Never Regret of Chemistry Department



Kuliah di jurusan kimia sejak awal adalah pilihanku. Tidak ada alasan lain kecuali aku memang menyukai kimia. Aku sudah mencintainya sejak pertama bertemu hingga sekarang. Kenapa aku mencintainya dan memilihnya sebagai bagian dalam hidupku waktu dulu? Ceritanya cukup simple, karena di antara semua pelajaran eksak, kimialah yang paling mudah kupahami. Aku mengerti melebihi temanku yang pinter dalam bidang matematika, fisika, dan biologi. Dan itu anggap sebagai cinta.
Bapakku dan beberapa orang berkata tentang kimia bahwa kimia itu adalah pelajaran paling sulit, kimia identik dengan bom dan makanan-makanan yang berbahaya. Aku tidak peduli dengan opini-opinin itu yang mungkin memang benar adanya. Yang kutahu aku hanya menyukai kimia.
Kemudian aku menjalani kehidupanku sebagai mahasiswi jurusan kimia di UNEJ. Rasanya senangnya setengah mati. Kenapa? bukan hanya karena kimianya, tapi terlebih karena aku mendapatkan posisi itu dengan usaha yang tidak sepele. Aku tahajud di tengah malam, belajar pelajaran eksak setelahnya bahkan saat itu aku dalam posisi sebagai mahasiswi jurusan D1 bahasa inggris. Yang paling penting, pertamakalinya dalam hidupku aku bepergian ke tempat yang jauh dari orang tuaku sendirian. Anak pesantren, anak pingitan, tak pernah pergi jauh dari rumah kecuali ditemani orang tua, berangkat sendiri mengambil resiko ke jember. Ini sesuatu sekali buatku.
Lebih penting lagi adalah bagaimana aku mendapatkan ijin dari keluargaku untuk kuliah di kota. Kalian tahu nggak? Di desaku telah menyebar anggapan bahwa kuliah di kota akan membuat kita nakal, terutama anak perempuan, resiko untuk pergaulan bebas itu sangat besar. sekali lagi aku tidak peduli itu, yang kupikirkan hanyalah tentang mencari ilmu. Lagian, kalau niat kita sudah baik, Allah tidak akan tinggal diam saja kan membiarkan kita masuk ke kubangan dosa? Aku percaya itu. Semua proses itu sangat berharga untuk diacuhkan, aku selalu menghargai proses-proses itu yang akibatnya sungguh luar biasa mengubah hidupku.
Lebih jauh saat aku mulai menjadi bagian dari keluarga jurusan kimia FMIPA UNEJ. Banyak ilmu, pembelajaran, dan pengalaman yang sekecil apapun aku tidak ingin melupakannya. Dimulai bagaimana aku berkendara sepeda ontel dari pondok ke kampus, keberanian untuk meminjam mesin ketik pada temanku di awal semester, bagaimana kemudian aku berteman dan bersahabat dengan banyak orang, sempat diusir oleh dosen dari kelas, berlari dari satu tempat ke tempat lain saat aktif-aktifnya sebagai seorang aktivis, jurnalis, sekaligus akademisi dengan sedikit waktu untuk beristirahat.
Sungguh tak ada yang mudah. Proses perkuliahan tidak semudah di SMA. Apalagi proses kehidupan yang sudah jauh dari ortu di mana aku harus mandiri, serta proses pendewasaan diri dalam banyaknya masalah dan kendala.
Hingga untuk mengakhirinyapun sulitnya minta ampun. Terutama saat berkecimpung dalam penggarapan tugas individu skripsi. Mulai dari mencari topik, dosen pembimbing, ketar ketir diinterogasi dosen penguji saat seminar. Paling makjleb adalah masa-masa penelitian yang menghabiskan pikiran, uang, tenaga, dan WAKTU!
Sempat beberapa temanku mengatakan penyesalannya telah masuk kimia gara-gara skripsi yang aduhai sulit. teman-temanku yang jurusan lain juga menyesaliku masuk jurusan kimia karena penelitian yang lama. Bahkan teknisi lab kimia juga mengatakan satu-satunya kesalahanku adalah masuk jurusan kimia sehingga harus banyak bayar bahan untuk penelitian. Aku juga merasa sulit, tapi untuk menyesal gara-gara ini? tentu saja TIDAK! tidak sebanding dengan sulitnya perjuanganku di awal dan di tengah. Orang tuaku telah memberikan segalanya agar aku bisa hidup di Jember sebagai mahasiswi kimia. Sangat naïf kalau aku bilang menyesal. Sudah tinggal waktu untuk memetik buahnya.
Sungguh! Memang sekalipun aku tidak pernah menyesal telah masuk jurusan kimia FMIPA UNEJ. Aku senang, aku berbahagia, aku bangga.
Sekarang, aku sudah selesai sidang, tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan gelar S.Si secara resmi, Wisuda. Seluruh badan sudah capek, tapi kenapa aku tidak merasa lemah? Inikah yang disebut kepuasan? Semoga Allah memberiku berkah dan meridhoiku. Semoga bukan hanya gelar dari manusia yang kuperoleh, semoga Allah juga memberiku gelar yang tinggi. Amiin
Terimakasih Allah, aku cinta kimia, hingga dengannya aku berharap semakin dekat denganMU. Telah terbentang kesempurnaanMu dalam setiap reaksi kimia, bentuk molekul, eksitasi elektron, reaksi inti, dan regulasi tanpa eror. Pertemuanku dengan kimia adalah kerangka hidup yang dibuat oleh Engkau. Maka sekali-kali aku tak akan pernah mengingkarinya. Terimakasih Allah, sungguh ini hebat!
Bila kecintaan ini begitu bagus untukku, maka bukakanlah pintu yang lebih lebar untukku, agar lebih mencintainya, untuk lebih mengenalMU.
Bismillah S2 JEPANG!

Masalah Itu biasa



Sudah lumrah adanya masalah dalam setiap detak jantung kehidupan. Karena dunia ini memang tempatnya ujian. Setiap orang akan menanggung masalahnya masing-masing. Setiap orang hampir dihadapkan pada masalah yang berbeda. Ada yang tajam mengiris hati, ada yang hanya seringan kapas. Semuanya sudah sesuai porsinya (Qs. Albaqoroh)
Pada dasarnya letak masalah yang utama itu bukan pada masalah itu sendiri, juga bukan pada berat ringannya, namun terletak pada diri masing-masing. Karena setiap masalah ada lengkap dengan solusinya. setiap orang juga punya jalannya sendiri untuk mendapatkan solusi, dan setiap jalan yang diambil hanyalah tentang suatu proses. Proses pembelajaran, proses pemantasan diri, dan Proses pendekatan dengan tuhannya.
Hanya saja, terkadang kita tak mampu mengambil jalan yang menuju ke solusi atas masalah kita. Saat masalah terasa begitu berat, tiba-tiba saja kita terjatuh dalam ketidaksabaran. Saat masalah terasa begitu biasa, tiba-tiba saja kita terjatuh dalam kemalasan yang melalaikan. Ntah itu berat, atau itu ringan, pada akhirnya kita sama-sama tidak lulusnya.
Setiap episode dalam kehidupan ini semuanya adalah ujian. Ujian untuk menunjukkan keimanan yang terkumpul di dalam dada (Qs. Al-maidah). Tapi terkadang kita lupa, bahwa kepahitan dan kesulitan adalah suatu ujian. Hingga kita tidak mampu melihat pertolongan dan kasih sayang Allah SWT. Terkadang kita lupa, bahwa kebahagian dan kemudahan juga merupakan suatu ujian. Hingga kita hanya tertidur dan terbuai dalam sendunya angin sore.
Semua yang kita jalani dalam hidup ini adalah ujian. Karena ini hanyalah ujian, pengawasan dan jaminan itu akan selalu ada. Kita tidak akan mati karena kemiskinan, tidak akan mati karena rasa sakit. Karena ini hanyalah ujian, pengawasan dan penilaian itu akan selalu ada. Kita tidak akan melambung tinggi ke syurga karena pujian, juga tidak akan mudah melewati panasnya mahsyar karena sejuknya ruang ber AC di kamar.
Lalu, kenapa kita harus gentar dengan mahalnya sebutir nasi? Kenapa kita begitu santai dengan canggihnya teknologi di rumah?
Ah..

Belajar dari seorang Umar sang amirul mukminin

Banyak hal menarik dari diri seorang Umar yang memiliki kesan sangar. Setelah Allah memuliakannya dengan islam, Sifat kerasnya tak lantas hilang. sifat kerasnya masih ada sebagai salah satu wataknya. Namun, beda dengan saya tentunya, Jika sifat keras saya tidak terkendali, Namun Umar menggunakan sifat kerasnya tepat pada tempatnya. dia mampu mengolah sifat kerasnya menjadi sesuatu yang berguna dan berkualitas. aku berharap suatu saat juga bisa seperti Umar.

masih teringat saat detik-detik awal Umar menjabat sebagai khalifah menggantikan Abu bakar ra. Dengan gagah beliau berkata kepada rakyatnya bahwa sifat kerasnya telah menjadi 2x lipat dari sebelumnnya. ah siapa yang tidak takut mendengarnya? sebelumnya saja orang-orang saja sudah pada takut kok. Namun, Umar lalu melanjutkan bahwa kekerasannya hanya untuk melawan orang-orang yang tidak adil. sedangkan orang-orang yang baik maka beliau akan lebih lembut terhadap mereka dibandingkan siapapun. Ah betapa terarah kekerasannya, menjadi pedang terhunus yang memperkuat barisan mukminin.

Itulah pemimpin, Firoh..

masih teringat ketika umar menegaskan di awal beliau mengantor sebagai khalifah,
"Aku telah diuji dengan kalian, dan kalian juga telah diuji denganku"

ah, betapa besar penjabaran itu. Tiba-tiba saja aku ingat sama Indonesia, terlebih sama diriku sendiri. Jika saja aku dan semua orang memahami ini dan memegangnya dalam hati. mungkin tidak akan ada perselisihan buta yang mengelupas hak-hak manusia. Bisa kubayangkan betapa tentramnya negeri ini. Tapi jelas itu tidak mungkin. karena pada jaman Umar saja, perselisihan buta tetap ada. apatah lagi sekarang.

memang tidak mungkin, tapi setidaknya jika sekali lagi aku dan minimal para pemimpin yang intelek itu faham dengan ini, setidaknya aku berharap tidak akan ada yang memandang kursi jabatan itu adalah sebuah kekuasaan, bahwa kursi itu bukanlah sesuatu yang harus diperebutkan. Sebegitu besarnya kursi itu, hingga malaikatpun tak sanggup menanggung beratnya.

Bagaimana tidak berat jika rasa haus dan lapar bangsa menjadi tanggungan, jika kebodohan bangsa menjadi tanggungan, Jika kemaksiatan bangsa juga menjadi tanggungan.

Allah ya karim, semoga Engkau berkehendak memberikan karuniaMU kepada kami berupa kefahaman dan kesadaran bahwa segala sesuatunya akan Engkau tanyakan di akhirat Nanti. sesadar Umar yang menerima jabatan karena perintah agamanya, bukan karena keinginan pribadinya. amin amin amin yarobbal alamiin.

AKU MAU KEMANA?

Bukan hilang arah. juga bukan tersesat. aku hanya kurang yakin arah mana yang kusukai. akhirnya aku hanya diam di satu titik tanpa bergerak sedikitpun. diam ini sudah terjadi begitu lama. akhirnya hari ini aku merasa bosan. kenapa? karena aku jadi merasa tidak begitu berkualitas dalam menjalani kehidupan ini.

okeh, singkatnya, di saat teman-temanku sibuk dengan hobinya, di saat mereka bersemangat dengan karya-karya mereka yang telah mereka persembahkan bagi orang lain, di saat mereka gigih dengan target hidup yang telah mereka buat, ada aku yang termenung kosong. tidak ada hobi yang kukenal, tidak ada karya yang tercipta, dan banyak waktu yang terbuang begitu saja.

tiba-tiba saja tidak ada hal yang menarik mataku. kupikir aku suka menulis, tapi akhir-akhir ini keinginan untuk menulis mulai melemah. ntah fiksi ataupun non fiksi. aku pikir aku suka memperhatikan kebijakan politik yang sedang berlangsung di tanah air, tapi tak banyak yang kuketahui, aku jadi bingung mau belajar dari mana, aku pikir peduli pada pendidikan remaja Indonesia, nyatanya aku memang peduli, tapi mendidik adekku saja aku kurang begitu sabar.

anehnya, meskipun tak melakukan apapun yang mempertaruhkan antara kegagalan dan kesuksesan. beban pikiran semakin berat saja. stress. yah itu, aku merasa hidupku tidak berkualitas. apa yang harus aku lakukan?

kalau aku curhat pada teman-temanku, mereka akan bilang "kamulah yang tau jawabannya". ah!

akhirnya, aku memutuskan untuk mencarinya sendiri di internet. ada tiga pertanyaan untuk menjawab pertanyaan itu

1. apa yang saya cintai dari karir saya?
2. di mana saya kehilangan waktu terbesar saya?
3. apa kekuatan terbesar saya?

dari ketiga pertanyaan itu, pertanyaan no 2-lah yang paling mudah untuk kujawab.  aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk menonton film.

nah, apa banyak menonton film bisa menjadi sesuatu yang berguna?

Oh, untuk pertanyaan ketiga, katanya aku bisa menjawabnya dengan menanyakan pada ketiga temanku tentang hal yang paling inspiratif dari diriku. aku harus membuat daftar.

ah, tidak ada salahnya aku coba.
do'akan aku ya.

#Allah, aku sedang berusaha menjadi hambaMU yang baik, berkualitas dan berguna, tolonglah aku ya Allah. amin


HIDUP


Hidup,
bagaimana aku harus menyikapinya?
Saat ujian terasa seperti kutukan
Saat kesabaran pupus berganti amarah

Hidup,
Haruskah aku nikmati saja secangkir coklat hangat di pagi hari?
     Bahwa malam kan tersingkirkan pada pagi esok
     Bahwa burung yang terbangpun masih bisa kenyang

Hidup, 
Haruskah aku mengencangkan ikat pinggangku saat bercermin?
Bahkan luka dalam perang uhud menjadi tanda kegagahan yang dinanti bidadari
Bahkan Jepangpun bisa terlihat dari puncak gunung Fuji

     Hidup,
     Adakah aku kembali lupa?
     Akan kejahilan dan cahaya yang bergantian datang
     Akan huruf-huruf yang kupungut selama 23 tahun lamanya

Ah, tersandung batu emang lebih sakit dari sekedar ungkapan iba


Pertanyaan-pertanyaan masa kecil



     Tak semua cerita masa kecil bisa kuingat. Namun, beberapa potongan memory melekat kuat dalam otakku sampai sekarang. Potongan-potongan yang tak terbentuk, seperti pertanyaan-pertanyaan di benakku yang tak pernah kulontarkan pada siapapun, pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya aku coba fahami dalam perjalanan umurku, yang baru kusadari beberapa tahun terakhir ini.
 
Berawal dari suatu permainan petak umpet dengan teman-temanku di desa sumberan. Kala itu, aku menjadi orang yang dicari. Dengan gaun putri-putrian-ku mungkin, dengan rambut terkepang dua mungkin, dan tanpa alas kaki, aku bersembunyi di samping rumah pamanku. Siang itu, di antara dedauanan pohon mangga, langit Nampak begitu cerah. Birunya terang sekali, beberapa bentuk awan menghiasi birunya langit. Dalam persembunyianku, aku mendongakkan kepala ke atas, menikmati lukisan yang begitu hidup di langit. Aku suka dekorasi langit kala itu. Beberapa kumpulan awan bergeser berganti posisi. Mungkin saat itu juga tiba-tiba ada pertanyaan dalam hatiku. Meskipun tak cukup yakin dengan setting waktu dan tempatnya, tapi pertanyaan itu masih yakin kuingat.

“Siapa yang paling berkuasa di dunia ini, manusia-kah?”
“Tapi manusia pada akhirnya terus bergantian, apakah pergantian ini akan terus terjadi?”
“Mungkinkah suatu saat, manusia mati semuanya?”
“Lalu, siapa nanti yang akan berkuasa di dunia?”
“Dan, sebenarnya, ke mana manusia yang mati itu?”
“Atau, mereka nanti akan kembali lagi ke dunia?”
“Kalau iya, apakah kehidupan di dunia akan sama dengan yang sebelumnya?”
Tidak lama, pertanyaan itu segera membeku di otakku, tak lagi kupikirkan. Mungkin saat itu aku segera mengalahkan lagi temanku yang sedang menjadi seseorang yang mencari. Tak lagi kuingat, yang jelas, aku hampir selalu menang dalam setiap permainan. Bisa dibilang aku top dalam strategi mengalahkan musuh.
Laa ilaa ha illallaah.. Tiada tuhan selain Allah. Potongan episode lain masih membekas di otakku. Dari cerita Ibrahim di masjid sekolah, pelan-pelan kulangkahkan kakiku menuju rumah. Masih sore kala itu, dengan tas plastik di lengan kananku dan gaun putih selutut dengan kerudung pendek CTS, mengikuti arah jalannya langit yang seakan-akan mengikutiku, otakku sadar berfantasi, tentang kesamaan aku dan Ibrahim yang bertanya dan mencari, meskipun prosesnya sama sekali tak sama.
Jadi, Allah-lah tuhanku. Tanpa kusadari bahwa itu adalah jawaban dari pertanyaan yang pernah membeku itu. selanjutnya, aku menjalani hidup sesuai usiaku di jaman sekarang, jelas tak sama dengan Ibrahim yang begitu serius dan fokus dengan gejolak di hatinya tentang sang pencipta, karena aku segera melupakannya sesaat setelah hatiku membatin tentang hal yang menurutku cukup misterius kala itu, bersambut dengan masa kanak-kanak yang sangat kanak-kanak, dan perjalanan hidup itu terus berlanjut linier dengan usiaku. Linieritas ini, biar kujelaskan dalam episode yang lain dalam awan huruf musafir ini.
Adakah ini serupa dengan yang kalian alami saat kalian masih belum menanggung dosa, teman-teman?
Kalau iya, mungkinkah kita semua sama?
Inikah salah satu fitrah lain dari kehidupan manusia setelah lama ia berikrar tentang tuhannya di alam sebelum dunia?
Ah.. J