Karena Santri (ternyata) Juga Ingin Dimengerti


Bagi nama yang dipanggil harap segera ke musholla sekarang juga!
Ainul Maghfirah A1,
Xxxxxxx,,
Yyyyyyy

Begitulah kira - kira panggilan dari sie tarbiyah pondok di pagi hari yang membuatku syok setengah nyetrika. Bukan panggilan untuuk pemberian penghargaan karena hatam alqur’an, juga bukan panggilan untuk konser barjanjen di musholla terlebih lagi bukan panggilan untuk pembagian donat di pagi hari melainkan panggilan untuk menerima hukuman atas pelanggaran yang kulakukan. OMG!!! Pinjem kata-katanya nazmah fairuz “tidak mungkiiiiiiiiiiiiiiiiin”

Bayangkan saja santri yang sudah menjadi pengurus bertahun – tahun yang bahkan sekarang sedang memegang jabatan mulia “ubudiah” melakukan pelanggaran yang pada dasarnya bersinggungan dengan devisinya dan hanya dilakukan oleh santri – santri tingkat SLTA ke bawah! Jadi langsung tutup muka deh.

Separuh, aku menyadari bahwa itu memang kesalahanku, dan separuh lagi hatiku ingin membela mengingat kegiatan – kegiatan wajib yang membuatku kelelahan sehingga tak bisa mengikuti kegiatan di pondok secara maksimal nan total. Akhirnya aku tetap dihukum. Ada suatu pelajaran berharga dari kejadian ini yaitu aku jadi mengerti keadaan para santri yang aku sanksi karena melanggar peraturan dari devisiku dengan perasaan geram dan tanpa bisa menerima alasan selain sakit dan pulang.

Seakan – akan menjadi teguran yang nyata, bahwa santri juga ingin dimengerti. Bahwa santri sesalah apapun dia tetap tak ingin dan takut untuk dimarahi. Bahwa santri saat dihukum membutuhkan dukungan yang penuh kasih bukannya perasaan geram di hati. 

Yang sering terjadi adalah kita tidak bisa menolerir santri saat melanggar. Mencerna mentah – mentah alasan kenapa mereka melanggar dengan penuh prasangka buruk. Merasa alasan –alasanya tidak logis. Hal ini dikarenakan kita selalu melihat ke dalam diri kita saat mendengar pengakuan mereka dan berkata dalam hati  “aku juga capek, aku juga banyak tugas tapi aku tetap bisa mengikuti kegiatan” tanpa bisa menelusur alasan yang sebenarnya. Alasan kenapa mereka melanggar. Kita terlalu terlena dengan kepatuhan yang kita lakukan sehingga menjustifikasi semua santri harus bisa sepatuh kita. Saat titik akhirnya adalah alasan yang buruk, kita tidak bisa memaafkan, padahal sebenarnya saat itu santri ingin dipahami dan dibimbing untuk menemukan jalan keluarnya.

Perasaaan geram di hati saat menghukum tanpa sadar membuat tujuan menghukum di hati menjadi sedikit bergeser. Dari ingin membimbing menjadi menyiksa. Akibatnya hukuman tidak memberikan nilai apa – apa bagi santri selain penyiksaan.

Karena santri juga ingin dimengerti, Karena terkadang santri juga ingin diakui kekurangannya, akan sangat berbahaya jika tidak memahaminya Bukan membimbing ke arah yang baik malah bisa jadi mereka balik melawan dan memberontak. Dari kejadian ini memberiku sebuah pemahaman baru bahwa kesalahan santri tidak seharusnya dianggap sebagai suatu hal yang fatal, namun  anggap itu sebagai suatu cacat yang normal tejadi dalam proses belajar-mengajar dan harus ditutupi secara perlahan dan nyaman. Kalau salah cara bukannya menutupi cacat, bisa – bisa merobeknya semakin besar dan terus membesar.

So, bagi para pengurus, ada kata – kata bijak tapi cukup pahit
“tidak ada murid yang buruk, yang ada hanyalah guru (pengurus) yang buruk”
Why? Karena pada dasarnya, santri datang untuk disembuhkan. Itu berarti dari awal mereka sudah jelas membawa penyakit untuk kita sembuhkan.
Satu kata manis untuk kita “ikhlas”, semoga barokah. Terus berjuang!!!
Thankz to mbak hanim, sie tarbiyah yang telah menegurku dengan hukuman,
on SMS
Me = Aan, hari ini aku bahagia, aku mendapat hukuman di pondok karena tidak tadarus abis isya’
Aan: dapet hukuman kok malah bahagia? Mak tak paham..
Me:: ckckkckk (Mr. Sweet, tengkyu for morning talking)

Leave a Reply