Pertanyaan-pertanyaan masa kecil



     Tak semua cerita masa kecil bisa kuingat. Namun, beberapa potongan memory melekat kuat dalam otakku sampai sekarang. Potongan-potongan yang tak terbentuk, seperti pertanyaan-pertanyaan di benakku yang tak pernah kulontarkan pada siapapun, pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya aku coba fahami dalam perjalanan umurku, yang baru kusadari beberapa tahun terakhir ini.
 
Berawal dari suatu permainan petak umpet dengan teman-temanku di desa sumberan. Kala itu, aku menjadi orang yang dicari. Dengan gaun putri-putrian-ku mungkin, dengan rambut terkepang dua mungkin, dan tanpa alas kaki, aku bersembunyi di samping rumah pamanku. Siang itu, di antara dedauanan pohon mangga, langit Nampak begitu cerah. Birunya terang sekali, beberapa bentuk awan menghiasi birunya langit. Dalam persembunyianku, aku mendongakkan kepala ke atas, menikmati lukisan yang begitu hidup di langit. Aku suka dekorasi langit kala itu. Beberapa kumpulan awan bergeser berganti posisi. Mungkin saat itu juga tiba-tiba ada pertanyaan dalam hatiku. Meskipun tak cukup yakin dengan setting waktu dan tempatnya, tapi pertanyaan itu masih yakin kuingat.

“Siapa yang paling berkuasa di dunia ini, manusia-kah?”
“Tapi manusia pada akhirnya terus bergantian, apakah pergantian ini akan terus terjadi?”
“Mungkinkah suatu saat, manusia mati semuanya?”
“Lalu, siapa nanti yang akan berkuasa di dunia?”
“Dan, sebenarnya, ke mana manusia yang mati itu?”
“Atau, mereka nanti akan kembali lagi ke dunia?”
“Kalau iya, apakah kehidupan di dunia akan sama dengan yang sebelumnya?”
Tidak lama, pertanyaan itu segera membeku di otakku, tak lagi kupikirkan. Mungkin saat itu aku segera mengalahkan lagi temanku yang sedang menjadi seseorang yang mencari. Tak lagi kuingat, yang jelas, aku hampir selalu menang dalam setiap permainan. Bisa dibilang aku top dalam strategi mengalahkan musuh.
Laa ilaa ha illallaah.. Tiada tuhan selain Allah. Potongan episode lain masih membekas di otakku. Dari cerita Ibrahim di masjid sekolah, pelan-pelan kulangkahkan kakiku menuju rumah. Masih sore kala itu, dengan tas plastik di lengan kananku dan gaun putih selutut dengan kerudung pendek CTS, mengikuti arah jalannya langit yang seakan-akan mengikutiku, otakku sadar berfantasi, tentang kesamaan aku dan Ibrahim yang bertanya dan mencari, meskipun prosesnya sama sekali tak sama.
Jadi, Allah-lah tuhanku. Tanpa kusadari bahwa itu adalah jawaban dari pertanyaan yang pernah membeku itu. selanjutnya, aku menjalani hidup sesuai usiaku di jaman sekarang, jelas tak sama dengan Ibrahim yang begitu serius dan fokus dengan gejolak di hatinya tentang sang pencipta, karena aku segera melupakannya sesaat setelah hatiku membatin tentang hal yang menurutku cukup misterius kala itu, bersambut dengan masa kanak-kanak yang sangat kanak-kanak, dan perjalanan hidup itu terus berlanjut linier dengan usiaku. Linieritas ini, biar kujelaskan dalam episode yang lain dalam awan huruf musafir ini.
Adakah ini serupa dengan yang kalian alami saat kalian masih belum menanggung dosa, teman-teman?
Kalau iya, mungkinkah kita semua sama?
Inikah salah satu fitrah lain dari kehidupan manusia setelah lama ia berikrar tentang tuhannya di alam sebelum dunia?
Ah.. J

Motivator Terhebat



            “Zahra, kamu tidak akan mati hanya gara-gara ini kan?” seseorang itu mencengkram kedua pundakku, menghentakku hebat. Aku ternganga melihat dia begitu dekat di depan mataku. Mataku mendelik lebar dengan kemunculannya dalam sepersekian detik, tepat di depanku, dalam ruang tak berbatas dimensi.

“Jangan bilang kamu akan menabur malu di wajah ayahmu! Bayangkan orang-orang akan berkata bahwa Zahra mati bunuh diri hanya gara-gara gak punya uang buat kuliahnya yang tinggal beberapa bulan lagi! Mending gak usah disekolahkan tapi anak bisa hidup tenang daripada tertekan seperti itu. Malang sekali Zahra memiliki ayah yang tidak tahu diri! Memaksakan kehendak di luar batas kemampuannya. Kalau miskin ya sudah jangan berlebihan bermimpi! ” pundakku semakin sakit dalam cengkramannya

“Lalu apa bedanya kamu dengan orang yang tak pernah sekolah?!” bentaknya mengeras. “Zahra, sapu bersih debu-debu yang menyamarkan kesehatan akalmu! Lihatlah si Rizki, dia bahkan lebih miskin dari kamu. Ibunya sakit-sakitan. Penelitiannya gagal berpuluh-puluh kali. Tapi dia tidak mati, bukan? Kamu lihat sendiri, kemaren dia masih sempat cubit-cubitan dengan teman sebangkunya. Dia masih bisa hidup selayaknya manusia hidup! Tidakkah kamu malu padanya?”

“Bangun, Zahra! Ini bukan bencana. Ini waktumu untuk bertarung dengan potensi yang selalu kamu pandang sebelah mata. Sudah cukup meremehkan diri sendiri. Lihatlah Wanda, temanmu yang gendut itu! bukan hanya perutnya yang gendut, tapi prestasinya juga gendut, uang di sakunya pun ikutan mengendut dengan bisnis nasi kuningnya. Emang apa kurangnya kamu dari dia? Kamu sama manusianya dengan dia. Kalau kamu mau, kamu bisa seperti dia! Gerakan badanmu bahkan lebih lincah darinya. Kamu bisa berlari 10x lebih cepat dengan badan seramping milikmu” ujarnya lancar tanpa memberiku kesempatan untuk mengintrogasi identitasnya. 

“Zahra, percayalah ini bukan soal masalah. Ini soal kamu. Kamu mau ato tidak menghadapinya? Ini soal kamu mau ato tidak untuk mengayunkan kakimu? Ini soal kamu mau hidup bahagia atau hidup terpuruk termakan rayap yang menggerogoti mentalmu? Itu saja” dia mulai melembut. 

Hening. Mata kami bertemu tanpa sedikitpun melewati frame mata kami. Pas. Matanya memantulkan kepercayaan, rasa optimis, dan kekuatan. Mengaktifkan kembali hormon endofrinku, mencairkan kembali darahku yang rasa-rasanya hampir membeku, dan sekarang ia mengalir deras ke hatiku, nadiku, sistem syarafku. Menyegarkan kulit wajahku. Rasanya, aku mengenalnya. Memang, aku mengenalnya.

Seketika dinding sempit bersemen itu memanjang dan melebar lalu menghilang memperlihatkan hamparan rumput hijau berembun. sejuk. Air liur di lidahku kembali terasa netral. Bibirku tertarik sempurna melengkung bak bulan sabit.

“Iya! Ini ada solusinya. Pasti teratasi. Aku mau ini selesai dengan baik. Aku mau begitu. Aku mau!” ujarku tiba-tiba padanya, pada seseorang yang sekarang tidak lagi mencengkramku, namun menatapku dengan penuh cahaya yang menghangatkan urat dalam tubuhku.

Tanganku mencoba menyentuh sesuatu. Kursi plastik. Sentuhan ini mengembalikan batas-batas dimensi ruang tamuku. Aku segera berdiri lalu berlari ke kamar mandi. Aku berlari seakan-akan menemukan sejuta ton berlian. Dengan penuh senyuman aku melaju ke kamar mandi, mencuci wajah, lalu ke kamarku mengganti bajuku dengan baju yang kemaren sudah disetrika sempurna bercampurkan wangi pelembut pakaian.

Kurapikan pakaianku di depan cermin. “Yosh! Aku siap bertarung!” ucapku penuh semangat dan tersenyum lebar meniru gaya Mizuki dalam drama jepang yang pernah kutonton. Aku meraih tas slempanganku yang sudah berisi kertas dan pulpen. Aku melangkah ke luar rumah, mengambil sepeda ontelku, dan mengayuhnya menuju pusat informasi lowongan kerja untuk mahasiswa.
******
“Maaf baru balas, namamu gak ada di daftar, Ra. Mungkin belum rejekimu” begitu isi sms dari Agung, teman sekelasku yang rutin dapat beasiswa tiap tahun.

            Otot-ototku seperti mengempes secara serentak, lemas. Pandanganku kabur, dan hatiku? aku tidak tahu lagi. Satu-satunya hal yang kuharapkan menjadi jalan paling lancar kandas sudah. Tahun ini aku tidak mendapatkan beasiswa dari kampus. 

            Jalan di depan terlihat buntu. Aku tidak tahu mau melangkah kemana. Aku coba membesarkan hati, tapi kenyataan ini terlalu besar untuk kututupi dengan kelapangan hatiku yang sedemikian sempit menerima kenyataan.

            “Mbak” Zidna, adekku, menyentuh lenganku takut-takut. Kuberanikan untuk melihat wajahnya. “Hmm?” responku meminta menjelaskan keperluannya.

            “Aku mau bayar spp, mbak. Terakhir akhir bulan ini. Agaknya, ayah masih belum punya uang” jelasnya pelan. “Terus, dek wahed juga butuh uang buat bayar spp-nya yang sudah 5 bulan menunggak. Dia tidak bisa mengambil raport sebelum spp-nya lunas” imbuhnya lagi.

            Aku menyimaknya semakin pedih. Bagaimana tidak, ayahku gagal panen. Sedangkan beliau hanyalah seorang buruh tani. Adek pertamaku sudah kelas 3 SMA. Bukan hanya masalah spp bulan ini, tapi juga uang UN. Pun adek keduaku punya keperluan yang sama. Belum lagi masalah setoran bulanan sepeda motor.

Aku sendiri sedang dalam penelitian untuk gelar S.Si-ku. Parahnya, bahan-bahan penelitian yang kuperlukan tidak ada yang murah kecuali akuades yang perliternya seharga RP 1500 itu. Sudah lebih dari 1 juta uang yang kuhabiskan untuk penelitian, dan semuanya belum ada hasilnya, gagal total. Masalah penelitian yang tak kunjung berhasil sudah membuatku frustasi, masih ditambah dengan masalah uang.

            Aku menyandarkan kepalaku pada kursi dari bahan plastik yang warnanya sudah memudar dimakan waktu. Kupejamkan mata, berusaha melupakan yang terjadi sejenak. Namun, terus saja bayangan-bayangan kenyataan hidup yang kujalani sekarang semakin menggila di kepalaku.

            “Argh!” kepalaku sakit. Aku seperti berada di tempat yang sempit. Berputar ke arah manapun, yang ditemui hanyalah dinding bersemen. Tak ada udara, tak ada rerumputan hijau untuk sekedar menyejukkan kepala. Membuatku ingin muntah. Rasanya mau mati saja. Tanpa beasiswa itu, mustahil aku bisa memenuhi kebutuhan hidupku dan membantu ayahku.

            Sebentar lagi, mungkin aku akan gila. Mentalku hancur tak berbentuk. Aku bukan orang yang pasif selama ini, aku aktif ikut seminar-seminar motivasi. Tapi ntahlah, motivasi-motivasi itu hanya menggugahku saat acara berlangsung, namun segera menguap bersama teriknya matahari dalam perjalanan pulang. Aku berusaha mengingat kata-kata saat acara motivasi, namun nihil. Itu tak cukup menggebrakku keluar dari keterpurukan mental ini.
******
            “Selamat bergabung dengan kami, kita bertemu lagi besok sore” ketua lembaga kursus bimbingan belajar PINTAR menyalamiku. Aku diterima menjadi guru les di sini, kerja part time. Meskipun gajinya tidak seberapa, setidaknya, satu pintu telah terbuka. Aku juga berencana membuka layanan terjemah Inggris-Indonesia. Kemampuan bahasa inggrisku cukup bagus.

            Masalah penelitian, aku akan mengulangnya lagi besok pagi. Mungkin aku harus lebih teliti, aku yakin pada saatnya, ini akan berakhir dengan baik. Untuk sementara, aku memutuskan meminjam uang pada si gendut Winda. Aku juga akan lebih berhemat lagi masalah makanan, mungkin aku akan sering berpuasa. Selebihnya aku akan bekerja keras lagi dan lagi.

            “Ya Allah, Engkau memberiku ujian ini, Engkau tahu aku mampu, maka tak ada alasan bagiku untuk menyerah. Aku malu padaMU. Sungguh! Begitu indah perhatianMU padaku, agar aku berkembang dengan potensi dahsyat yang Engkau titipkan padaku, maka Engkau kirimkan ujian padaku. Aku akan meminjam semua potensi yang Engkau berikan padaku, dan pertolonganMU adalah jaminan pasti, seperti yang Engkau kirimkan padaku kemaren, hentakan itu, kemauan itu” bisikku tulus dalam hati, “I’m gonna protect my life” bisikku lagi.

            Hari ini benar-benar cerah. Asal aku mau menggerakkan otak dan badanku, masalah sebesar apapun, akan menjadi kecil. Ini hanya soal sudut pandang bukan? hahaha, aku tidak jadi gila atau bunuh diri. Saatnya menunjukkan betapa memesonanya diriku pada dunia.

            “Bagus, Zahra!” seseorang sedang mengacungkan 2 jempolnya padaku. Seseorang yang sempat membuatku kaget. Dia sedang tersenyum padaku. Ah Senyumnya begitu memesona. Kali ini aku tidak lagi merasa kaget dengan kehadirannya. Bagaimana tidak, tak sedetikpun dia lepas dariku. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal sambil tersenyum tak kalah memesonanya.

            “Terimakasih Zahra, motivator terhebatku” ucapku bahagia menatap cermin di tempat kerja baruku ini lalu melangkah pulang.

Gue Calon Pemimpin Negeri Ini Part 1


Sebenarnya, gue lebih suka menjalani hidup dengan biasa-biasa saja tanpa mikirin hal yang berat-berat seperti masalah-masalah remaja, korupsi, ataupun pilpres. Tapi gue gak bakal ngikuti jalan tanpa tikungan seperti itu. Gue mau bersesak-sesak ria melihat tayangan tawuran anak SMA, berberat-berat pikir dengan para pengemis yang bersahabat dengan kelaparan dan kebodohan, menyerabukkan pikiran dengan aneka ide kreatif untuk mengatasi segala permasalahan kompleks yang sedang menyelimuti negeri tercinta. Kenapa? karena gue adalah calon pemimpin negeri ini.
 
Sebenarnya, gue lebih suka menangis saat ada merasa sakit, di manapun. Gue juga senang banget mengeluh meluahkan segala kekesalanku atas warna dinding kehidupan yang gue jalani. Tapi, gue gak akan bersikap cengeng dan lemah begitu. Kenapa? karena gue adalah calon pemimpin negeri ini. Gue tahu segala aneka masalah yang membenturku saat ini hanyalah masalah-masalah kecil yang tidak lebih besar dari permasalahan yang akan gue hadapi nanti saat gue jadi pemimpin. Jadi, gue gak akan menangis dan mengeluh hanya karena kerikil-kerikil kecil yang bisa kuatasi dengan sandal jepit 5000-an.

Sebenarnya, hati gue sesak sesesak sesaknya saat gue tidak membalas perlakuan buruk orang lain padaku, gue marah semarah-marahnya saat hakku diambil dengan penuh kelicikan. Rasa-rasanya caci maki 1 hari penuh tidak akan cukup untuk membalas sakit di hatiku. Tapi telah gue lepaskan semuanya. Gue udah lepaskan segala kata sesak, sakit hati, dan marah atas kedoliman yang kuterima pada Allah yang maha melihat dan maha mengetahui. Kenapa? karena gue calon pemimpin negeri ini. Gue tahu, segelintir orang dengan perkataan dan perlakuan beracunnya padaku sekarang terlampau sedikit jika dibandingkan dengan ocehan-ocehan tak berdasar saat gue jadi pemimpin nanti. Salah satu perbedaan antara pemimpin dan orang biasa adalah jika orang biasa memiliki hati seluas kota Jember, maka pemimpin harus memiliki hati seluas Provinsi Jawa Timur. Dan gue akan perluas hati gue sampai bangsa Negeri ini tak dapat melihat batas wilayahnya lagi.

Gue Calon Pemimpin Negeri, Gue siap sediakan akal secerdas professor seluruh bidang ilmu,  Gue siap sediakan bangunan sekokoh gunung dalam diri, Gue siap sediakan lahan seluas di luar perkiraan orang semua kalangan dalam hati. 

Gue, Calon Pemimpin negeri

Jokowi Nyapres?



Sebelumnya aku tak pernah mengenal nama Jokowi, bahkan di kampungku satupun tidak ada yang bernama Jokowi. Tapi kemudian dia muncul di layar televisi yang ditonton oleh orang perkotaan hingga orang-orang pedesaan dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta hingga ia terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta.
Siapa sangka dia akan muncul lagi di layar tivi. Satu atau dua kali tak mengherankan. Tapi berkali-kali? Bahkan wajahnya menggeser wajah artis dalam acara infotemen. Awalnya, aku hanya  tersenyum melihat itu.
Untuk pertama kalinya, ada pemimpin yang dielu-elukan secara gamblang seperti itu oleh masyarakat. Uniknya, kinerja Jokowi juga Nampak jelas di layar lebar. Dia-pun seperti embun di musim kemarau bagi rakyat DKI Jakarta.
Pemberitaan di media memang sangat berpengaruh pada perspektif orang-orang. Bukan hanya warga DKI Jakarta saja yang jatuh cinta padanya. Akupun ikutan jatuh cinta padanya. Bahkan sempat diri ini meneteskan air mata, Karena telah  ada sosok pemimpin yang baik seperti dia. Nyata kepeduliannya pada rakyat.
Aku sangat yakin, di luar DKI Jakarta banyak masyarakat yang juga ingin dipimpin oleh Jokowi. Bahkan mungkin besar harapannya agar suatu saat Jokowi menjadi presiden Indonesia seperti beberapa temanku yang matanya selalu berubah bentuk love saat melihat Jokowi di layar kaca.
Pencalonan presiden oleh Jokowi pasti akan menjadi berita yang baik bagi kebanyakan orang. Namun, bagaimana kalau pencalonan presiden itu terjadi sekarang? Saat dia masih memegang tanggung jawab di DKI Jakarta sebagai gubernur? Dan nyatanya memang dia telah resmi menyatakan keikutsertaannya dalam jejeran capres 2014.
Mengetahui kenyataan yang begitu tiba-tiba dan tidak disangka itu, cahaya wajahnya di hati jadi meredup. Kenapa? bukankah dia masih baru saja jadi gubernur? Tanpa berpikirpun aku yakin, akan ada kejanggalan yang dikau rasa di hati. Kenapa?
Secepat kucari berita itu di internet, secepat itu juga hatiku berubah padanya. Harapan yang semula tumbuh mekar di hati menjadi layu seketika, atau bahkan sudah mati. Bisakah disebut pemimpin yang baik kalau dia suka main kabur untuk jabatan yang lebih tinggi? Sungguh baru kutahu bahwa dia sebelumnya juga pernah kabur dari Surakarta untuk menjadi gubernur di Jakarta.
Setidaknya dari poin itu saja Sudah cukup jelas untuk membuat kita berpikir. Namun, sungguh naïf kalau dikau tidak berpikir tentang kronologi ini. Su’udzon? Bukan! ini bukan su’udzon. Ini ghoslul fikr, perang pemikiran saudaraku.
Lebay? Jelas saja tidak! kita tidak sedang lebay! Yang lebay bukannya si Jokowi? Dari semua kenyataan ini, tidakkah dikau berpikir dari awal dia muncul di layar kaca? Kenapa pemberitaannya sampai sebegitu hebohnya? Untuk apa itu semua? Namun, bukankah pemberitaan tentang kebaikannya telah mampu menarik hatiku, dan mungkin juga hatimu?
Karena parpolnya memaksa? Tak usah sampai tahap berpikir, cukup dibayangkan saja. Kalau pemimpin masih tidak bisa netral dengan parpol. Lalu, pemimpinnya sebenarnya siapa? Tidakkah sama saja dia telah menjadi babu parpol? Tidak bisa berbuat apa-apa dengan paksaan parpol. Bukankah dia dikenal sebagai pemimpin peduli rakyat? Pernah tahu dengan masalah pak SBY kan? Banyak oknum yang mengecam beliau saat mengambil bagian terlalu jauh dalam parpolnya sedangkan posisinya masih sebagai presiden.
Memang benar, ia dibesarkan oleh parpol. Tapi apa gunanya jadi pemimpin kalau masih disetir parpol? Bukankah kepentingan rakyat jauh lebih penting? Sekali lagi, bukankah Jokowi dikenal sebagai pemimpin yang mengutamakan kepentingan rakyat kecil?
Pertanyaan selanjutnya, benarkah ia dipaksa oleh parpolnya, PDIP? Atau ada hal lain yang lebih besar yang membuatnya begitu? Lalu siapa Anda sebenarnya pak Jokowi? Kenapa Anda jadi begitu mengerikan?!


FIM itu WOW!



Sudahkah dikau tahu tentang FIM? Kalau ada yang belum tahu, nih aku kasi’ tahu dulu deh. Biar seragam pada tahu . Nah, FIM itu singkatan dari Forum Indonesia Muda. Dari kepanjangannya sudha bisa ditebak kan siapa yang berkecimpung dan ada apa aja dalam FIM? Sip sip, dari mananya sudah anggun, berbobot, keren, kece, dan asyik! Pun sama dengan isinya.
Ups, bentar-bentar! FIM itu adalah wadah pembentukan karakter generasi muda Indonesia raya tercinta ini. FIM itu adalah magnet yang mempertemukan para pemuda di seluruh bumi pertiwi. Dari sabang sampai merauke, para pemuda yang menyimpan sumber energy bagi Indonesia ini berkumpul, berbagi pikiran, pengalaman, menyatukan misi, mempererat persatuan dan kesatuan, memperkokoh barisan pejuang muda Indonesia.
Pemuda se-Indonesia ini memang tak ragu kukatakan istimewa, keren, dan kece abis. Kenapa karena FIM hanya menerima pemuda yang berkeinginan kuat untuk melakukan perubahan di negeri ini. Hanya untuk mereka yang bertekad menjadi penggerak perubahan. Hanya bagi mereka yang memiliki mimpi besar untuk bangsa ini. Hanya mereka yang punya kemauan untuk membuka dan memperbaiki diri. Hanya bagi mereka yang peduli akan masa depan diri dan bangsa ini.
Itu kenapa mereka menjadi begitu istimewa. Karena keinginan, kemauan, tekad, dan mimpi itulah yang akan dipoles membentuk pilar-pilar yang kuat dan indah dalam forum kepemudaan ini. Pilar-pilar karakter yang akan dibakar hingga karakter itu akan membahana ke permukaan.
Namun perlu ketahui, bahwa FIM bukan hanya tempat bagi pemuda yang memiliki jejeran prestasi dalam piagam. Bukan hanya tempat bagi pemuda yang memiliki jabatan penting dalam organisasi di kampus. FIM itu fokus pada karakter yang terlihat dari keinginanmu, kemauanmu, tekadmu, dan mimpimu.
Memang sih, banyak dari anggota FIM yang memiliki segudang prestasi dan jabatan penting. Namun, ada juga orang yang biasa-biasa saja tanpa prestasi yang tertulis. Contohnya saja aku. Kalau dikau menanyakan apa kehebatanku hingga aku pernah diterima dalam seleksi FIM 14 C? Jelas saja aku akan bingung total. Aku memang organisator, tapi satupun dari jabatan yang kupegang tak pernah berpredikat sebagai “ketua”. Masalah prestasi, aku malah kewalahan mau menulis apa di kolom prestasi. Satu-satunya prestasi yang kutulis dalam kolom prestasi pendaftaran FIM 14 adalah “Juara 1 lomba pidato di jurusan kimia”
Hahaha, kalau ingat itu, rasanya aku ingin ketawa ngakak. Bagaimana tidak? Kalau dikau tahu, sebenarnya saat lomba pidato di jurusan kimia itu, pesertanya hanya berasaln dari mahasiswa kimia FMIPA UNEJ. Parahnya, jumlah peserta dalam lomba itu hanyalah sebanyak 4 orang! Persaingan yang sangat mudah bukan? terlebih sebelum aku jadi mahasiswa, aku sudah bertahun-tahun belajar di pesantren, sering ikut lomba pidato lagi. Itupun tidak pernah jadi juara saat di pesantren.
Tapi kenapa aku masih dipilih? Keberuntungan? Tidak! Aku yakin sekali itu bukan keberuntungan! Namun terlebih karena aku memang sangat membutuhkan FIM. Bertemu dengan orang-orang hebat, agar aku bisa belajar nyata dan banyak dari mereka. Karena aku memang benar-benar ingin berkonstribusi bagi bangsa ini. Serius. Aku gak sedang ketawa lho (hehe ).
So buat kamu yang merasa tidak punya prestasi apapun seperti aku, jangan berkecil hati. FIM itu pintar kok menyeleksi orang. Bisa jadi karena orang itu memang butuh kayak aku. Atau bisa jadi karena orang itu perlu menularkan kehebatannya pada orang lain seperti teman-temanku yang hebat-hebat itu.

Okeh. Sekarang let’s go tentang apa saja yang dipelajari dalam FIM yang super istimewa itu? dan apa saja yang bisa kita peroleh? banyak. Iya banyak sekali. Yang dipelajari adujile euy euy. Maknyus. Mantap. Top markotop dah. Di FIM itu ya kita akan diajari tentang bagaimana membentuk karakter, tentang 7 pilar kepempimpinan yang harus dimiliki oleh pemimpin dan calon pemimpin seperti kita. Terus kita juga dapat motivasi, juga diberi materi parenting yang menarik sekali. Apalagi anggota FIM banyak yang masih belum menikah (suit suit suiiiiiit).
Itu materinya saja lho! Lain-lainnya? masih banyaaaaaak dan lebih menarik. Relasi, teman baru, pengalaman baru yang tiada duanya (ehem), inspirasi tokcer, motivasi, dan kolaborasiiiiiii.
Haduh sebenarnya sih kenyataanya jauh lebih menarik lagi. Hmm,, gimana ya? Tak cukup kalau hanya disampaikan dengan kata-kata (hadeh! Bilang saja sedang kehabisan kata-kata )
Yang paling penting itu, setelah ditraining berhari-hari, dan bertegur sapa, berdiskusi, berbagi ilmu, pengalaman, dan berbagi senyum dengan keluarga FIM, semangat untuk bergerak nyata itu mendobrak dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.
Kalau selama ini kuper, jadi mendadak gaul dengan adanya transfer kebaikan dan informasi dari teman yang lain. Kalau selama ini belum tahu, jadi mendadak pintar. Kalau selama ini tidak kreatif, jadi mendadak inisiatif dan inspiratif. Kalau selama ini sudah gaul, pintar, dan kreatif, tapi tetap belum bikin apa-apa untuk negeri, insyaAllah pasti jadi mendadak ngebet untuk segera aksi. Gak sabaaaaaaaaaaaar.. hayo bergerak!
Kenapa bisa begitu? Helloooooooo, kami tidak hanya diberi materi terus langsung disuruh pulang ke tempat masing-masing. Tapi kami masih berpegangan tangan satu sama lain. Saling mengutarakan, saling mendengarkan, saling memberi solusi, saling menguatkan. Kami berteman, kami bersahabat, dan kami bersaudara.

Hasilnya apa? Karya yang besar? kok bisa? Karena kami telah menyatukan kekuatan. Power Wuzh! Prok prok prok Whuzzzzzzzzzz! Hahaha, Kami berkolaborasi gitu lho! Dengan berkolaborasi, sesuatu  yang besar dan kelihatannya melebihi ukuran tangan kita, akan terasa pas Karena adanya tambahan luas wadah dari tangan-tangan teman kita.
Halah! Biasanya juga pas itu aja semangatnya? Setelah pulang ya sama aja sendiri lagi, seperti dahuluu tanpa diiiriiimuuu di siiiisiiiikuuu (haish, gaswat)! No no no no! insyaAllah itu tidak akan terjadi kecuali bagi mereka yang memang tidak punya keinginan untuk berkonstribusi.
Kenapa tidak akan terjadi begitu? Karena FIM itu kekeluargaannya solid bro en sis! Saking solidnya sampek tidak bisa dipisahkan (ihir ihir). Kekuatan silaturrahim di FIM itu tidak hanya berhenti di tempat pelatihan. Dikau akan merasakannya langsung saat ikutan kecimplung di FIM.
Saat dikau ikut FIM, mendadak teman fb-mu membludak, followers juga akan meningkat, no hape akan tersebar hingga ke sudut negeri, pesan di email juga akan bertambah. Apalagi di setiap wilayah tidak hanya ada dikau seorang, akan teman-teman satu regional. Nah, merekalah yang akan menjadi magnet untuk menarikmu ke pusat pergerakan. Dikau-pun tak akan kuasa untuk menolaknya! Terlalu haru biru untuk dihindari, terlalu amazing untuk ditolak!
Buka Fb, eih ada teman FIMers yang update status aksi nyata yang dilakukan. Buka twitter, eih FIMers pada bikin kultwit yang subhanallah sangat bermanfaat. Buka Fb lagi, eih lagi-lagi FIMers nongol dengan prestasi barunya. Buka twitter lagi, eih FIMers pada main mention sana mention sini ngomongin pendidikan bangsa sambil bercanda, bersilaturrahim. Terus FIM regional ngajak kita bikin aksi nyata, berkolaborasi. Yah, kalau beginian terus bisa-bisa kita terkena semangat akut tiap hari sodara sodaraaaa.
Bagaimana? FIM menarik, bukan?
Kalau dikau bertanya padaku komentar tentang FIM aku akan jawab FIM ITU WOW! Banyak hal hebat yang akan kita jumpai, hal hebat yang kebanyakan tak pernah kita pikirkan. Siap-siap hidupmu akan berubah! Berubah lebih keren dari sekedar power rangers.
Terakhir, mungkin kami bukan power rangers, juga bukan matahari yang begitu gagah menyinari seluruh negeri. Tapi kami hanyalah kumpulan kunang-kunang yang bersinergi memberi cahaya dalam kegelapan. Cahaya yang tidak akan terlihat jika hanya sendiri, namun begitu menjulang ke langit saat bersama. Tak perlu menunggu hebat dan besar untuk berkonstribusi. Kemarilah, kita satukan kekuatan, saudara Indonesia!
Ah, jadi ingin meneteskan air mata, eih sudah keluar ding air mataku (hiks hiks)
PEMUDA INDONESIA?
AKU UNTUK BANGSAKU!
FIM 14?
KOLABORASI KARYA UNTUK NEGERI!
POWER WUZH!
PROK PROK PROK WHUUUUUUUUUUUUUUUUUUZ!

Dan inilah dari Jembeeeeeeeer: