Masalah Itu biasa



Sudah lumrah adanya masalah dalam setiap detak jantung kehidupan. Karena dunia ini memang tempatnya ujian. Setiap orang akan menanggung masalahnya masing-masing. Setiap orang hampir dihadapkan pada masalah yang berbeda. Ada yang tajam mengiris hati, ada yang hanya seringan kapas. Semuanya sudah sesuai porsinya (Qs. Albaqoroh)
Pada dasarnya letak masalah yang utama itu bukan pada masalah itu sendiri, juga bukan pada berat ringannya, namun terletak pada diri masing-masing. Karena setiap masalah ada lengkap dengan solusinya. setiap orang juga punya jalannya sendiri untuk mendapatkan solusi, dan setiap jalan yang diambil hanyalah tentang suatu proses. Proses pembelajaran, proses pemantasan diri, dan Proses pendekatan dengan tuhannya.
Hanya saja, terkadang kita tak mampu mengambil jalan yang menuju ke solusi atas masalah kita. Saat masalah terasa begitu berat, tiba-tiba saja kita terjatuh dalam ketidaksabaran. Saat masalah terasa begitu biasa, tiba-tiba saja kita terjatuh dalam kemalasan yang melalaikan. Ntah itu berat, atau itu ringan, pada akhirnya kita sama-sama tidak lulusnya.
Setiap episode dalam kehidupan ini semuanya adalah ujian. Ujian untuk menunjukkan keimanan yang terkumpul di dalam dada (Qs. Al-maidah). Tapi terkadang kita lupa, bahwa kepahitan dan kesulitan adalah suatu ujian. Hingga kita tidak mampu melihat pertolongan dan kasih sayang Allah SWT. Terkadang kita lupa, bahwa kebahagian dan kemudahan juga merupakan suatu ujian. Hingga kita hanya tertidur dan terbuai dalam sendunya angin sore.
Semua yang kita jalani dalam hidup ini adalah ujian. Karena ini hanyalah ujian, pengawasan dan jaminan itu akan selalu ada. Kita tidak akan mati karena kemiskinan, tidak akan mati karena rasa sakit. Karena ini hanyalah ujian, pengawasan dan penilaian itu akan selalu ada. Kita tidak akan melambung tinggi ke syurga karena pujian, juga tidak akan mudah melewati panasnya mahsyar karena sejuknya ruang ber AC di kamar.
Lalu, kenapa kita harus gentar dengan mahalnya sebutir nasi? Kenapa kita begitu santai dengan canggihnya teknologi di rumah?
Ah..

Belajar dari seorang Umar sang amirul mukminin

Banyak hal menarik dari diri seorang Umar yang memiliki kesan sangar. Setelah Allah memuliakannya dengan islam, Sifat kerasnya tak lantas hilang. sifat kerasnya masih ada sebagai salah satu wataknya. Namun, beda dengan saya tentunya, Jika sifat keras saya tidak terkendali, Namun Umar menggunakan sifat kerasnya tepat pada tempatnya. dia mampu mengolah sifat kerasnya menjadi sesuatu yang berguna dan berkualitas. aku berharap suatu saat juga bisa seperti Umar.

masih teringat saat detik-detik awal Umar menjabat sebagai khalifah menggantikan Abu bakar ra. Dengan gagah beliau berkata kepada rakyatnya bahwa sifat kerasnya telah menjadi 2x lipat dari sebelumnnya. ah siapa yang tidak takut mendengarnya? sebelumnya saja orang-orang saja sudah pada takut kok. Namun, Umar lalu melanjutkan bahwa kekerasannya hanya untuk melawan orang-orang yang tidak adil. sedangkan orang-orang yang baik maka beliau akan lebih lembut terhadap mereka dibandingkan siapapun. Ah betapa terarah kekerasannya, menjadi pedang terhunus yang memperkuat barisan mukminin.

Itulah pemimpin, Firoh..

masih teringat ketika umar menegaskan di awal beliau mengantor sebagai khalifah,
"Aku telah diuji dengan kalian, dan kalian juga telah diuji denganku"

ah, betapa besar penjabaran itu. Tiba-tiba saja aku ingat sama Indonesia, terlebih sama diriku sendiri. Jika saja aku dan semua orang memahami ini dan memegangnya dalam hati. mungkin tidak akan ada perselisihan buta yang mengelupas hak-hak manusia. Bisa kubayangkan betapa tentramnya negeri ini. Tapi jelas itu tidak mungkin. karena pada jaman Umar saja, perselisihan buta tetap ada. apatah lagi sekarang.

memang tidak mungkin, tapi setidaknya jika sekali lagi aku dan minimal para pemimpin yang intelek itu faham dengan ini, setidaknya aku berharap tidak akan ada yang memandang kursi jabatan itu adalah sebuah kekuasaan, bahwa kursi itu bukanlah sesuatu yang harus diperebutkan. Sebegitu besarnya kursi itu, hingga malaikatpun tak sanggup menanggung beratnya.

Bagaimana tidak berat jika rasa haus dan lapar bangsa menjadi tanggungan, jika kebodohan bangsa menjadi tanggungan, Jika kemaksiatan bangsa juga menjadi tanggungan.

Allah ya karim, semoga Engkau berkehendak memberikan karuniaMU kepada kami berupa kefahaman dan kesadaran bahwa segala sesuatunya akan Engkau tanyakan di akhirat Nanti. sesadar Umar yang menerima jabatan karena perintah agamanya, bukan karena keinginan pribadinya. amin amin amin yarobbal alamiin.

AKU MAU KEMANA?

Bukan hilang arah. juga bukan tersesat. aku hanya kurang yakin arah mana yang kusukai. akhirnya aku hanya diam di satu titik tanpa bergerak sedikitpun. diam ini sudah terjadi begitu lama. akhirnya hari ini aku merasa bosan. kenapa? karena aku jadi merasa tidak begitu berkualitas dalam menjalani kehidupan ini.

okeh, singkatnya, di saat teman-temanku sibuk dengan hobinya, di saat mereka bersemangat dengan karya-karya mereka yang telah mereka persembahkan bagi orang lain, di saat mereka gigih dengan target hidup yang telah mereka buat, ada aku yang termenung kosong. tidak ada hobi yang kukenal, tidak ada karya yang tercipta, dan banyak waktu yang terbuang begitu saja.

tiba-tiba saja tidak ada hal yang menarik mataku. kupikir aku suka menulis, tapi akhir-akhir ini keinginan untuk menulis mulai melemah. ntah fiksi ataupun non fiksi. aku pikir aku suka memperhatikan kebijakan politik yang sedang berlangsung di tanah air, tapi tak banyak yang kuketahui, aku jadi bingung mau belajar dari mana, aku pikir peduli pada pendidikan remaja Indonesia, nyatanya aku memang peduli, tapi mendidik adekku saja aku kurang begitu sabar.

anehnya, meskipun tak melakukan apapun yang mempertaruhkan antara kegagalan dan kesuksesan. beban pikiran semakin berat saja. stress. yah itu, aku merasa hidupku tidak berkualitas. apa yang harus aku lakukan?

kalau aku curhat pada teman-temanku, mereka akan bilang "kamulah yang tau jawabannya". ah!

akhirnya, aku memutuskan untuk mencarinya sendiri di internet. ada tiga pertanyaan untuk menjawab pertanyaan itu

1. apa yang saya cintai dari karir saya?
2. di mana saya kehilangan waktu terbesar saya?
3. apa kekuatan terbesar saya?

dari ketiga pertanyaan itu, pertanyaan no 2-lah yang paling mudah untuk kujawab.  aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk menonton film.

nah, apa banyak menonton film bisa menjadi sesuatu yang berguna?

Oh, untuk pertanyaan ketiga, katanya aku bisa menjawabnya dengan menanyakan pada ketiga temanku tentang hal yang paling inspiratif dari diriku. aku harus membuat daftar.

ah, tidak ada salahnya aku coba.
do'akan aku ya.

#Allah, aku sedang berusaha menjadi hambaMU yang baik, berkualitas dan berguna, tolonglah aku ya Allah. amin


HIDUP


Hidup,
bagaimana aku harus menyikapinya?
Saat ujian terasa seperti kutukan
Saat kesabaran pupus berganti amarah

Hidup,
Haruskah aku nikmati saja secangkir coklat hangat di pagi hari?
     Bahwa malam kan tersingkirkan pada pagi esok
     Bahwa burung yang terbangpun masih bisa kenyang

Hidup, 
Haruskah aku mengencangkan ikat pinggangku saat bercermin?
Bahkan luka dalam perang uhud menjadi tanda kegagahan yang dinanti bidadari
Bahkan Jepangpun bisa terlihat dari puncak gunung Fuji

     Hidup,
     Adakah aku kembali lupa?
     Akan kejahilan dan cahaya yang bergantian datang
     Akan huruf-huruf yang kupungut selama 23 tahun lamanya

Ah, tersandung batu emang lebih sakit dari sekedar ungkapan iba


Pertanyaan-pertanyaan masa kecil



     Tak semua cerita masa kecil bisa kuingat. Namun, beberapa potongan memory melekat kuat dalam otakku sampai sekarang. Potongan-potongan yang tak terbentuk, seperti pertanyaan-pertanyaan di benakku yang tak pernah kulontarkan pada siapapun, pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya aku coba fahami dalam perjalanan umurku, yang baru kusadari beberapa tahun terakhir ini.
 
Berawal dari suatu permainan petak umpet dengan teman-temanku di desa sumberan. Kala itu, aku menjadi orang yang dicari. Dengan gaun putri-putrian-ku mungkin, dengan rambut terkepang dua mungkin, dan tanpa alas kaki, aku bersembunyi di samping rumah pamanku. Siang itu, di antara dedauanan pohon mangga, langit Nampak begitu cerah. Birunya terang sekali, beberapa bentuk awan menghiasi birunya langit. Dalam persembunyianku, aku mendongakkan kepala ke atas, menikmati lukisan yang begitu hidup di langit. Aku suka dekorasi langit kala itu. Beberapa kumpulan awan bergeser berganti posisi. Mungkin saat itu juga tiba-tiba ada pertanyaan dalam hatiku. Meskipun tak cukup yakin dengan setting waktu dan tempatnya, tapi pertanyaan itu masih yakin kuingat.

“Siapa yang paling berkuasa di dunia ini, manusia-kah?”
“Tapi manusia pada akhirnya terus bergantian, apakah pergantian ini akan terus terjadi?”
“Mungkinkah suatu saat, manusia mati semuanya?”
“Lalu, siapa nanti yang akan berkuasa di dunia?”
“Dan, sebenarnya, ke mana manusia yang mati itu?”
“Atau, mereka nanti akan kembali lagi ke dunia?”
“Kalau iya, apakah kehidupan di dunia akan sama dengan yang sebelumnya?”
Tidak lama, pertanyaan itu segera membeku di otakku, tak lagi kupikirkan. Mungkin saat itu aku segera mengalahkan lagi temanku yang sedang menjadi seseorang yang mencari. Tak lagi kuingat, yang jelas, aku hampir selalu menang dalam setiap permainan. Bisa dibilang aku top dalam strategi mengalahkan musuh.
Laa ilaa ha illallaah.. Tiada tuhan selain Allah. Potongan episode lain masih membekas di otakku. Dari cerita Ibrahim di masjid sekolah, pelan-pelan kulangkahkan kakiku menuju rumah. Masih sore kala itu, dengan tas plastik di lengan kananku dan gaun putih selutut dengan kerudung pendek CTS, mengikuti arah jalannya langit yang seakan-akan mengikutiku, otakku sadar berfantasi, tentang kesamaan aku dan Ibrahim yang bertanya dan mencari, meskipun prosesnya sama sekali tak sama.
Jadi, Allah-lah tuhanku. Tanpa kusadari bahwa itu adalah jawaban dari pertanyaan yang pernah membeku itu. selanjutnya, aku menjalani hidup sesuai usiaku di jaman sekarang, jelas tak sama dengan Ibrahim yang begitu serius dan fokus dengan gejolak di hatinya tentang sang pencipta, karena aku segera melupakannya sesaat setelah hatiku membatin tentang hal yang menurutku cukup misterius kala itu, bersambut dengan masa kanak-kanak yang sangat kanak-kanak, dan perjalanan hidup itu terus berlanjut linier dengan usiaku. Linieritas ini, biar kujelaskan dalam episode yang lain dalam awan huruf musafir ini.
Adakah ini serupa dengan yang kalian alami saat kalian masih belum menanggung dosa, teman-teman?
Kalau iya, mungkinkah kita semua sama?
Inikah salah satu fitrah lain dari kehidupan manusia setelah lama ia berikrar tentang tuhannya di alam sebelum dunia?
Ah.. J

Motivator Terhebat



            “Zahra, kamu tidak akan mati hanya gara-gara ini kan?” seseorang itu mencengkram kedua pundakku, menghentakku hebat. Aku ternganga melihat dia begitu dekat di depan mataku. Mataku mendelik lebar dengan kemunculannya dalam sepersekian detik, tepat di depanku, dalam ruang tak berbatas dimensi.

“Jangan bilang kamu akan menabur malu di wajah ayahmu! Bayangkan orang-orang akan berkata bahwa Zahra mati bunuh diri hanya gara-gara gak punya uang buat kuliahnya yang tinggal beberapa bulan lagi! Mending gak usah disekolahkan tapi anak bisa hidup tenang daripada tertekan seperti itu. Malang sekali Zahra memiliki ayah yang tidak tahu diri! Memaksakan kehendak di luar batas kemampuannya. Kalau miskin ya sudah jangan berlebihan bermimpi! ” pundakku semakin sakit dalam cengkramannya

“Lalu apa bedanya kamu dengan orang yang tak pernah sekolah?!” bentaknya mengeras. “Zahra, sapu bersih debu-debu yang menyamarkan kesehatan akalmu! Lihatlah si Rizki, dia bahkan lebih miskin dari kamu. Ibunya sakit-sakitan. Penelitiannya gagal berpuluh-puluh kali. Tapi dia tidak mati, bukan? Kamu lihat sendiri, kemaren dia masih sempat cubit-cubitan dengan teman sebangkunya. Dia masih bisa hidup selayaknya manusia hidup! Tidakkah kamu malu padanya?”

“Bangun, Zahra! Ini bukan bencana. Ini waktumu untuk bertarung dengan potensi yang selalu kamu pandang sebelah mata. Sudah cukup meremehkan diri sendiri. Lihatlah Wanda, temanmu yang gendut itu! bukan hanya perutnya yang gendut, tapi prestasinya juga gendut, uang di sakunya pun ikutan mengendut dengan bisnis nasi kuningnya. Emang apa kurangnya kamu dari dia? Kamu sama manusianya dengan dia. Kalau kamu mau, kamu bisa seperti dia! Gerakan badanmu bahkan lebih lincah darinya. Kamu bisa berlari 10x lebih cepat dengan badan seramping milikmu” ujarnya lancar tanpa memberiku kesempatan untuk mengintrogasi identitasnya. 

“Zahra, percayalah ini bukan soal masalah. Ini soal kamu. Kamu mau ato tidak menghadapinya? Ini soal kamu mau ato tidak untuk mengayunkan kakimu? Ini soal kamu mau hidup bahagia atau hidup terpuruk termakan rayap yang menggerogoti mentalmu? Itu saja” dia mulai melembut. 

Hening. Mata kami bertemu tanpa sedikitpun melewati frame mata kami. Pas. Matanya memantulkan kepercayaan, rasa optimis, dan kekuatan. Mengaktifkan kembali hormon endofrinku, mencairkan kembali darahku yang rasa-rasanya hampir membeku, dan sekarang ia mengalir deras ke hatiku, nadiku, sistem syarafku. Menyegarkan kulit wajahku. Rasanya, aku mengenalnya. Memang, aku mengenalnya.

Seketika dinding sempit bersemen itu memanjang dan melebar lalu menghilang memperlihatkan hamparan rumput hijau berembun. sejuk. Air liur di lidahku kembali terasa netral. Bibirku tertarik sempurna melengkung bak bulan sabit.

“Iya! Ini ada solusinya. Pasti teratasi. Aku mau ini selesai dengan baik. Aku mau begitu. Aku mau!” ujarku tiba-tiba padanya, pada seseorang yang sekarang tidak lagi mencengkramku, namun menatapku dengan penuh cahaya yang menghangatkan urat dalam tubuhku.

Tanganku mencoba menyentuh sesuatu. Kursi plastik. Sentuhan ini mengembalikan batas-batas dimensi ruang tamuku. Aku segera berdiri lalu berlari ke kamar mandi. Aku berlari seakan-akan menemukan sejuta ton berlian. Dengan penuh senyuman aku melaju ke kamar mandi, mencuci wajah, lalu ke kamarku mengganti bajuku dengan baju yang kemaren sudah disetrika sempurna bercampurkan wangi pelembut pakaian.

Kurapikan pakaianku di depan cermin. “Yosh! Aku siap bertarung!” ucapku penuh semangat dan tersenyum lebar meniru gaya Mizuki dalam drama jepang yang pernah kutonton. Aku meraih tas slempanganku yang sudah berisi kertas dan pulpen. Aku melangkah ke luar rumah, mengambil sepeda ontelku, dan mengayuhnya menuju pusat informasi lowongan kerja untuk mahasiswa.
******
“Maaf baru balas, namamu gak ada di daftar, Ra. Mungkin belum rejekimu” begitu isi sms dari Agung, teman sekelasku yang rutin dapat beasiswa tiap tahun.

            Otot-ototku seperti mengempes secara serentak, lemas. Pandanganku kabur, dan hatiku? aku tidak tahu lagi. Satu-satunya hal yang kuharapkan menjadi jalan paling lancar kandas sudah. Tahun ini aku tidak mendapatkan beasiswa dari kampus. 

            Jalan di depan terlihat buntu. Aku tidak tahu mau melangkah kemana. Aku coba membesarkan hati, tapi kenyataan ini terlalu besar untuk kututupi dengan kelapangan hatiku yang sedemikian sempit menerima kenyataan.

            “Mbak” Zidna, adekku, menyentuh lenganku takut-takut. Kuberanikan untuk melihat wajahnya. “Hmm?” responku meminta menjelaskan keperluannya.

            “Aku mau bayar spp, mbak. Terakhir akhir bulan ini. Agaknya, ayah masih belum punya uang” jelasnya pelan. “Terus, dek wahed juga butuh uang buat bayar spp-nya yang sudah 5 bulan menunggak. Dia tidak bisa mengambil raport sebelum spp-nya lunas” imbuhnya lagi.

            Aku menyimaknya semakin pedih. Bagaimana tidak, ayahku gagal panen. Sedangkan beliau hanyalah seorang buruh tani. Adek pertamaku sudah kelas 3 SMA. Bukan hanya masalah spp bulan ini, tapi juga uang UN. Pun adek keduaku punya keperluan yang sama. Belum lagi masalah setoran bulanan sepeda motor.

Aku sendiri sedang dalam penelitian untuk gelar S.Si-ku. Parahnya, bahan-bahan penelitian yang kuperlukan tidak ada yang murah kecuali akuades yang perliternya seharga RP 1500 itu. Sudah lebih dari 1 juta uang yang kuhabiskan untuk penelitian, dan semuanya belum ada hasilnya, gagal total. Masalah penelitian yang tak kunjung berhasil sudah membuatku frustasi, masih ditambah dengan masalah uang.

            Aku menyandarkan kepalaku pada kursi dari bahan plastik yang warnanya sudah memudar dimakan waktu. Kupejamkan mata, berusaha melupakan yang terjadi sejenak. Namun, terus saja bayangan-bayangan kenyataan hidup yang kujalani sekarang semakin menggila di kepalaku.

            “Argh!” kepalaku sakit. Aku seperti berada di tempat yang sempit. Berputar ke arah manapun, yang ditemui hanyalah dinding bersemen. Tak ada udara, tak ada rerumputan hijau untuk sekedar menyejukkan kepala. Membuatku ingin muntah. Rasanya mau mati saja. Tanpa beasiswa itu, mustahil aku bisa memenuhi kebutuhan hidupku dan membantu ayahku.

            Sebentar lagi, mungkin aku akan gila. Mentalku hancur tak berbentuk. Aku bukan orang yang pasif selama ini, aku aktif ikut seminar-seminar motivasi. Tapi ntahlah, motivasi-motivasi itu hanya menggugahku saat acara berlangsung, namun segera menguap bersama teriknya matahari dalam perjalanan pulang. Aku berusaha mengingat kata-kata saat acara motivasi, namun nihil. Itu tak cukup menggebrakku keluar dari keterpurukan mental ini.
******
            “Selamat bergabung dengan kami, kita bertemu lagi besok sore” ketua lembaga kursus bimbingan belajar PINTAR menyalamiku. Aku diterima menjadi guru les di sini, kerja part time. Meskipun gajinya tidak seberapa, setidaknya, satu pintu telah terbuka. Aku juga berencana membuka layanan terjemah Inggris-Indonesia. Kemampuan bahasa inggrisku cukup bagus.

            Masalah penelitian, aku akan mengulangnya lagi besok pagi. Mungkin aku harus lebih teliti, aku yakin pada saatnya, ini akan berakhir dengan baik. Untuk sementara, aku memutuskan meminjam uang pada si gendut Winda. Aku juga akan lebih berhemat lagi masalah makanan, mungkin aku akan sering berpuasa. Selebihnya aku akan bekerja keras lagi dan lagi.

            “Ya Allah, Engkau memberiku ujian ini, Engkau tahu aku mampu, maka tak ada alasan bagiku untuk menyerah. Aku malu padaMU. Sungguh! Begitu indah perhatianMU padaku, agar aku berkembang dengan potensi dahsyat yang Engkau titipkan padaku, maka Engkau kirimkan ujian padaku. Aku akan meminjam semua potensi yang Engkau berikan padaku, dan pertolonganMU adalah jaminan pasti, seperti yang Engkau kirimkan padaku kemaren, hentakan itu, kemauan itu” bisikku tulus dalam hati, “I’m gonna protect my life” bisikku lagi.

            Hari ini benar-benar cerah. Asal aku mau menggerakkan otak dan badanku, masalah sebesar apapun, akan menjadi kecil. Ini hanya soal sudut pandang bukan? hahaha, aku tidak jadi gila atau bunuh diri. Saatnya menunjukkan betapa memesonanya diriku pada dunia.

            “Bagus, Zahra!” seseorang sedang mengacungkan 2 jempolnya padaku. Seseorang yang sempat membuatku kaget. Dia sedang tersenyum padaku. Ah Senyumnya begitu memesona. Kali ini aku tidak lagi merasa kaget dengan kehadirannya. Bagaimana tidak, tak sedetikpun dia lepas dariku. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal sambil tersenyum tak kalah memesonanya.

            “Terimakasih Zahra, motivator terhebatku” ucapku bahagia menatap cermin di tempat kerja baruku ini lalu melangkah pulang.

Gue Calon Pemimpin Negeri Ini Part 1


Sebenarnya, gue lebih suka menjalani hidup dengan biasa-biasa saja tanpa mikirin hal yang berat-berat seperti masalah-masalah remaja, korupsi, ataupun pilpres. Tapi gue gak bakal ngikuti jalan tanpa tikungan seperti itu. Gue mau bersesak-sesak ria melihat tayangan tawuran anak SMA, berberat-berat pikir dengan para pengemis yang bersahabat dengan kelaparan dan kebodohan, menyerabukkan pikiran dengan aneka ide kreatif untuk mengatasi segala permasalahan kompleks yang sedang menyelimuti negeri tercinta. Kenapa? karena gue adalah calon pemimpin negeri ini.
 
Sebenarnya, gue lebih suka menangis saat ada merasa sakit, di manapun. Gue juga senang banget mengeluh meluahkan segala kekesalanku atas warna dinding kehidupan yang gue jalani. Tapi, gue gak akan bersikap cengeng dan lemah begitu. Kenapa? karena gue adalah calon pemimpin negeri ini. Gue tahu segala aneka masalah yang membenturku saat ini hanyalah masalah-masalah kecil yang tidak lebih besar dari permasalahan yang akan gue hadapi nanti saat gue jadi pemimpin. Jadi, gue gak akan menangis dan mengeluh hanya karena kerikil-kerikil kecil yang bisa kuatasi dengan sandal jepit 5000-an.

Sebenarnya, hati gue sesak sesesak sesaknya saat gue tidak membalas perlakuan buruk orang lain padaku, gue marah semarah-marahnya saat hakku diambil dengan penuh kelicikan. Rasa-rasanya caci maki 1 hari penuh tidak akan cukup untuk membalas sakit di hatiku. Tapi telah gue lepaskan semuanya. Gue udah lepaskan segala kata sesak, sakit hati, dan marah atas kedoliman yang kuterima pada Allah yang maha melihat dan maha mengetahui. Kenapa? karena gue calon pemimpin negeri ini. Gue tahu, segelintir orang dengan perkataan dan perlakuan beracunnya padaku sekarang terlampau sedikit jika dibandingkan dengan ocehan-ocehan tak berdasar saat gue jadi pemimpin nanti. Salah satu perbedaan antara pemimpin dan orang biasa adalah jika orang biasa memiliki hati seluas kota Jember, maka pemimpin harus memiliki hati seluas Provinsi Jawa Timur. Dan gue akan perluas hati gue sampai bangsa Negeri ini tak dapat melihat batas wilayahnya lagi.

Gue Calon Pemimpin Negeri, Gue siap sediakan akal secerdas professor seluruh bidang ilmu,  Gue siap sediakan bangunan sekokoh gunung dalam diri, Gue siap sediakan lahan seluas di luar perkiraan orang semua kalangan dalam hati. 

Gue, Calon Pemimpin negeri