ada masanya

Ada masanya, manusia terombang ambing oleh keputusan yang diambil sendiri
Ada masanya, manusia menyesali atas keputusan yang telah dia jalani
Ada masanya, manusia berhenti berharap dengan kesukaran yang sudah tak terlogika,
Ada masanya, manusia menjadi frustasi atas hidup yang dijalaninya kemaren.

Biar kuberi tahu, semua itu wajib kau jalani, wajib kau rasakan,
Saat kau merasa bingung dengan keputusan yang kau ambil, dan tak bisa memilih untuk membatalkannya, maka satu tahap hidup telah kau jalani secara normal
“kau mulai memasuki ruang yang bernama masalah”
Saat kau mulai menyesali keputusan itu, dan ingin kembali mengulang waktu, maka pada saat itu kau hanya melakukan 1 pilihan
“menyelesaikan”
Saat kau mulai berhenti berharap dengan kesukaran yang menurutmu sudah tak akan ada jalan lagi, maka kau telah mulai mengaktifkan hidupmu dari bawah nol minus hingga tak terhingga.
Saat kau mulai frustasi, tak ada pilihan lain kecuali menjadi gila dengan pemikiranmu.
“brutal”
Dan kau tau? Brutal ini yang akan mengaktifkan sisi nekad-mu! Menjadi buta dengan segala rintangan, yang ada hanya jalan lurus, yang disana kau tidak akan menoleh kemana2 lagi.. lurus.. terus saja lurus.. tak ada rasa canggung dan rasa takut. satu-satunya anggapan yang kau tau adalah “you are mine”. Kau tau apa yang akan terjadi saat itu? The low of attraction akan bekerja! And just wait.. itu akan bener – benar menjadi milikmu!
Jadi kesimpulannya kawand, saat kau merasakan 4 rasa di atas, jangan pernah anggap dirimu menyedihkan, setiap orang yang frustasi karena kegagalan, tak 100% nyali di hatinya berhenti. Namun ada sesuatu yang mulai muncul seperti magma kecil yang terus memanas dalam gunung yang tetap aktif. Magma itu yang akan memberi kekuatan lebih besar dari semula kau mengambil keputusan. Magma yang membuatmu gerah dengan kegagalanmu, magma yang akan membakar dendam atas penyesalanmu, magma yang akan memberikan kekuatan melebihi matahari dan lebih dahsyat dari reaksi fusi. Magma kecil itu yang akan kita manfaatkan untuk meletuskan dunia menjadi bagian2 yang saaaaaaaangat kecil dan membiarkan diri kita menjadi the king of the world…
Well guys, sebenarnya aku sama sekali tidak ingin mengajakmu untuk tersesat dalam setiap keputusan yang kau ambil hanya untuk memperoleh energi sebesar matahari. Tulisan ini hanya untuk dikau yang merasa ke-4 rasa di atas adalah abnormal, sebagai suatu masalah yang tidak bisa diatasi, yang membuatmu merasa gagal dalam keputusan2mu. Aku hanya ingin menunjukkan, bahwa dalam setiap kelemahan dan kegagalan selalu ada celah kecil yang akan selalu menjadi alasan kenapa kita harus selalu kuat untuk bangkit.
Aku hanya ingin menunjukkan, bahwa dalam keadaan 0 energi-pun, kita masih tetap bisa menjadi pemenang! Karena dunia tidak buntu.. karena bumi itu bulat dan selalu berputar! Karena kita punya Allah yang tak pernah kehabisan cara untuk mengabulkan harapan kita! Setersesat apapun kita!
Dan aku hanya ingin menunjukkan, bahwa hidup tak akan lebih indah kalau hidup hanya sekedar “baik-baik saja”
Jadi tetap semangat!!!!


adalah aku..


aku hidup dalam secercah cahaya,
secercah cahaya dalam keabu-abuan kabut siang
aku hidup dalam ramainya “sederhana”
ramainya “sederhana” kekumuhan nalar yang cukup menantang
bila malam menghampiri,
akan kusiapkan satu lipat saputangan,
sebagai ‘serbet’ rasa iri,
dan kemudian tidur bersama temaram rembulan,
adalah aku,,
terbang mengepakkan sayap kekerdilan,
berjalan dengan liuknya ketakutan,
berlari sekencang kengerian,
kemudian berhenti dengan kehampaan,,
namun, bila malam lagi-lagi menyapa,
akan aku siapkan secercah cahaya dari hidupku,
sebagai pembelah kesuraman yang tak kasat mata,
kemudian menggerakkan kanvas mengusir kelu,
adalah aku,,
tertegun dengan indahnya bintang malam,
melompat – lompat men-sejajar-kan jari jemari,
menatap kuat dan menerobos tingginya langit kelam,
kemudian tetap terjaga dengan lemahnya daun yang melambai
ah, kali ini aku benar-benar ngeri,
bila malam lagi-lagi menghampiri
dengan kekosongan yang bisa ku beri,
kekeluan kembali menyelimuti
adalah aku,,
yang tak terlihat dengan secercah cahaya yang telah pergi,
yang bergemetar dengan partikel – partikel gelap mengelilingi,
yang duduk mengerut memperkecil diri,
yang kemudian terdiam dengan kunang – kunang indah di pagi hari.
Ah, aku tak mengerti,
Sampai kapan harus aku akhiri,
Pertemuan sedetik tak bertepi,
Di ujung lincahnya kaki,
Adalah siapa?
Aku dengan seonggok badan berbaju robek,
Menyusuri bisingnya suara angkot,
Menyapa tubuh –tubuh yang berbalut sutra,
Dan kemudian duduk tersenyum tanpa risih bersama mereka,
Ah, aku bertanya,
Ah, haruskah aku juga yang menjawab?
Gila!
Hari ini, dengan sandal jepit yang sudah usang,
Aku duduk sendiri, bersama deru ombak pasang,
Menggertak naluri, menghentak angan melayang,
Ah, aku bertanya!
Aku berteriak!
Adakah aku seorang diri?
Kalau begitu, biarlah aku menyapa badai angin hari ini,
Kalau begitu, biarlah aku menyapa hujan hari ini,
Kalau begitu, biarlah aku menyapa terik matahari hari ini,
Kalau begitu, biarlah aku menyapa lembut embun pagi hari ini,
Kalau begitu, biarlah aku tetap berjalan dengan baju robek hari ini,

Sampai akhirnya kamu menyerah diri
Sampai akhirnya aku harus kembali




Jangan sekali-kali remehkan aku!


Jangan sekali – kali remehkan aku!
bila hari ini aku masih berani melihat dunia setelah lelap malamku,
bila hari ini aku masih berani menyentuh dinginnya air kamar mandi pagi ini,
Karena kau tak pernah tau,
Keberanian masih ada di dadaku,
Dan akan semakin membesar dengan senyuman mengejekmu,
jangan sekali – kali remehkan aku!
bila hari ini aku masih mampu memakai baju dengan kancing penuh,
bila hari ini aku masih mampu mengayuh ontel merahku,
Karena kau tak pernah tau,
Kesiapan masih terkepal di tanganku,
Dan akan semakin membesar dengan acungan jari kelingkingmu,,
jangan sekali – kali remehkan aku!
bila hari ini aku masih bertahan dengan panasnya matahari di siang bolong,
bila hari ini aku masih bertahan dengan gemuruh petir halilintar
Karena kau tak pernah tau,
Kekuatan masih tertanam hebat di urat nadiku,
Dan akan semakin membesar dengan lirikan mata picingmu,
jangan sekali – kali remehkan aku!
bila hari ini aku masih senang melihat senja di sore hari,
bila hari ini aku masih senang melihat gerombolan ibu2 mengayuh ontel sepulang kerja dari pabrik rokok,
Karena kau tak pernah tau,
Ketulusan masih mengiringi langkahku,
Dan akan semakin membesar dengan sakitnya rasa takutmu,
jangan sekali – kali remehkan aku!
bila hari ini aku masih ingin melihat mentari pagi bersinar,
bila hari ini aku masih ingin bertegur sapa dengan beningnya embun pagi di esok hari.
Karena kau tak pernah tau,
Harapan masih selalu menggubrak senyuman kecil di bibirku,,
Dan akan semakin membesar dengan rasa pengecutmu malam ini.

Karena dia yang meremehkan, adalah orang lemah yang untuk menyapa mentari pagi-pun dia tak sanggup..



hati yang seharusnya hanya terpaut padaMU

lalu kenapa hati bisa berbelok,, lalu kenapa hati tak tentram,, lalu kenapa hati menjadi was-was....

karena hati yang tak tentu arah adalah hati yang tergantung ke gantungan yang salah,,
adalah karena hati yang sedih merupakan hati yang mendua,,

malam ini berdo"a,, malam ini berdrilah sholat tahajud,, gemerincik air di waktu yang sangat sunyi,, segarnya air menyiram hati yang tandus...,, tak pantas ketika terbangun terawallah nama asing si penguji hati..

duh gustiii,,, lemahlah hati ini,,
bagaimana tak ku gulirkan air mata kalo hati ini terbolak-baik begitu kuat...
mendualah hati dengan sangat kuat,,,
terkhianatilah oleh hati ini,,


bagaimana tuhann???
tak kupunkiri, hati ini telah terlena dengan nama asing itu,,
ah, seperti kemunafikan yang tak berujung..
sungguh,, aku ingn lepas tuhan... biar... membiarkan hati ini hanya terpaut padaMU...
ntah kenapa, rasa2nya hanya seperti bisa berbicara saja, seperti berujar saja.. bukankah sudah kupunyai semuanya???
ah, sedihnya hati yang tak terpegang,, terluntang lantung kesana kemari,,
bukankah sebaik2nya kembali hanyalah kembali padaMU..??

hati... hati yang seharusnya hanya terpaut padaMU.....

tak begini..

akhirnya kau rasakan betapa tak enaknya begini.
akhirnya kau rasakan betapa tak sepatutnya rasa itu ada.

kalo sudah begini siapa yang akn merangkulmu kembali, nyesel sudah bukan.. apalagi yang bisa kamu berikan?? harus banting tulang lagi?? satu tahun itu lamaaa..
perlu seberapa banyak motivasi lagiii???
bukankah sudah sangat banyak???? ini kelalaian yang kamu buat sendiri..
sudah,, apapun toh hasilnya memang sudah begitu..
sekarang pikirkan bagaimana caranya agar kamu tidak nangis.

ternyata kata2 indahmu tak mampu membuat hidupmu jadi lebih indah,
siapa yang akan berjalan disampingmu..
lagi2 hanya penyesalan bukan...

jangan menangis. itu sangat tidak perlu. buat saja kata seindah yang kamu bisa.
aku ingin tau seberapa besar keindahan kata-kata itu membawamu kepada kenyataan.

berbicara tentang mimpi. ini mimpiku tuhan..

seperti bintang di langit,,,
sebanyak ikan di lautan,,

sekali lagi, harapanku banyak sekali tuhan,,

ah, untuk yang kali ini kurasakan sangat berbeda,, perjalanan ini membuatku menjadi semakin mengerti,  semakin berani,  semakin yakin,, bahwa harapan itu akan selalu ada untukku,,

penjelajahan ini tak kan pernah ku akhiri tuhan,, sampai tiba saatnya aku harus bertanggung jawab atas penjelajahan ini, perjalanan ini, hidupku...

ah, indahnya menjadi santri sekaligus mahasiswa.. disini aku banyak berbicara tentang ambisi, intelektual, kehidupan, cinta,,
ini bukan lagi tentang pandangan bahwa hidup adalah perjuangan,, aku sudah tidak menganutnya lagi,, ini bukan lagi tentang jalan sulit tapi berharga,,, aku juga sudah tidak menganutnya lagi,,

sudah ku ubah tuhan..
ntah jalan benar yang bagaimana,,

senyum ini sudah sangat manis tuhan,,,
mata ini sudah bersinar tuhan,
hati ini sudah berbunga tuhan,,
semangat ini telah terbaharui tuhan,,,

ini sudah tentang mimpi, harapan dan kekuatan,,,

bersambung dulu---- masih mu sholat.

ini perjalananku, indah tuhan...

hmmm, perjalananku mengajakku untuk bersahabat dengan apapun, ntah suka, ntah duka, ntah badai...

aku sudah bersahabat dengan hujan,hingga aku terbiasa dengan "kedinginan" hingga aku tak lagi takut dengan "kedinginan"
aku sudah bersahabat dengan petir, hingga aku terbiasa dengan "kemarahan" hingga aku tak lagi takut dengan "kemarahan"

aku sudah bersahabat dengan matahari, hingga aku terbiasa dengan "kepanasan" hingga aku tak lagi takut dengan "kepanasan"
aku sudah bersahabat dengan malam yang pekat, hingga aku terbiasa dengan "kegelapan" hingga aku tak lagi takut dengan "kegelapan"

aku sudah bersahabat dengan kerikil tajam, hingga aku terbiasa dengan "kesakitan" hingga aku tak lagi takut dengan "kesakitan"
aku sudah bersahabat dengan ombak dan gunung, hingga aku terbiasa dengan "kekerasan" hingga aku tak lagi takut dengan "kekerasan dan ketegaran"

dan yang jelas aku sudah bersahabat dengan perjalanan,,hingga aku sudah terbiasa dengan segala macam warna hidup...

aku sudah tidak takut lagi...