Belajar dari seorang Umar sang amirul mukminin

Banyak hal menarik dari diri seorang Umar yang memiliki kesan sangar. Setelah Allah memuliakannya dengan islam, Sifat kerasnya tak lantas hilang. sifat kerasnya masih ada sebagai salah satu wataknya. Namun, beda dengan saya tentunya, Jika sifat keras saya tidak terkendali, Namun Umar menggunakan sifat kerasnya tepat pada tempatnya. dia mampu mengolah sifat kerasnya menjadi sesuatu yang berguna dan berkualitas. aku berharap suatu saat juga bisa seperti Umar.

masih teringat saat detik-detik awal Umar menjabat sebagai khalifah menggantikan Abu bakar ra. Dengan gagah beliau berkata kepada rakyatnya bahwa sifat kerasnya telah menjadi 2x lipat dari sebelumnnya. ah siapa yang tidak takut mendengarnya? sebelumnya saja orang-orang saja sudah pada takut kok. Namun, Umar lalu melanjutkan bahwa kekerasannya hanya untuk melawan orang-orang yang tidak adil. sedangkan orang-orang yang baik maka beliau akan lebih lembut terhadap mereka dibandingkan siapapun. Ah betapa terarah kekerasannya, menjadi pedang terhunus yang memperkuat barisan mukminin.

Itulah pemimpin, Firoh..

masih teringat ketika umar menegaskan di awal beliau mengantor sebagai khalifah,
"Aku telah diuji dengan kalian, dan kalian juga telah diuji denganku"

ah, betapa besar penjabaran itu. Tiba-tiba saja aku ingat sama Indonesia, terlebih sama diriku sendiri. Jika saja aku dan semua orang memahami ini dan memegangnya dalam hati. mungkin tidak akan ada perselisihan buta yang mengelupas hak-hak manusia. Bisa kubayangkan betapa tentramnya negeri ini. Tapi jelas itu tidak mungkin. karena pada jaman Umar saja, perselisihan buta tetap ada. apatah lagi sekarang.

memang tidak mungkin, tapi setidaknya jika sekali lagi aku dan minimal para pemimpin yang intelek itu faham dengan ini, setidaknya aku berharap tidak akan ada yang memandang kursi jabatan itu adalah sebuah kekuasaan, bahwa kursi itu bukanlah sesuatu yang harus diperebutkan. Sebegitu besarnya kursi itu, hingga malaikatpun tak sanggup menanggung beratnya.

Bagaimana tidak berat jika rasa haus dan lapar bangsa menjadi tanggungan, jika kebodohan bangsa menjadi tanggungan, Jika kemaksiatan bangsa juga menjadi tanggungan.

Allah ya karim, semoga Engkau berkehendak memberikan karuniaMU kepada kami berupa kefahaman dan kesadaran bahwa segala sesuatunya akan Engkau tanyakan di akhirat Nanti. sesadar Umar yang menerima jabatan karena perintah agamanya, bukan karena keinginan pribadinya. amin amin amin yarobbal alamiin.

Leave a Reply