Cuek boleh, tapi jangan sadis dong!



Tugas creative writing
By: Ainul Maghfirah

“mas Jak, gimana rasanya diterima sama Universitas negeri? Pake’ beasiswa penuh lagi?!! Keren keren keren, mas-ku iniiiiii!” Tanya sakinah dengan mata yang terbinar-binar kagum luar angkasa. Kalau sudah resmi jadi mahasiswa, kirimi Sakin fotonya mas ya? Nanti Sakin upload di pesbuk, tak tambahi tulisan pake’ huruf balok MAS-KU, JAKA HENDARI, MAHASISWA KEDOKTERAN UNEJ 2013. Ohohoooo pasti teman-temanku pada kagum nas. Oia, jangan lupa pake’ almamater ya mas!” lanjut Sakinah semakin menggebu dengan senyuman penuh rasa bangga pada mas satu-satunya ini.
“biasa aja!” jawab Jaka sedikit heran dengan adeknya, Sakinah, yang terlihat begitu out of fire.
Sakinah melongo tak percaya. Asli, gak abis pikir dengan tanggapan mas-nya mengenai prestasi yang cukup hebat di mata Sakinah. Secara, seluruh teman mas-nya yang daftar di Universitas negeri, hanya mas-nya yang diterima. Maklum, sekolahan di desa, yang fasilitasnya jauh dari kata lengkap, agak mencengangkan jika lulusan sekolahnya ada yang lolos beasiswa di Universitas negeri. Jurusannya agak berat lagi “kedokteran” plus pake’ beasiswa penuh. Apalagi tuh namanya kalau bukan hebat? Sedangkan jurusan yang dipilih oleh teman-teman Jaka, passing grade-nya jauh lebih rendah dari yang Jaka pilih.
“yee, mas ini! gak ada syukur-syukurnya jadi orang. Cuek boleh, tapi jangan datar gitu dong, jadi jelek tauk???!!!” Sakinah pasang aksi manyun, tanda dia kesal dengan tanggapan mas-nya yang emang pada dasarnya cuek. Menurut Sakinah, kecuekan mas-nya sudah berada di luar batas kewajaran untuk ukuran manusia.
“apanya yang datar juga? Syukur ya di hati, gak perlu dikasi’ tau ke orang lain” urai Jaka dengan nada yang menurut Sakinah sedatar orangnya
“huuuu,,, tauk!!!” kali ini, Sakinah sudah jengah, mendingan nonton Spongebob Squarepants deh. “berani taruhan, mas Jaka gak bakalan punya teman dekat lebih dari satu di sana, kapok!” gumam Sakinah agak keras sambil berlalu dari kamar Jaka yang penuh dengan komik detective conan, sengaja, biar mas-nya dengar.
“hmmm” Jaka hanya geleng-geleng  kepala mendengar gumaman adeknya. Sama sekali tidak merasa terganggu dengan kutukan Sakinah. “ada-ada saja, gak ada teman gak masalah, yang penting bisa menyelesaikan masalah di kampus. Beres!” lanjut Jaka, masih dengan suara datar. Segera, Jaka kembali fokus pada laptopnya yang full of manga.
**********************************
            “wow! Fer, Liat tuh Jaka! Gantengnya super deh! Rambutnya basah lagi, tambah 5 kg deh gantengnya” Inas, teman sekelas Jaka, yang sedikit agak lebay dan cerewet level 10. Blingsatan dengan penampilan Jaka yang menurutnya cool abis dengan rambut basah yang menyembul dari topi warna birunya. Saking gemesnya, Ferisa yang ada di samping Inas jadi kebanjiran cubitan gemes dari Inas.
            “wew, ganteng 5 kg? terserah deh mau nambah ganteng 1 ton juga gak apa-apa, tapi biasa aja deh, gak pake’ nyubitin tetangga! Sakit bok!” protes Ferisa yang merasa kesakitan dengan serangan cubitan dari Inas sejak Jaka melintas di depan mereka.
            Tahun ini adalah semester kedua Jaka. Seperti biasa, karena nomor induk mahasiswa (NIM) yang berdekatan, Jaka lagi-lagi satu kelompok praktikum dengan Inas dan Ferisa.
“Sudah bon alat belum?” Tanya Jaka pada Inas dan Ferisa sembari memperbaiki kancingan jas lab-nya.
“Sudah, yuk langsung aja kita rangkai alat-alat refluksnya” ajak Ferisa sambil menggaet tangan Inas yang masih berada dalam ketakjuban akan kegantengan jaka.
Dalam praktikum ini, tak banyak yang harus dilakukan. Hanya saja, butuh waktu menunggu yang lama untuk proses refluks. Maklum, semester yang bisa dibilang awal gini, mereka masih dibebani dengan praktikum-praktikum dasar, kimia. Untuk mengisi kekosongan waktu, Inas berinisiasi untuk mengorek keterangan lebih dalam lagi tentang Jaka, yang menurut dia, adalah teman laki-laki paling ganteng seumur hidup.
“eih Jak, ngomong-ngomong sudah punya pacar belum?” Inas memulai aksinya dengan mata melirik Ferisa yang berada sekitar 3 m dari tempatnya, yang diliriki Cuma senyum-senyum saja, sudah faham kalau Inas emang suka nekat. Apalagi urusan cowok. Maknyus top di depan.
“ya belum lah!” jawab Jaka sinis, sedangkan wajahnya masih mengarah ke komik manga yang ada di laptopnya.
Masalah sinis disinisi atau dicuekin, Inas sudah cukup kebal. Ini bukan pertamakalinya Inas disinisin sama Jaka. Lagian, kapan sih Jaka tidak cuek? Bukan Jaka Hendari namanya kalau tidak cuek. Merasa semua berjalan normal, Inas melanjutkan pertanyaannya lebih dalam
“emang perempuan seperti apa yang kamu sukai Jak?” kali ini, Inas semakin memperlembut suaranya, senyumannyapun dibuat seramah dan setulus mungkin. Berharap Jaka akan terpesona. Jaka sendiri sama sekali tak peduli, sepertinya manga kelihatan lebih manis di mata Jaka dibandingkan senyum Inas yang bibirnya penuh dengan lipgloss  warna pink pucat.
Jaka menoleh ke Inas dengan kernyitan di dahi, “yang jelas tidak seperti kamu! Berisik!”
Alamaaaaaaaaaak!!!!!!
Okeh, kali ini Inas emosi. Disinisin boleh, masih bisa tahan. Tapi tidak untuk melecahkan dirinya seperti ini.
“ngelamak! Kurang ajar kamu Jak!” suara Inas semakin meninggi. “kayak orang ganteng sedunia saja! Awas ya, istrinya kayak apa nanti!!! Inas menggerutu kesal, lalu meninggalkan Jaka dengan ekspresi superdongkol yang disambut dengan prihatin oleh Ferisa.
“sabar Nas…”ujar Ferisa
“nyesekin ati tau gak Fer? Biar kata dia ganteng, kalau gak aturan gini ngomongnya ya jadi ilang dimakan orang Bangladesh gantengnya!” Inas ngomel-ngomel pelan. Dia sudah mendapat peringatan dari asisten untuk tidak ramai dalam lab.
            “iyo wez abis dimakan orang Bangladesh. Wez gak usah dipikirin! Mending bantuin aku nyari MSDS metanol buat laporan kita nanti” Ferisa mencoba mengalihkan perhatian Inas.
            “iyo yo? Ndang, apa keywordnya?” balas Inas seperti sudah lupa dengan kekesalannya tadi.
            Sesekali, Ferisa menoleh kea rah Jaka. Seperti dugaannya, Jaka sama sekali tidak peduli dengan kemarahan Inas yang disebabkan oleh dia. Lalu, Ferisa mengirimkan pesan via sms ke Jaka.
            “silahkan cuek sesukamu. Tapi tlg, klo tdk tau cara berbicara dengan “manusia”, mending diam saja”
            Nada pesan hape Jaka berbunyi. Jaka langsung membaca pesan dari Ferisa. Tanpa perlu merasa harus membalas pesan tersebut, dia kembali fokus meneruskan bacaan komik manga di laptopnya.
            “Dasar perempuan” gumamnya tak peduli
            Melihat ekspresi Jaka yang berjarak 3 m dari tempatnya, Ferisa angkat tangan!
            “Buh anak ini memang tidak bisa diajak berteman. Semoga aja lain kali sistem pengelompokan kelompok praktikum diubah” ucap Ferisa penuh harap agar semester depan tak lagi sekelompok dengan Jaka
            Mendengar itu, Jaka hanya tersenyum ngece. Bikin Ferisa semakin muak
*************************************
            Tiga hari lagi, deadline pengumpulan laporan praktikum kimia dasar. Ferisa mulai gelisah karena Jaka tak juga mengajaknya mengerjakan laporan. Sedangkan data hasil praktikumnya disimpan oleh Jaka. Kalau Inas sih, nggak peduli, yang penting pas hari H, tuh laporan sudah siap. Inas faham betul, Jaka sudah pasti mengerjakan. Jadi dia gak perlu repot-repot mikir.
            “eh Jak! Kapan mau mengerjakan laporan praktikum kita?” akhirnya Ferisa bertemu dengan Jaka di teras kampus.
            “sudah aku kerjakan!”
            “lho? Kapan? Kok ngajak-ngajak aku?” protes Ferisa
            “ngapain ngajak kamu?!” Tanya Jaka tanpa dosa
            “Heh ngawur! Aku kan juga kelompok praktikum!”
            “sudah deh, yang penting sudah selesai!”
            “Kamu ini seenaknya ya Jak! Aku juga ingin tau!”
            “Ya tinggal kamu baca tuh laporan yang sudah aku garap!”
            “bukan masalah itunya! Kamu ngerti nggak sih artinya kelompok?!”
            “gini ya Fer, aku gak seneng ngerjain laporan secara berkelompok. Kalau aku yang ngerjain, ya biar aku sendiri. Kalian gak usah ikut-ikut. Kalau kalian yang mau ngerjakan, berarti aku yang gak ikut-ikut” urai Jaka
            “asli bikin jengah! Sok pintar!” maki Ferisa. “besok kita ngerjakan sendiri-sendiri. Biar aku berkelompok dengan Inas, laporan yang kamu bikin, cukup tulis saja namamu! Gak sudi aku berdekatan nama dengan kamu!” Ferisa semakin menjadi memaki Jaka. Ini nih alasan Ferisa gak suka berbicara langsung sama Jaka. Bisa langsung emosi.
            Jaka memerhatikan sikap Ferisa, lalu berkata “terserah kamu dah, yang penting aku dapat nilai bagus. Yang lain bukan masalah”
            Gedubrak!
            Merasa sia-sia, Ferisa ngacir, dan berjanji tidak akan pernah menganggapnya sebagai anggota tim. Bahkan tidak untuk sekedar istilah “teman”.
**********************************
Tahun ini sepertinya akan menjadi tahun terakhir buat Jaka dan teman seangkatannya menyandang status mahasiswa S1 kedokteran. Mereka pada sibuk menyiapkan seminar proposal yang merupakan salah satu prosedur untuk menyelesaikan tugas akhir. Dalam seminar proposal ada aturan yang harus dipenuhi. Jika  tidak, maka seminar proposal tugas akhir tidak bisa dimulai. Salah satunya adalah jumlah peserta minimal 10 orang.
“kamu kapan semprop (seminar proposal) nir?” Tanya Inas pada Nirka yang kelihatannya sibuk sama map-map penilaian semprop yang harus diserahkan kepada dosen-dosen yang bertugas
“besok jam 1 siang say, di lantai 3. Datang ya?” jawab Nirka agak cepat karena terburu-buru mau ngejar dosen pembimbingnya
“InsyaAllah, semangat Nir!”
“Sip!!” Nirka mulai menuju dosen pembimbingnya
“oh iya Fer, Jaka kapan ya sempropnya?” Inas mengalihkan perhatiaanya pada Ferisa yang juga sibuk mengurusi revisi-an proposalnya kemaren.
“gak tau naz, Tanya aja langsung ke orangnya” jawab Ferisa sekenanya
“Fer, Jaka nih gak pernah datang pas kita semprop, nah kalau dia semprop terus siapa yang mau datang? Aku ogah!”
“aku juga!”
“Aku apalagi, ogah kuadrat! Sadis bin ngeselin gitu orangnya!” Lina ikutan nimbrung
“iya ya, gak ngurus dia teman kita atau bukan, toh selama ini, dia gak pernah nganggap kita teman. Ngerasa pintar sendiri, sekarang ya biarin dia menyelesaikan masalahnya dengan kepintarannya sendiri! Sepintar apapun, kalau gak ada peserta, jangan harap bakalan bisa semprop! Gak lulus gak lulus bah gak ngurus!” Miranti yang sedari tadi diam mendengarkan, juga ikutan ngomel dengan semangat membara.
Ferisa mengerjabkan kedua matanya, “bagus deh kalo berpikiran sama, biar tau rasa dia!” ujar Ferisa sinis sambil mengingat sudah berkali-kali Jaka membuatnya jengkel.
*********************************************
Hari ini Jaka semprop jam 8 pagi di ruang 1 lantai 3. Para dosen pembimbing dan pengujinya sudah lengkap di kelas. Namun, semprop tidak bisa dimulai, karena peserta yang hadir Cuma 2 orang, adek kelas Jaka yang kebetulan sedang gak ada jadwal kuliah. Sudah lebih dari satu jam dosen-dosen tersebut menunggu di ruang semprop.
“teman-temanmu mana Jaka?” Tanya Pak Wira selaku dosen pembimbing
“ummm,, gak ada pak” Jaka mulai khawatir
“tidak kamu kasi’ tau tah?”
“umm,, nggak pak, saya pikir bakalan ada banyak adek kelas hari ini yang tidak kuliah”
“gimana sih kamu ini, jam 8-an gini ya pasti sedikitlah yang kuliah. Seharusnya kamu sudah woro-woro ke temanmu dari kemaren-kemarennya. Kayak gak punya teman aja kamu??!!” pak Wira keheranan dengan sikap Jaka
“kita tunda saja ya pak sempropnya, sebentar lagi saya mau ngajar” kata buk Indri sang penguji 1
“saya juga ada rapat dengan dekanat pak” kata pak Imron yang merupakan pembimbing 2 sekaligus ketua jurusan.
Jaka ketar ketir, bukan, bukan karena akan ditunda, tapi lebih dari itu..
Kayak gak punya teman aja kamu, kata-kata pak Wira terngiang-ngiang di benaknya.
“Jaka, sempropmu kita tunda! Jadwal selanjutnya menyusul. Besok-besok jangan sampai hal ini terjadi lagi” pak Wira mengingatkan dengan intonasi yang cukup tegas.
“iya pak, mohon maaf” Jaka merasa tidak enak dan malu. “hufth, jadi tidak ada satupun yang peduli padaku?” tanyanya pada dirinya sendiri. “sakinah, dugaanmu benar. Tidak ada yang mau berteman dengan mas-mu ini. Jadi aku memang buruk ya selama ini di mata kalian? hufft” katanya, sekali lagi Jaka berbicara sendiri.




           

Aku Kembali, Karang



Haruskah aku ke jepang untuk menjadi pantas berada di sampingmu, karang? Bagaimana caranya? Bahkan aku tak punya sesuatu apapun di tanganku
Kakaaaaaaaaaaaaaaaaak….! Lihat ombak itu!!! Teriak sagita yang sedang berlari menuju tepi pantai, tempatku berdiri menatap senja. Ku tangkap dia, ku gendong agar tinggi kita menjadi sama. Angin asin lautan menyapa wajah kami. Ah senangnya berdiri di tepi pantai pada sore hari.
Sagita, mau berjanji sesuatu pada kakak? Tanyaku.
Berjanji apa kak?
Berjanji mendo’akan kakak bisa pergi ke jepang
Jepang itu di mana? Jauh mana sama rumah mas karang di Jogjakarta?
Jepang itu ada di belakang batu besar, nah di sana!
Di tengah laut? Ombaknya besar kak, kakak tidak takut?
Selama sagita mendo’akan kakak, maka InsyaAllah kakak tidak akan takut.
Janji! Begitu kata sagita, dan kami tutup sore ini dengan senyuman indah penuh keberanian dan kepercayaan.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Ohayo sensei..
Ohayo Maharani..
I have read your paper about TiO2 nanotube (TNT), and I have some questions for you. All of them are written here. Please finish it till tomorrow, then you can go to study Japanese. Good luck Ran san.
Haik, Arigato gozaimasu sensei.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Sori mas Pram! Tadi aku masih ada urusan dengan prof-ku, masih mengerjakan soal-soal untuk besok, sedikit tersesat juga sih, hehe, kataku dengan nafas tersengal-sengal setelah berlari dari kampus.
Tidak apa-apa, bagaimana hari pertamamu di kampus? Lancar? Tanyanya dengan senyuman yang teduh. Mas pram adalah seniorku yang membantuku masuk ke Universitas Tokyo. Dia super jenius, dan sekarang sudah menjabat sebagai asisten dosen energi nuklir.
InsyaAllah, balasku dengan senyuman pula.
Ran, Ini pohon sakura. Pohon yang sering kau sebut-sebut di facebook, pohon yang kau idam-idamkan. Nih sekarang ada di depan mata. Indah bukan?
Wuah,, heh, jadi beneran ini pohon sakura?!! Tanyaku tak percaya. Kuputar mataku ke segala arah, aku berada di suatu jalan kecil beraspal, 15 meter ke kanan jalan ada sungai yang berkilau akibat pantulan dari cahaya matahari sore, sedangkan 5 meter dari kakiku berjejer pohon-pohon sakura yang bunganya mulai berguguran. Persis seperti jalanan yang pernah dilalui Mouri-Ran dan Kudou Shinichi setiap pulang sekolah dari SMU Teitan dalam film Detective Conan.
Terimakasih mas pram, ucapku tulus.
Aku sering ke sini saat hati dan pikiran sedang jenuh. Air di sungai itu cukup segar untuk membasuh wajah yang kusut setelah seharian di depan komputer. Nah Ran, Kenapa kau tergila-gila sama Jepang setelah kau bilang bosan kuliah? Tentunya bukan karena pohon-pohon sakura ini kan? Oh atau jangan-jangan kau sengaja mengejarku ke sini?
“Ah itu…. “ jadi teringat 8 bulan yang lalu, percakapanku dengan siluet senja dan adekku Sagita di pantai dekat rumahku, menanamkan azam untuk ke jepang agar menjadi pantas untuk seseorang, seseorang yang akan aku nikahi.
Ah itu.. hahaha pikiran orang mungkin saja berubah kan mas? Mungkin memang takdirnya begini, jadi bisa ketemu mas pram yang jenius deh, jawabku ngasal.
So deska?
Ran, aku masih inget saat kita pertamakali bertemu di kimia, kau bertanya padaku ruang lab kimia? Dengan ketidaktahuanmu kau ngotot pokoknya lab kimia, padahal lab kimia ada 5 dengan bidang yang berbeda. Rupanya yang kau cari adalah lab kimia dasar. Saat ku jelaskan berkali-kali baru kau mengerti dan meminta maaf sekaligus terimakasih padaku. Saat itu aku berpikir kau adalah orang dengan temperamen yang cukup buruk. Melihatmu ngotot dengan kerutan di dahimu membuatku ingin tertawa. Sejak itu aku selalu memperhatikanmu. Rupanya penilainku benar tentangmu, hanya saja aku tidak pernah berhasil membaca jalan pikiranmu. Kau selalu berubah.
Umm,, itu karena aku tipikal orang yang dinamis mas seperti elektron! Heehe
Yup maybe. Melihat kau sekarang ada di depanku, di bumi Jepang membuatku sedikit berpikir bahwa ini adalah takdir.
Maksudnya?
Baaaka! Untuk membuatmu mengerti selalu harus dijelaskan berulang-ulang. Aku mencintaimu stupid.
Deg! Aku mencintai orang lain dan aku akan menikahinya. Jawabku lirih. Sayonara!
Aku pergi meninggalkan mas pram tanpa melihat wajahnya yang mungkin sedang terlihat kaget. Aku tidak mau melihatnya. Tidak tega.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Bulan malam ini begitu indah, membawa pikiranku pada karang, calon suamiku. Karang, seorang laki-laki dengan segudang prestasi dan akhlak yang menawan. Dia melamarku di pertengahan bulan rabiul awwal, saat bulan dalam bentuk bulat penuh, dan berencana menikah pada awal bulan 2013. Tapi aku menundanya, karena aku harus kuliah lagi di Jepang. Ah karang, hanya saja jika aku tak memiliki pikiran serumit ini, mungkin kita sudah menikah. Masih teringat saat sehari sebelum berangkat ke Jepang dia menemuiku.
Jadi kita akan menunda pernikahan kita? Tanyanya tegas
Iya.
2 tahun bukan waktu yang sebentar Ran. Kenapa harus ke sana?
Aku hanya ingin terlihat pantas untukmu di mata orang lain.
Apa yang membuatmu berpikir kau tidak pantas untukku di mata orang lain? Kenapa harus peduli pada mereka? Aku memilihmu, InsyaAllah karena alasan yang syar’i.
Aku mengerti, tapi itu juga penting untukku. Setidaknya kalau aku kuliah di Jepang, orang tidak akan meremehkanku dan akan memberi penilaian yang baik padamu, bahwa kau telah memilih orang yang sekufu’ denganmu, sekufu’ secara agama, juga secara lahir.
            Kalau begitu terserah kau sajalah. Jika kau berubah pikiran, kembalilah segera Ran.
Ku buka laptop di kamarku yang sempit dengan secangkir coklat hangat yang kuperoleh dari teman sekamarku. Ku sambungkan laptopku dengan internet untuk mengirim pesan pada karang.
Assalamu’alaikum, Karang, haruskah aku pulang sekarang? Aku lebih suka menikah dan berada di sampingmu dibandingkan mengejar hal yang hanya memberatkanku saja. Sungguh tak pantas aku memintamu menunggu dalam waktu yang begitu lama. Maafkan aku karang. Bismillah aku akan kembali kepadamu segera. Kita menikah. Semoga aku memang pantas untukmu.
Message sent to Karang15@yahoo.co.id
Umm, good bye Japan. Good by Sakura. Good by mas pram.

Dialogue



“Aku juga tidak ingin selamanya begini, Karang. Namun,  tak bisakah kau anggap ini sebagai usaha normal manusia atas keinginannya?”
******
Lagi, kakiku menyentuh pasir di tepi pantai dekat rumahku. Ntah, aku adalah orang yang gigih atau sebenarnya tidak tau malu. Mencintai seseorang sekeras karang, yang bahkan sedetikpun tak mau menoleh ke arahku.
“Karang, bagaimana kabarmu hari ini? Semoga tetap kuat. Karang, aku tadi bertemu dengan orang gila di jalan raya. Ku pikir dia mengejarku, aku lari sekencang yang aku bisa. Lalu, ku berhenti karena sepertinya tidak ada orang di belakangku. Ku menoleh ke belakang, yah ternyata orang gilanya berhenti di samping tong sampah dekat halte bus mencari-cari sesuatu, nasi. Hihihi.. bahkan dengan orang gila aja aku kege-eran”
Lagi, hening. Tak ada tanggapan. Hanya suara ombak yang menyambut sapaanku dan membawanya jauh ke tengah, hingga aku pun tak bisa mendengar perkataanku. Uniknya, bukan hanya sapaanku, bahkan ombak ini juga telah membawa pergi rasaku, tawar. Heh, aku jadi heran, kenapa hatiku jadi tawar, bukankah seharusnya asin sebagaimana ombak laut yang menyapaku? Bahkan gigiku sudah bergeletuk menahan dinginnya rasa tawar ini.
******
Maafkan aku berlian, mungkin perasaanmu sudah membeku atas diamku. Maafkan aku, aku merasa tak harus menjelaskan padamu. Bukankah kau orang yang cukup tegar dan bijak? Hanya saja, kau belum menang atas emosi yang sebenarnya kita sama-sama yakini kesamarannya. Pergilah berlian, aku bukannya keras seperti perkiraanmu. Aku hanya ingin fokus dengan ombak di depan mataku. Aku tidak ingin lengah sedikitpun berlian. Pergilah, aku terlalu sibuk dengan ombak di pantai ini. Bukankah kau juga harus menyambut dan menjamu ombak yang menyapamu setiap sore? Setiap kau datang ke sini, untuk menyapaku. Dan ikhlaskan aku sedikit berbangga dengan kehadiranmu yang tak pernah absen.
******
Karaaaang, gigiku memang sudah bergeletuk. Bahkan kakiku sudah bergetar. Aku akan pulang, dan akan kembali esok sore untuk menyapamu sekali lagi, tidak, menyapamu berkali-kali lagi. Aku tidak peduli, bahkan bukankah kau juga sudah mengerut terkikis oleh asin dan dinginnya ombak? Anggap aku sok tau, selama kau diam, tak ada pilihan lain bagiku selain menarik kesimpulan sendiri walaupun sebenarnya aku sok mengerti makna dari aksi diammu. Aku akan menariknya pada sudut yang paling positif. Karena aku yakin kau tidak sekeras karang yang bergerigit hitam di lautan. Bahkan karang, tak bisakah kau walau sekedar menoleh, menandakan bahwa kau sadar dengan keberadaanku di belakangmu? Oke, tidak apa-apa. Karaaaaaaang! Aku kembali esok sore! Ku anggap kau mendengar! Daaaah!
“Wuuzz.. wuzzz….”
Ah ombak,, terimakasih sudah menjawab kata-kataku yang mungkin kau lebih mengerti daripada orang yang ku ajak bicara. Aku jadi tidak seperti berbicara sendiri. See you tomorrow.
J
******
Aku tidak tau harus berkata “sampai jumpa” atau tidak. Yang jelas berlian, kau adalah orang paling sabar, sabar menghadapi aku. Atas kesabaranmu, semoga menghasilkan kebaikan dan kebaikan. Kalau kau merasa seharusnya tak perlu menyapaku setiap hari, lakukanlah. Karena mungkin, esok dan esoknya lagi, aku akan tetap diam. Kau bisa menggantinya dengan melakukan hal lain yang lebih bermanfaat. Setidaknya, ini untuk kebaikanmu. Terimakasih Berlian.

Bukan Peran Pilihan



Seperti biasa, kamis malam, kami santri putri Darussalam kelas A ada pengajian kitab fathul qarib. Kali ini, pembahasannya ialah mengenai munakahat. Sebagai pembukaannya, ustad Fitroni menjelaskan tentang prosedur halal menuju pernikahan yang suci. Tapi ini tidak akan menjelaskan prosedur tersebut, namun akan berbicara tentang bukan peran pilihan (judulnya memang ini kan? Hihhihii)
OKE, YOSH! Let’s cuap-cuap singkat bermanfaat.
Jadi begini temans-temans, menurut ustad Fitroni, dalam suatu pernikahan antara istri dan suami, sudah ada perannya masing-masing. Peran ini mutlak datangnya dari Allah, bukan pilihan yang bisa disepakati atau tidak oleh kedua belah pihak (istri dan suami). Nah, peran seperti apa yang tidak bisa diutek-utek itu?
“Peran memberi nafkah!”
Pemberian nafkah mutlak dilakukan oleh suami. Suami-lah yang berkewajiban mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sedangkan istri tidak berkewajiban mencari nafkah. Kewajiban istri adalah mematuhi perintah suami, melayani suami dengan baik, menjaga kehormatan diri dan keluarga, dan bersama suami mengurus dan mendidik anak. Itulah yang mutlak dilakukan oleh seorang istri.
Lalu?
Peran tersebut tidak boleh ditukar walau keduanya telah bersepakat. Karena sekali lagi, itu bukan peran pilihan. Misal neh, si yanto (suami) nikah sama yanti (istri), terus keduanya bersepakat yanti mengurusi urusan nafkah, sedangkan si yanto bersih-bersih di rumah. Itu tidak boleh, walaupun kesepakatan tersebut ditandatangani presiden sekalipun, tetap tidak boleh. Tapi, bukan berarti istri tidak boleh bekerja. Istri boleh bekerja jika suami mengijinkan, namun biarpun istri juga bekerja, itu sifatnya hanya membantu suami. Bukan sebagai tulang punggung keluarga. Sekalipun gaji sang istri jauh lebih besar dari gaji suami. Tetap saja yang menjadi tulang punggung keluarga adalah suaminya.
Namun perlu diingat, yang namanya tulang punggung (kerennya, imam), bukan hanya bertanggung jawab pada masalah uang saja. Namun juga bertanggung jawab secara keseluruhan dari keluarga. Suami juga berkewajiban memberi nafkah batin, mendidik istri, dan mendidik anak. Anak dan istri adalah makmum, dan imam-lah yang bertanggung jawab pada makmumnya. Jangan sampai makmum tergelincir pada dosa-dosa, karena imam juga akan dipertanyakan mengenai hal itu.
Okeh, kiranya cukup sampai di sini. Semoga bermanfaat.
Barokallah