Sebelumnya aku tak pernah
mengenal nama Jokowi, bahkan di kampungku satupun tidak ada yang bernama
Jokowi. Tapi kemudian dia muncul di layar televisi yang ditonton oleh orang
perkotaan hingga orang-orang pedesaan dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta
hingga ia terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta.
Siapa sangka dia akan
muncul lagi di layar tivi. Satu atau dua kali tak mengherankan. Tapi
berkali-kali? Bahkan wajahnya menggeser wajah artis dalam acara infotemen.
Awalnya, aku hanya tersenyum melihat
itu.
Untuk pertama kalinya,
ada pemimpin yang dielu-elukan secara gamblang seperti itu oleh masyarakat.
Uniknya, kinerja Jokowi juga Nampak jelas di layar lebar. Dia-pun seperti embun
di musim kemarau bagi rakyat DKI Jakarta.
Pemberitaan di media
memang sangat berpengaruh pada perspektif orang-orang. Bukan hanya warga DKI
Jakarta saja yang jatuh cinta padanya. Akupun ikutan jatuh cinta padanya.
Bahkan sempat diri ini meneteskan air mata, Karena telah ada sosok pemimpin yang baik seperti dia. Nyata
kepeduliannya pada rakyat.
Aku sangat yakin, di luar
DKI Jakarta banyak masyarakat yang juga ingin dipimpin oleh Jokowi. Bahkan
mungkin besar harapannya agar suatu saat Jokowi menjadi presiden Indonesia
seperti beberapa temanku yang matanya selalu berubah bentuk love saat
melihat Jokowi di layar kaca.
Pencalonan presiden oleh
Jokowi pasti akan menjadi berita yang baik bagi kebanyakan orang. Namun,
bagaimana kalau pencalonan presiden itu terjadi sekarang? Saat dia masih
memegang tanggung jawab di DKI Jakarta sebagai gubernur? Dan nyatanya memang
dia telah resmi menyatakan keikutsertaannya dalam jejeran capres 2014.
Mengetahui kenyataan yang
begitu tiba-tiba dan tidak disangka itu, cahaya wajahnya di hati jadi meredup.
Kenapa? bukankah dia masih baru saja jadi gubernur? Tanpa berpikirpun aku
yakin, akan ada kejanggalan yang dikau rasa di hati. Kenapa?
Secepat kucari berita itu
di internet, secepat itu juga hatiku berubah padanya. Harapan yang semula
tumbuh mekar di hati menjadi layu seketika, atau bahkan sudah mati. Bisakah
disebut pemimpin yang baik kalau dia suka main kabur untuk jabatan yang lebih
tinggi? Sungguh baru kutahu bahwa dia sebelumnya juga pernah kabur dari
Surakarta untuk menjadi gubernur di Jakarta.
Setidaknya dari poin itu
saja Sudah cukup jelas untuk membuat kita berpikir. Namun, sungguh naïf kalau dikau
tidak berpikir tentang kronologi ini. Su’udzon? Bukan! ini bukan su’udzon. Ini
ghoslul fikr, perang pemikiran saudaraku.
Lebay? Jelas saja tidak!
kita tidak sedang lebay! Yang lebay bukannya si Jokowi? Dari semua kenyataan
ini, tidakkah dikau berpikir dari awal dia muncul di layar kaca? Kenapa
pemberitaannya sampai sebegitu hebohnya? Untuk apa itu semua? Namun, bukankah
pemberitaan tentang kebaikannya telah mampu menarik hatiku, dan mungkin juga
hatimu?
Karena parpolnya memaksa?
Tak usah sampai tahap berpikir, cukup dibayangkan saja. Kalau pemimpin masih
tidak bisa netral dengan parpol. Lalu, pemimpinnya sebenarnya siapa? Tidakkah
sama saja dia telah menjadi babu parpol? Tidak bisa berbuat apa-apa dengan
paksaan parpol. Bukankah dia dikenal sebagai pemimpin peduli rakyat? Pernah
tahu dengan masalah pak SBY kan? Banyak oknum yang mengecam beliau saat
mengambil bagian terlalu jauh dalam parpolnya sedangkan posisinya masih sebagai
presiden.
Memang benar, ia
dibesarkan oleh parpol. Tapi apa gunanya jadi pemimpin kalau masih disetir
parpol? Bukankah kepentingan rakyat jauh lebih penting? Sekali lagi, bukankah
Jokowi dikenal sebagai pemimpin yang mengutamakan kepentingan rakyat kecil?
Pertanyaan selanjutnya,
benarkah ia dipaksa oleh parpolnya, PDIP? Atau ada hal lain yang lebih besar
yang membuatnya begitu? Lalu siapa Anda sebenarnya pak Jokowi? Kenapa Anda jadi
begitu mengerikan?!
