Pencurian
adalah salah satu masalah sosial yang sangat meresahkan masyarakat. Mengancam
hak dan keamanan orang lain. Sampai sekarang pencurian belum juga berhenti di
negeri ini. Bahkan di tempat yang tak jauh dari kota Jember yang sedang saya
tempati sekarang sudah terkenal dengan maraknya aksi pembegalan yaitu pemalakan
sepeda motor di tengah jalan dan biasanya juga menyakiti si empunya sepeda
motor. Sekarang banyak orang yang tak berani untuk melewati jalan tersebut saat
sore dan malam hari karena seringnya aksi pembegalan di jalan tersebut. Ini
menunjukkan seakan-akan kita semua telah menyerah pada kriminalitas pencurian.
Seolah-olah pencurian bukanlah sesuatu yang mengagetkan. Seolah-olah makin
banyak saja orang yang berani melakukan pencurian secara terang-terangan.
Seolah-olah tak ada yang mereka takuti setidaknya di dunia ini sehingga mereka
semakin PD untuk terus melakukan pencurian. Gaya mencurinya pun andalan, sangat
cantik seolah-olah telah memiliki pengalaman dan pelajaran mencuri yang sangat
hebat.
Beberapa
teman dekat saya beberapa kali menjadi korban pencurian HP. Bahkan kasus
terakhir, teman saya dijambret padahal kondisi Hpnya sudah berada di tempat
yang paling sulit untuk dijambret. Beberapa kali itu juga saya menyarankan
mereka untuk lapor ke polisi. Tapi jawaban mereka membuat saya kaget. Sungguh
sangat kaget. Mereka bilang melaporkan ke polisi hanya buang-buang waktu dan
tenaga soalnya itu hanya sekedar menjadi laporan belaka tanpa tindak lanjut.
Jangankan Hp, pencurian sepeda motor aja tidak bakalan cepat diurus kecuali si
korban membayar uang ke polisinya.
Kemudian
saya jadi bertanya-tanya. Apakah 1. Kita harus membayar agar masalah kita
diurus oleh polisi? Atau 2. Apakah memang polisi tidak ada program mengurus
pencurian Hp atau barang-barang kecil lainnya? 3. Lalu kalau memang begitu,
kita harus minta tolong sama siapa saat hak-hak kita direnggut di negeri ini?
Ah
tentu sangat miris kalau jawabannya iya. Kalau dari segi nilai, sudah tak
diragukan lagi sekarang sudah banyak orang yang memiliki Hp mahal. Kalaupun
tidak mahal harganya, setidaknya yang paling penting adalah mahalnya harga
kriminalitasnya. Sebenarnya ada tiga esensi kenapa kriminal harus ditangkap dan
disanksi. Pertama, untuk memberikan keadilan bagi korban. Memberi efek jera
bagi si pelaku kejahatan dan orang lain agar tidak ikut melakukan kejahatan.
Terakhir, bukti bahwa hukum dan keadilan masih berlaku di negeri ini.
Lalu
kenapa teman-teman saya tidak mendapatkan keadilan dari polisi setempat atas Hp
mereka? Pencurian Hp hanya akan menjadi cerita menyedihkan bagi teman-temanku. Untung
saja mereka tidak berusaha mengejar pencuri, jika mereka nekat mengejar nyawa
bisa jadi taruhan. Jadi kasusnya kriminalitas berantai. Bukankah pencurian juga
ada pasalnya di negeri ini? tidak adanya tindakan dari polisi sebenarnya ini
bukan hanya merugikan si korban tapi juga merugikan si pencuri karena dia akan
semakin PD untuk terus mencuri barang yang dianggap kecil oleh polisi sehingga
tak perlu heran kalau pencurian Hp masih marak terjadi dan dianggap sebagai
sesuatu yang lumrah.
Sungguh
aku malu dengan realita ini. Indonesia bukan negara para penjahat! Aku banyak
menonton film India, di sana polisi ditokohkan sebagai sekelompok orang yang mesum,
menggunakan kekuasaannya untuk melayani penguasa yang kejam, dan sembarangan
membunuh rakyat di keramaian. Sungguh jika itu benar terjadi di dunia nyata,
aku malah berharap sebaiknya tidak perlu ada polisi. Bagaimana dengan negeri
ini? semoga bukan polisi yang ditokohkan dengan orang-orang yang lelet karena
mata duitan.
