderung pada salah satu pembicara yang menentang pasal penghinaan presiden. 

Setelah mendengar sampai tuntas, ditambah membaca sedikit di berita online, saya mulai memutuskan untuk ikut menyuarakan opini saya. Semoga opini kali ini terbaca lebih bijak, sehingga bagi Anda yang kurang setuju harap memaklumi, inilah daya nalar saya yang sangat tidak sempurna. Baiklah, begini jalan nalar saya.
  1.   Kenapa sebelumnya MK memutuskan untuk membatalkan pasal penghinaan presiden? Menurut Pengamat Hukum dari Universitas Trisaksi, Abdul Fikar Hajar, Presiden itu bisa berganti ganti orangnya dan penghinaan itu tidak jelas definisinya sehingga bisa disalahgunakan oleh presiden sebagai penguasa. Karena itulah MK membatalkannya (Republika Online, 2015). 
  2.  Bagaimana batasan definisi penghinaan? Menurut saya pribadi, penghinaan sifatnya sangat subjektif. Tergantung bagaimana kita menerimanya. Terutama jika ini tentang pemimpin. Akan sangat sulit untuk membedakan antara kritik dan penghinaan. Jika batasan ini tidak jelas, maka pasal ini akan menghalangi rakyat untuk membuat kritik pada pemimpinnya. Jika kritik tidak lagi bisa sampai pada pemimpin, sangat memungkinkan pemimpin akan terlena. 
  3.  Mengapa pak Jokowi merasa perlu mengusung pasal penghinaan presiden Secara manusiawi, saya anggap itu sebagai perlindungan diri mengingat betapa banyak komentar pedas tak bermoral yang dilontarkan rakyat pada beliau. Namun jika itu alasannya, menurut pengamat Tata Negara M Nasef dalam Republika Online (2015), Presiden harus tetap dijunjung tinggi.  Karena terdapat pula instrumen perundang-undangan yang mengatur penghinaan terhadap seorang individu, sehingga bukan berarti ketika pasal penghinaan Presiden tidak dimasukkan dalam RUU KUHP, berbagai bentuk penghinaan Presiden tidak bisa diproses secara hukum. 
Secara pribadi, saya yakin alasannya lebih dari itu karena beliau bukan rakyat biasa, beliau seorang presiden. Ini mungkin salah satu jalan yang dipilihnya untuk mendidik rakyatnya, agar demokrasi di Indonesia tidak kebablasan, sehingga demokrasi dapat berjalan dengan sopan dan cerdas. Tapi, inilah sudut pandang saya dengan segala kekurangan saya, selama berkecimpung dalam dunia pendidikan, peraraturan memang perlu, tapi bertambahnya peraturan tidak menjamin bertambahnya kualitas anak didik. Karena di mata anak didik peraturan bukanlah sebuah benteng proteksi seperti yang pendidik pikirkan, tapi peraturan seringkali dianggap sebagai sebuah pengekangan yang bisa saja membuat anak didik malah menjadi brutal. Melihat anak didik yang emosinya lebih tinggi, menurut saya, peraturan bukanlah jalan yang tepat. 

Posisi anak didik sama dengan posisi rakyat. Karena pada dasarnya, pemimpin juga merupakan seorang pendidik bagi yang dipimpinnya. Mendidik memang bukan perkara mudah, banyak tuntutan kesabaran di dalamnya. Karena pemimpin memang seharusnya lebih faham daripada rakyat, semoga presiden bangsa ini bisa bersabar jauh di atas rata-rata dalam mendidik kami.

Dalam sudut pandang saya pribadi, jalan yang lebih tepat agar demokrasi berjalan dengan sopan adalah dengan memberikan kinerja yang optimal. Memberikan kerja nyata dalam usaha memakmurkan dan melindungi rakyat. Bersatu mengajarkan rakyat apa itu demokrasi dengan tidak saling menuding, tidak tidur, tidak naik ke atas bangku, dan tidak berkata kasar ketika rapat para pejabat negara, Insyaallah ini lebih efektif. Kerja nyata dan Keteladanan itu lebih penting daripada hanya mengekang dengan peraturan berupa larangan-larangan, terlebih jika itu bawa-bawa nama kekuasaan.

Singkatnya sih, kalau kata pak SBY, “Demokrasi juga perlu tertib, tapi negara tidak perlu represif” (Jawa Pos, 2015)
Saya do’akan semoga pak Jokowi menjadi pemimpin yang sabar, dihormati, dan diikuti, bukan ditakuti.

Jamu: Masa Lalu




Jelas rugi kalau apa yang terjadi di masa lalu tak menjadi pembelajaran. Rugi kalau kejadian yang menyita waktu di masa lalu dipaksa dilupakan karena terasa sakit. Terlalu berharga jika waktu yang sudah tak bisa dikembalikan itu terbuang tanpa sisa. Sekalipun itu tak enak untuk diingat dan tak ingin terulang di masa sekarang dan di masa depan. 

Lah, kok kayaknya di atas serius banget ya? Hehe. Oke wan kawan, episode kali ini emang rada’ serem. Why? Karena kali ini topiknya adalah menanggapi masa lalu yang pahit . Yupz, masa lalu biarlah masa laluuuu jangan diungkit jangan ingatkan aku! Au au au, seperti itu kah? Yeah sayangnya emang benar sekali. Paling sakit itu kalau kita harus mengingat masa lalu karena diingatkan oleh orang lain. Sebenarnya, kalau mau jujur, sekeras apapun kita ingin menghapus masa lalu yang ibarat kopi tanpa gula itu, pahit banget ya, tetap saja kan kita mengingatnya diam-diam? Ntah itu datang sendiri atau kita sendiri yang menjenguknya, setidaknya itu menunjukkan sepahit apapun masa lalu, tetap saja itu menjadi bagian episode dalam kehidupan kita yang di dalamnya ada diri kita, emosi kita, perasaan kita, bahkan mungkin air mata kita. Artinya, masa lalu tetaplah berharga.

Tulisan ini bukan untuk menghargai masa lalu, tapi lebih untuk menghargai hidup kita selanjutnya yang jauh lebih berharga lagi. Masa lalu sangat berharga untuk kita ambil ibrohnya. Kita ambil hikmahnya untuk menuai manfaat di kemudian hari. Mau gimana lagi, masa lalu telah terjadi, tak bisa diubah lagi. Tak bisa diperbaiki. 

Itu  kenapa judul tulisan ini aku berikan kata muqoddimah “Jamu”. Kita semua sudah tahu kan bahwa kebanyakan jamu itu pahit. Aku aja sampai mual-mual kalau minum jamu saking pahitnya. Tapi kata bapakku, biarpun pahit tapi menyehatkan. Yupz, sama dengan masa lalu kelam kita (kalau punya, ahay), boleh saja sakit, tapi semoga menyehatkan untuk masa depan kita. Kok bisa? 

Jangan salah, mungkin saja apa yang terjadi di masa lalu adalah kecerobohan, tapi mungkin juga itu yang akan membuat kita lebih hati-hati sekarang hingga di masa depan kita tak perlu lagi mengukir rasa sakit yang sudah tertelan di masa lalu. Mungkin itu kesalahan, tapi mungkin itu juga yang menjadi titik ledakan buat kita untuk memperbaiki diri. Karena kita sudah belajar nyata di masa lalu, apa yang membuat kita sedih, apa yang membuat kita terpuruk, apa yang membuat kita merasa malu, apa-apa yang membuat hidup kita begitu tidak sedap dipandang. Sehingga kita tak perlu lagi coba-coba kan? Apa-apa yang salah, yang tidak pada tempatnya di masa lalu, kita jadi bisa tahu kan harus menempatkannya di mana?

Silahkan merasa malu dengan masa lalu yang kelam, oleh karena itu mari jaga masa depan kita dari kekelaman sehingga kita tak perlu lagi malu di masa depan. Masa lalu, cukuplah itu jadi arsip di hati. sebagai pengingat bahwa kita pernah ceroboh di satu titik dan tak ingin mengulangnya di titik yang lain. Karena masa depan tidak ditentukan oleh masa lalu, tapi ditentukan oleh kita yang sekarang. 

Yaa, masa lalu memang untuk dilupakan, tapi setelah kita mengambil banyak vitamin di dalamnya.

Masa lalu boleh kelam, tapi masa depan harus cerah
loh, emang punya masa lalu kelam ya? maybe, maybe yes, maybe no :)


nikah itu, 1+1 tidak melulu sama dengan 2



Perlu diperhatikan, ini hanya sekedar teori, teori menurut aku yang bersinergi dengan teori seseorang yang aku lupa siapa dia (eiih?). Kalau ada yang salah monggo diluruskan. Kalau ada yang tidak terima, monggo bikin blog tandingan (emosi, hehe).
 
Nah, kenapa judulnya sekarang tiba-tiba tentang pernikahan? Padahal yang nulis belum nikah, nggak meyakinkan! Yee,, makanya aku juga bilangnya SEKEDAR TEORI! Udah ah lupakan statusku yang belum menikah itu. Biarpun aku belum menikah,  setidaknya aku punya banyak temen yang udah pada menikah (hup! Keselek)

Apa sih maksud dari judul ini? apa pula hubungannya menikah dengan tambahan matematika? Ada-ada aja nih yang nulis. Yaelah,, sabarin dikit napa sih? Iya iya ini aku jelasin. Okeh ayuuuk fokuuuus!

Langsung-langsungan aja nih ya! Ada 4 hal kan yang bisa dijadikan pertimbangan seseorang untuk memilih pasangannya, dari kecantikannya, hartanya, nasab, dan agamanya. Harusnya yang perlu diutamakan adalah agamanya. Kenyataannya, banyak orang yang lebih menomorsatukan harta dengan anggapan, semakin banyak hartanya, jaminan sejahtera untuk hidup setelah menikah semakin besar.  wajar sih berpikir begitu, logikanya emang begitu.

Tapi guys, beberapa tahun yang lalu, seseorang mengatakan padaku bahwa nikah itu 1+1 tidak sama dengan 2. Alamak!! beberapa tahun yang lalu? Nulisnya baru sekarang?!! Helloww. Iya iya,, namanya juga baru inget! Manusia kan tempatnya lupa. Kebetulan noh diingetin sama kasus temenku yang nikahnya dipersulit karena pertimbangan kerjaan si cowok. Begitu.

Melanjutkan penjelasan seseorang itu, dia bilang begini

“Kalau yang laki punya 1 hektar sawah, terus yang perempuan juga bawa 1 hektar sawah, setelah menikah belum tentu jadi 2 hektar sawah. Tergantung orangnya, kalau yang laki pandai mengolah sawah, kerja keras, dan istrinya nggak boros, bisa jadi tuh sawah jadi berhektar-hektar banyaknya. Tapi kalau suaminya malas kerja, malah Cuma ngabisin uang, bisa-bisa setelah nikah sawahnya dijual, jadi nol deh!”

Penjelasannya gaulnya (versi aku soalnya, haha) seperti ini guys, masa lah kesejahteraan harta setelah menikah itu tergantung orang yang menjalani. Dia pekerja keras atau tidak. jadi bukan masalah seberapa banyak harta yang dibawa sebelum menikah, tetapi lebih kepada karakter dan sikap orangnya. Berarti kalau mau sejahtera hidupnya setelah menikah, ya cari aja laki-laki yang pekerja keras, tidak pantang menyerah, dan bukan seorang pemalas. Nah, teori ini logis nggak? Ya logis dung, yang berperan kan orangnya bukan hartanya. Hartanya mah diem, mau digandakan atau mau dihanguskan kan tergantung orangnya. Iya nggak iya nggak? Hehe. Dan yang paling penting tentunya kita sudah tau, rejeki itu juga tergantung takdir. Kalau takdirnya seupil ya nggak akan jadi sebukit, kalau takdirnya selautan ya nggak akan jadi seember. Karena berhubung kita tidak tahu takdir kita, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah berusaha! Iya nggak? Masalah takdir mah itu keputusan Allah kan? Lagian kaya atau nggak katanya sih tergantung kita sendiri ngerasainnya gimana. biarpun punya banyak uang kalau belum ngerasa cukup ya bukan kaya namanya. Biarpun Cuma bisa makan doang, kalau hati merasa cukup dan bersyukur ya sudah bisa dikatakan kaya. Kaya kan artinya cukup. Ini katanya lho ya, kalau nggak setuju, protes saja sama yang bilang, tapi aku juga udah lupa siapa yang bilang. Hihi 

Jadi seperti itulah ceritanya guys. Intinya boleh melihat harta, tapi kalau kata ustadku, jangan sampai karena alasan itu, kita jadi menunda pernikahan gara-gara nolak-nolak terus bagi keluarga perempuan dan nunda melamar gara-gara belum punya pekerjaan bagi si cowok. 

Ya tapi bagi yang cowok, jangan jadikan ini alasan untuk malas nyari pekerjaan ya. hihi

Bismillah, Allah sudah menjamin rejeki kita kalau kita menikah dan terus berusaha.
Bismillah, kalaupun begitu sulit untuk diyakini karena realita hidup begitu keras, kita tetap mau kan percaya sama janji Allah? Kalau kita tidak percaya padaNYA, ya susah..

Kegagalanmu Bukan Karena Guru Yang Nggak Enak Ngajarnya, Dik!


Jadi ceritanya begini, beberapa kali aku ngajar privat anak-anak SMA. Setiap aku Tanya kenapa mereka tidak bisa mengerjakan soal, jawabannya hampir selalu “gurunya tidak enak mbak”. Nih berikut definisi guru yang nggak enak versi mereka
1.   Guru yang terlalu santai dengan soal, sehingga bikin murid tidak terpacu untuk belajar
2.   Guru galak bikin murid makin malas belajar, boro-boro belajar, dengerin aja gua malas!
3.   Guru yang hobi ngasi’ soal seabrek tanpa menjelaskan materinya terlebih dahulu
4.   Guru yang sudah terlanjur su’udzon sama si murid, bikin si murid berpikir “sebaik apapun aku, pasti salah di mata guru. Ya sudahlah aku nyerah

Setelah itu aku jadi berpikir “eh gak kebayang kalau semua murid berpikir begitu! Gak bakalan maju ni negeri! Iya nggak sih?”

Yaiyalah! Okeh oke adek-adek SMA ataupun SMP, yang walaupun labil tapi sudah bisa diajak berpikir pelan-pelan.. faktor penentu dalam pendidikan salah satunya itu emang guru, tapi adek-adekku sayang, perlu diingat kembali, penentu utama keberhasilan dirimu itu adalah DIRIMU SENDIRI! YOUR SELF! Yang lain ntu Cuma pendukung biasa aja. Dan, dalam kehidupan nyata, hanya sedikit orang bersikap sesuai yang kita harapkan, hanya sedikit alat dan keadaan saja yang berfungsi baik seperti yang kita harapkan. Jadi kesimpulannye, kalau kita bergantung pada sikap orang lain, alat yang sedang kita miliki, ataupun keadaan yang kita jalani, ya hidup kita bakalan gagal terus sayang. Kenapa? karena guru yang enak ngajarnya itu Cuma sedikit! Alat yang kita milikipun terbatas tas! Apalagi keadaan yang selalu bikin Galau!

Keberhasilanmu bukan tentang bagaimana orang lain bersikap padamu, seberapa canggih alat yang kamu miliki, seberapa kondusif keadaan yang kamu jalani sekarang, tapi lebih tentang bagaimana KAMU MENYIKAPI semua itu!

Sekarang, Coba deh berpikirnya dibalik jadi gini

1.   Guru terlalu santai, asyik nih aku jadi rileks belajarnya. Jadi aku bisa lebih punya banyak waktu buat gaspol belajar matapelajaran yang gurunya super disiplin! (Nah, oke tuh!)
2.   Guru galak, nah ininih yang mantap buat menendang rasa malas aku. Jadi aku bisa kepaksa belajar keras! (yuhuuu..)
3.   Guru nggak suka jelasin, ini artinya aku kudu lebih mandiri! Udah gede gini masak masih mau disuapin tok sama guru. Guru kan Cuma fasilitator toh? Malah asyik, aku jadi erat silaturrahminya sama teman sekelas, gegara aktif belajar kelompok. (Mantap jaya dah!)
4.   Guru su’udzon, ah aku jadi semakin semangat untuk menghapus image jelek di mata ntuh guru! Aku akan berusaha untuk membuktikan kalau aku gak seburuk yang dipikirkan! Ganbatte! (Ah caem dah!)

Bagaimana? Lebih asyik kan kalau berpikir begitu? Lagian nih ya adek-adekku sayang, walaupun kamu mau nyalahin gurumu yang inilah yang itulah sehingga kamu nggak faham-faham sama materi pelajarannya, itu gak akan ada gunanye buat kamu! Dosa, iya! Kualat, mungkin! Logis nggak? Ya logis lah.. ( hihi )

          Gini gini adek-adek, dengan menyalahkan gurumu, kamu jadi faham nggak? Kamu jadi berprestasi nggak? Nggak kan? Yang ada Cuma bikin item hatimu, lalu dadah good by deh sama keberhasilan! Inget inget! Guru itu pahlawan tanpa tanda jasa! Kamu tau ndak kenapa banyak orang berpendidikan hidupnya menderita? Nggak sukses? Bisa jadi nih ya, gegara suka jelekin gurunya baik di depan maupun di belakang gurunya! Ilmunya jadi nggak berkah gegara Allah kagak rela! Pada akhirnya ilmunya nggak bantu apa2. Kasian. Mau hidupmu berakhir kayak gitu? Na’udzubillah ya.

          Apa aku harus pintar dalam pelajaran mbak? ya gak harus sih, indikator keberhasilan hidup itu bukan Cuma kamu faham semua materi pelajaran sekolah, tapi bagaimana nanti kamu bisa bermanfaat buat orang lain. Silahkan ambil banyak jalan, kalau tidak terlalu suka belajar pelajaran sekolah, kamu boleh fokus sama hal lain seperti melukis, menulis, berbisnis, atau apalah. TETAPI! Jangan jadikan itu alasan buat kamu malas dengerin penjelasan guru terus bilang “gurunya nggak enak ih!”

           Nggak suka sama matapelajarannya boleh boleh aja say, tapi menghormati orang lain dengan mendengarkan guru saat menjelaskan dan menjaga lisan dari berbicara jelek tentang guru itu WAJIB!

          Gimana kalau aku nggak suka, aku jadi nggak bisa ngerjain soal, terus guruku marah-marah mba?

          Ih adeknya bikin gemes deh! Kamu boleh ahli dalam bidang di luar sekolah, tapi bukan berarti kamu boleh gak berusaha mengerti pelajarannya. karena belajar itu juga merupakan kewajibanmu sebagai murid, harus lulus UAN pula! Sesulit-sulitnya pelajaran, pasti nggak semuanya itu sulit! Kalau nggak mau berusaha belajar gegara alasan nggak suka, ya mending nggak usah sekolah aja dek! (maaf ya ini agak keras, piss)

          Udaaah. Intinya sayongs, suka bikin alesan ini itu nggak ada gunanya buat masa depanmu, apalagi nyalah-nyalahin orang lain, apalagi guru yang disalahi, bisa kuwalat. Suer!

          Masalah guru kagak enak ngajarnya, maklumi ajalah, karena manusia emang nggak ada yang sempurna, udah syukur dek beliau mau ngajar kamu. Nggak usah berharap lebih sama guru. Sebaliknya, perbaikilah sikapmu. Bergantunglah pada dirimu sendiri sampai kamu hanya berharap sama tuhanmu saja. Nge-fight gitu loo.. 

          Malas? Yeah.. jangan ngomong deh..

          Sekian ceramah panjang kali ini! Semoga bermanfaat, good luck adek-adekku sayaaaangs..