Tugas
Bengkel Tulis
Aku
Menyerah, Tuhan
By:
Ainul Maghfirah
Katanya
sih bumi ini bulat, lonjong, atau apalah. Itu kenapa bumi berputar
hingga kedudukan kita kadang di atas, kadang di samping, kadang di
bawah. Artinya, ada kalanya kita susah, ada kalanya biasa saja, ada
kalanya senang. Kupikir itu berlaku untuk semua orang, termasuk
diriku. Tapi kau tau? Sejak awal keberadaanku, aku sudah terbuang.
Hingga detik ini akupun masih terbuang, bahkan semakin jauh. Andai
saja bumi itu datar, aku pasti sudah sangat bersyukur. Aku tidak
butuh berada di puncak, mataku sudah terlalu rabun untuk melihat ke
atas langit. Tapi tak bisakah aku berhenti dari keterjatuhan yang
terus menerus? Hingga bumi ini terasa begitu dalam bagiku, tak
kutemui dasarnya untuk sekedar berhenti terjatuh. Oh sungguh, bumi
tidaklah bulat, tapi curam!
“dasar
anak haram! Gak tau malu! Anak sialaaaaaaaaaan!” teriak ibu-ibu
gendut yang badannya dipenuhi gemerincing emas. Aku penasaran,
sebenarnya apa pekerjaan ibu galak itu. Setahuku, mataku selalu
menangkapnya sedang mengipas-ngipas rambut rebonding-nya
dengan kipas tangan bergambar burung Nuri. Tak pernah sekalipun aku
melihatnya sibuk mengurusi sesuatu kecuali “mengurusi”ku yang
tadi secara tak sengaja menjatuhkan pot bunga di pekarangan rumahnya.
Apa hanya dengan mengipas-ngipas rambut bisa dapat uang untuk membeli
emas semeriah itu?
Yeah,
aku anak haram. Ntah
apa maksudnya, yang jelas aku ditolak oleh orang yang telah berbaik
hati melahirkan diriku ke bumi curam ini. Kau tahu? Sebutan anak
haram begitu menarik di Kampung ini. Buktinya, gara-gara sebutan itu,
hampir semua orang kampung mengenalku, padahal aku sendiri tak pernah
berkenalan dengan mereka. Uniknya, gara-gara sebutan anak haram ini
jugalah, muncul sikap-sikap kontradiktif warga kampung padaku. Ada
yang melirikku iba, memberiku beberapa uang recehan atau sekedar
kacang bungkus. Ada juga yang menatapku jijik, mengumpatku dengan
nama-nama hewan yang berkeliaran di sekitar kampung kami.
Kau
tahu? akulah satu-satunya penyandang sebutan anak haram di kampung
ini. kau pasti heran siapa yang memberiku makan hingga aku bisa hidup
sampai saat ini. Tidak, aku tidak tinggal di tempat penitipan anak,
aku tinggal di rumah bapak tua yang kupanggil kakek. Dialah yang
memberiku makan tiap hari sekali. Dialah yang mengatakan bahwa bumi
ini bulat. Namun, seminggu yang lalu dia telah memutuskan untuk
pindah rumah, untuk ikut menjauh dariku, parahnya, dia lebih memilih
kuburan daripada rumahnya yang kami tempati selama ini. Mungkin
karena diapun juga sudah mau muntah tinggal bersamaku, si anak haram.
Aku
masih ingat kata-kata terakhirnya sebelum dia memutuskan pindah
rumah. “seburuk apapun keadaanmu, jangan pernah bersedih.
Bersyukurlah atas hidup yang telah tuhan berikan padamu. Jadilah
hamba yang taat, dan jangan sekali-kali melanggar aturan. Begitulah
cara agar kamu bisa bahagia kelak”
Hah?!
Bersedih? Bersyukur? Bahagia? Kelak? Bukankah semuanya hanya omong
kosong! Apa itu bersedih? Kapan aku bersedih? Bukankah aku tidak
pernah tahu menahu tentang istilah “bahagia”? lalu bagaimana
caranya aku bersedih? Aku tidak punya waktu untuk bersedih, bukankah
aku sudah cukup sibuk dengan licinnya bumi-nya yang bulat ini? bahkan
tanpa alas kaki, bagaimana mungkin aku tak meluncur ke bawah?
Dengan
begitu, aku ingin ketawa. Bagian mana dari proses meluncur tak
berujung ini yang harus aku syukuri? Bukankah bersyukur hanya untuk
mereka yang pernah bahagia? Sungguh aku ingin tertawa
sekeras-kerasnya hingga seluruh ruang bumi mendengar tawaku. Kenapa
aku harus bersyukur hanya gara-gara aku hidup?!!! Bukankah seharusnya
aku menuntut karena telah hidup di dunia?!
Aku
heran, kenapa kakek itu selalu menjanjikan kebahagian kelak? Bukankah
hari ini adalah kelak dari kemaren? Bukankah kemaren adalah kelak
dari kemaren lusa? Nyatanya, kemaren lusa aku kelaparan di pagi hari,
kemaren uang hasil mengamenku dirampas preman, dan hari ini aku
mendapat umpatan dari ibu-ibu ber-emas itu, bahkan dengan sebutan
tambahan “anak sialan!”. Lalu kapan kelak itu? Aku sudah bosan
dengan janji-janji palsunya! Bodoh sekali, aku sempat mempercayai
janji itu hingga beberapa kali aku mencoba tersenyum, hingga
berkali-kali aku rela mengamen sana sini tanpa alas kaki. Tapi apa
yang kudapatkan? Bukankah selama ini aku tak pernah makan lebih dari
1x dalam sehari? dan bajuku hanya 2 potong, hingga tiap baju aku
pakai selama 3 hari. Parahnya, jika hujan datang pada hari kedua, aku
harus kedinginan karena tak bisa berganti baju. Bahkan di rumahnya
pun aku tak bisa berlindung dari hujan.
“sana
pergi! Bikin kotor beranda toko aja!” seseorang yang wajahnya
begitu rupawan dengan rambut cepaknya mengusirku yang sedang
berlindung dari hujan di beranda tokonya sehabis mengamen. Aku
bingung, bagaimana bisa aku membuat tokonya kotor? Tidak ada sampah
yang ku bawa. Bajuku bahkan baru diganti tadi pagi, rambutku sudah
aku ikat ke belakang, kencrengan yang ku bawa juga tidak karat-karat
amet. Ah
jangan-jangan dia juga tahu kalau aku adalah anak haram. Pernah suatu
hari pembantu rumah tangga tetangga sebelahku saat membeli sayur ke
pak mamat di depan rumah tumpanganku melirik sadis padaku lalu
berkata pelan namun jelas terdengar “gerobaknya pindah di depan
rumah buk Ayu aja pak, di sini ada anak kotor, jijik pak” hah!
Berani sekali dia bicara begitu, bukankah dia hanya sekedar pembantu?
Aku jadi berpikir, anak haram ternyata jauh lebih rendah dibandingkan
pembantu rumah tangga.
Tapi
yang paling membuatku bingung adalah gadis kecil bergaun putih bak
putri salju yang baru turun dari sedan bersama supirnya tepat setelah
aku mendapat umpatan gratis dari ibu-ibu gendut itu. Dia sering
sekali berkunjung ke rumah ibu gendut itu, yang kutahu dia adalah
putri dari kepala kampung. Ku dengar dari kakek, dia juga tak beda
jauh dariku, dia juga ditolak oleh orang yang melahirkannya ke bumi,
lalu anak itu dipungut oleh kepala kampung. Menurutnya, Semua orang
kampung juga tahu tentang informasi ini. Tapi sekalipun tak pernah ku
dengar orang-orang di sini menyebut kata-kata anak haram selain
padaku. Kenapa? Bukankah dia juga berhak menyandang sebutan itu?
Sebaliknya, semua orang selalu tersenyum manis saat bertatap mata
dengannya, menyebutnya dengan kata-kata nduk,
nak, sayang, neng dan panggilan layak lainnya. Bahkan ibu-ibu gendut
itu dengan sigap membersihkan pot bunga lainnya yang terserempet oleh
ban sedan si putri salju. Ku tunggu beberapa detik, menit, menunggu
umpatan apa yang akan keluar dari mulut lebarnya pada si putrri
salju, atau setidaknya pada si supir. Namun sungguh di luar dugaan,
kepala ibu gendut itu malah menoleh ke arahku yang masih tak beranjak
dari pekarangan rumahnya. “heh! Anak sialan! Ngapain masih di
situ??!!!! Pergi pergi! Husssh!”
Sungguh
tidak adil. Ban sedan yang menyerempet pot bunganya yang lain, kenapa
juga harus aku yang mendapatkan umpatan untuk pot itu? Pot pertama,
aku bisa terima, karena memang salahku. Pot yang kedua? Jelas aku
tidak bisa terima. Itu salah ban sedan si putri salju! Kenapa bukan
dia saja yang dimaki?!
Oh
kakek, apa kau berbohong lagi padaku tentang anak pak kampung yang
tak jauh beda dariku itu? Tidak mungkin dia sama denganku, atau
orang-orang belum tahu informasi itu? Ah sudahlah, aku bosan percaya
pada kakek. Semua perkataannya selalu berkebalikan dengan kenyataan.
Benar
kata-kata Lisa, teman mengamenku dari kampung lain. “kalau kamu
ingin bahagia, jadilah orang kaya. Kalau kamu ingin dihormati,
jadilah orang kaya. Kalau kamu ingin dikelilingi oleh banyak teman,
jadilah orang kaya. Orang berduit itu bisa membeli semuanya sil!
begitulah kata kakekku, tapi kalau kerjaannya cuma ngamen
gini, gak usah mimpi jadi orang kaya deh, alias harus ikhlas hidup
tanpa semuanya itu! hahahaha” celetuknya suatu hari saat aku sebal
sama pembantu rumah tangga genit itu.
Bahagia
sekali hidup Lisa, biar miskin, tapi dia punya kakek yang jujur.
Tidak seperti kakekku yang penuh dengan kepalsuan. Biar hatiku lebih
membenarkan kata-kata kakekku, tapi aku tetap saja lebih menerima
kata-kata kakeknya. Kita hidup di dunia nyata kan? Begitulah
kenyataannya.
Mungkin
sekarang saatnya aku berubah, saatnya aku mengambil semuanya. Apalagi
yang lebih menyedihkan selain dimaki-maki orang? Selain menjadi
buangan semua orang? Kalau ngamen
tidak bisa membuatku kaya, maka aku bisa curang pada dunia, bukankah
dunia juga curang padaku? Jangan berbicara tentang jalan yang lurus,
jalan lurusku terlalu licin, bukannya sampai tujuan, aku bisa mati
duluan.
*****
Sudah
2 tahun aku mengubah jalan hidupku. Beginilah keadaanku sekarang.
Kemana-mana naik sepeda matic
lengkap dengan helm. Sehari aku bisa makan 2x, bahkan kalau mau, aku
bisa makan sampai 3x. Tak ada yang perlu aku khawatirkan. Uang
menumpuk di saku, aku bisa beli buah apel segar tiap hari di tempat
bergengsi. Mengenai bajuku, haha, bukan lagi 2 potong, tapi
berpotong-potong. Aku bisa ganti baju tiap hari, kalau mau, bukan
hanya sekali, dalam sehari aku bisa ganti baju berkali-kali. Aku pun
bisa berlindung dari air hujan di rumah baruku, di rumah yang layak
untuk ditempati manusia. Temanku? Banyak sekali. Hidupku bergelimang
dengan pujian. Pujian dari banyak laki-laki.
Mengenai
nasib Lisa, aku sudah tidak tahu lagi. Sejak aku memutuskan berubah,
sama sekali tidak terbersit keinginan untuk mengajak siapapun. Aku
ingin menikmati hidup sendiri. Terlebih ibu-ibu gendut ber-emas itu,
mungkin emas-nya sekarang sudah bertambah sekitar 10-15 gram. Siapa
peduli? Toh aku juga sudah bisa beli apa yang dia beli. Aku
benar-benar telah meninggalkan hidup tak terhormat itu tanpa
menyisakan secuilpun. Sekaligus meninggalkan semua kebohongan yang
dilontarkan kakekku kecuali tentang kebulatan bumi. Sekarang aku
mempercayainya. Aku sudah berganti kedudukan bukan? Aku sudah berada
di atas.
Tapi
hari ini, apa yang kuperoleh membuatku tercengang. Menohok bagian
terdalam dari diriku (bisa jadi itu hati, aku sudah lupa dengan nama
organ tubuhku itu) seperti aku terlempar dari tempat tertinggi ke
tempat terendah, lebih rendah dari tempatku terjerembab 2 tahun yang
lalu. Membuat mataku terbelalak.
“iblis!
Perempuan hina! Tega-teganya kamu menghancurkan hidup kami! sekali
lagi kamu berani mendekati suamiku, aku bunuh kamu!!!!” teriak
perempuan paruh baya padaku. Perempuan paruh baya yang mengaku-ngaku
sebagai istri dari salah satu pelangganku, om botak itu. Dengan
bengis dia mencekik leherku, tak peduli mulutku mengap-mengap
kehabisan napas, dia semakin semangat mencekikku. Kau lihat matanya?
Ada bayang seorang pembunuh di sana. Namun tanpa ku minta, akhirnya
dia melepas tangannya dari leher jenjangku lalu pergi setelah
menampar keras pipi kananku.
Aku
tersungkur tak berdaya di depan pintu rumah “layak”ku ini. Ku
lihat orang-orang yang berlalu lalang di depan rumahku saling
berbisik, ntah berbisik apa, yang jelas dari ekspresi wajah mereka,
aku yakin mereka sedang memakiku.
“Jadi
kamu si pelacur itu??! Pengganggu suami-suami orang lain. Dasar emang
anak sialan! Bukan Cuma anak haram, tapi kamu juga perempuan haram!
Darah ibumu benar-benar mengalir dalam darahmu! Najis! Menjijikkan!”
seseorang tiba-tiba menjambak rambutku dengan kecepatan tinggi.
Sungguh rasanya semua helai rambutku tercabut dari kepalaku. Ku
dongakkan kepala, tidak kuduga, dia adalah ibu-ibu gendut ber-emas
itu. Ada urusan apa lagi dia denganku? Aku bahkan tidak pernah
memeras suaminya. Jangan-jangan dia adalah teman perempuan yang
mencekikku tadi. Ah aku tidak peduli. Apapun alasan dia menghinaku
lagi, yang jelas kata-katanya jauh lebih menyakitkan dibandingkan 2
tahun yang lalu.
“Perempuan
hina!” katanya lagi, lalu pergi setelah mendorong kepalaku ke
pintu. Oh tuhan, kenapa hidupku jadi seperti ini? bahkan lebih parah
dari dulu saat aku masih makan 1x dalam sehari, saat orang-orang
hanya memanggilku anak haram, anak sialan, dan anak kotor saja.
Sebegitu bencikah kau padaku tuhan?
Kuputuskan
untuk tetap diam di depan pintu, menatap kosong pekarangan rumahku
yang begitu elok dengan aneka warna bunga.
“hahaha,
makanya jadi cewek jangan kemaruk!”
Indah dan beberapa teman se-profesiku tiba-tiba ada di depanku. Cara
mereka menertawaiku, aku mengerti. Merekalah yang memberikan info
pada kedua ibu-ibu yang menghinaku tadi. Dasar bodoh! selama ini
mataku buta, buta oleh banyaknya jumlah teman. Baru ku sadari,
ternyata mereka palsu. Mereka mengkhianatiku. Kemaruk?
Jadi mereka iri padaku? Hah! “Lisa, di mana kamu?” ucapku pelan
pada udara, meneteskan bulir-bulir air mata yang kurasakan begitu
perih. Apa yang telah aku lakukan?
“kakek,
apakah perkataanmu benar adanya?” tiba-tiba aku teringat pada semua
kata-kata kakek yang kuanggap hanya omong kosong.
*****
“Jadilah
hamba yang taat, dan jangan sekali-kali melanggar aturan. Begitulah
cara agar kamu bisa bahagia kelak” huufht, tuhan, itu perkataan
kakekku. Hatiku membenarkan, namun mataku begitu ragu, bahkan ragaku
menolaknya. Aku telah melanggar peraturan tuhan. Terbuktilah
kebenaran kata-kata kakek, aku menjadi semakin jauh dari kebahagiaan.
“Tuhan,
aku menyerah. Aku akan taat padamu. Aku menyerah menyombongkan diri.
Aku menyerah tuhan, jangan hukum aku lagi” ku rendahkan kepalaku
sejajar dengan lantai kamarku, bulir-bulir air mataku merembes tak
terbendung. Sedikit kurasakan ketenangan dan ketakberdayaan memenuhi
rongga batinku. Sudah kuputuskan, aku akan menyerahkan segalanya,
pada tuhan.
